Khamis, 12 Mei 2016

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA LEBIH DIDAHULUKAN ATAS JIHAD DAN HIJRAH


BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA LEBIH DIDAHULUKAN ATAS JIHAD DAN HIJRAH
Oleh
Ummu Salamah As-Salafiyyah
Yang saya maksudkan dengan jihad di sini adalah jihad yang berhukum fardhu kifayah. Sedangkan jihad yang fardhu ‘ain, maka tidak ada keharusan adanya keridhaan kedua orang tua akan hal tersebut.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki yang meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.
أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ.
“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih.”
Beliau pun bersabda
فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.
“Maka pada keduanya, hendaklah engkau berjihad (berbakti).’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Di dalam kitab Subulus Salaam (III/78), ash-Shan’ani mengatakan, “Lahiriahnya sama, apakah itu jihad fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah, dan baik merasa keberatan pada kedua orang tuanya atau tidak. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya diharamkan berjihad bagi seorang anak jika dilarang oleh kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dengan syarat keduanya harus muslim, karena berbakti kepada keduanya adalah fardhu ‘ain sementara jihad tersebut adalah fardhu kifayah, tetapi dalam jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, maka lebih didahulukan jihad.
Jika ada yang mengatakan, ‘Berbakti kepada kedua orang tua adalah fardhu ‘ain juga sementara jihad pada saat diwajibkan, maka ia menjadi fardhu ‘ain. Dengan demikian, keduanya berkedudukan sama, lalu di mana letak pendahuluan jihad?’
Dapat saya katakan, ‘Karena kemaslahatannya lebih umum, di mana jihad dimaksudkan untuk menjaga agama sekaligus membela kaum muslimin, sehingga kemaslahatannya bersifat umum, maka yang didahulukan atas yang lainnya dan ia lebih didahulukan atas kemaslahatan penjagaan fisik. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan keagungan berbakti kepada kedua orang tua, dimana ia lebih utama daripada jihad (yang hukumnya fardhu kifayah)”.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki menghampiri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berucap, ‘Aku berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan berjihad dengan mengharapkan pahala dari Allah.’ Beliau bertanya, ‘Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih, bahkan kedua-duanya.’ Maka beliau bersabda.
فَتَبْتَغِي اْلأَجْرَ مِنَ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.
“Berarti engkau menginginkan pahala dari Allah?” Dia menjawab, ‘Ya.’ “
Beliau bersabda:
فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا.
“Kembalilah kepada kedua orang tuamu, lalu pergaulilah mereka dengan baik” [HR. Muslim]
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata.
سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ
“Aku pernah tanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’ ‘Lalu apa lagi?’ Tanyaku. Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Lebih lanjut, kutanyakan, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’” [Muttafaq ‘alaih]
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Ada seseorang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berucap, ‘Aku berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan membiarkan kedua orang tuaku menangis.’ Maka beliau bersabda.
اِرْجِعْ عَلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا.
“Kembalilah kepada keduanya, lalu buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis” [HR. Abu Dawud dengan sanad yang hasan]
MEMINTA IZIN KEPADA KEDUA ORANG TUA DALAM MENUNTUT ILMU
Syaikh Abu ‘Abdirrahman Muqbil bin Hadi al-Wadi’i hafizhahullah Ta’ala mengatakan, “Berhati-hatilah, jangan sampai kedua orang tuamu yang bodoh menghalangimu untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Sebab, sangat banyak sekali dari para orang tua yang hatinya dipenuhi dengan cinta dunia dan berpandangan yang sempit sekali, mereka tidak memikirkan, kecuali masa depan anak di dunia”
Dan dalam kitab Masaa-il Ibnu Hani’ (II/164) dikatakan, ‘Aku pernah mendengar Abu ‘Abdillah -yakni, Ahmad bin Hanbal- ditanya tentang seseorang yang meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk menuntut ilmu hadits dan hal-hal yang bermanfaat baginya, maka dia berkata, ‘Jika menyangkut penuntutan ilmu, maka aku berpendapat tidak ada masalah baginya untuk tidak meminta izin kepada keduanya dalam mencari ilmu dan hal-hal yang bermanfaat baginya.’’
Dan saya tidak menyuruhmu untuk durhaka kepada kedua orang tua dan tidak juga memutuskan silaturahmi dengan keduanya, tetapi saya hanya menguatkan mana yang lebih bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Adapun jika keduanya membutuhkanmu untuk memberi nafkah atau berbakti kepada keduanya, maka tidak boleh meninggalkan keduanya. Hal itu didasarkan pada hadits.
فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْ.
“Dan pada keduanya berjihadlah (berhati-hatilah)”
Selain itu, hafizhahullah Ta’ala juga berkata di dalam kitab Ijaabatus Saa-il ‘alaa Ahammil Masaa-il, hal. 510, sebagai jawaban bagi penanya, dimana dia bertanya, “Saya mempunyai keinginan untuk menuntut ilmu sementara orang tuaku melarangku, lalu apakah saya boleh melanggarnya dan tetap keluar mencari ilmu? Tolong beritahu kami, insya Allah engkau akan mendapatkan pahala.’
Syaikh ‘Abdurrahman hafizhahullah mengatakan, “Engkau memiliki keinginan menuntut ilmu, tetapi orang tuamu melarangmu? Apakah boleh bagimu atau tidak untuk pergi menuntut ilmu sedang orang tuamu melarangmu?
Jika orang tuamu memang membutuhkanmu untuk mencarikan rizki dan menghidupinya sementara dia tidak memiliki siapa-siapa kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, baru kemudian dirimu, maka engkau tidak boleh meninggalkannya sedang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda.
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ.
“Cukuplah seseorang berdosa karena menyia-nyiakan orang yang diberinya makan”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ketika seseorang meminta izin kepada beliau untuk ikut berjihad, lalu beliau berkata kepadanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih.’ Maka beliau bersabda, ‘Maka pada keduanya berjihadlah”
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” [Ath-Thalaaq : 2]
Jika engkau telah bertakwa kepada Allah, mudah-mudahan Allah Ta’ala akan menuntun orang untukmu yang akan mengajarimu atau minimal engkau akan membeli kaset-kaset ilmiah.’”
MEMINTA IZIN KEPADA KEDUA ORANG TUA
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahui ‘anhu, dia berkata, “Aku pernah berada di salah satu majelis kaum Anshar, tiba-tiba Abu Musa datang seolah dia ketakutan seraya berkata, ‘Aku telah meminta izin tiga kali kepada ‘Umar, tetapi dia tidak memberiku izin, lalu aku kembali.’” Maka dia berkata, “Apa yang menghalangimu?” Maka Abu Musa mengatakan, “Aku telah meminta izin tiga kali tetapi dia tidak memberiku izin sehingga aku kembali dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.
إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلاَثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ.
“Jika salah seorang di antara kalian meminta izin tiga kali lalu dia tidak diberi izin, maka hendaklah dia kembali…” [HR. Al-Bukhari]
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:
أَرْسَلَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَاسْتَأْذَنَتْ عَلَيْهِ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ مَعِي فِي مِرْطِي فَأَذِنَ لَهَا فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَزْوَاجَكَ أَرْسَلْنَنِي إِلَيْكَ يَسْأَلْنَكَ الْعَدْلَ فِي ابْنَةِ أَبِي قُحَافَةَ…
“Isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Fathimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia meminta izin kepada beliau yang ketika itu tengah berbaring bersamaku di atas kainku dari kulit domba. Lalu beliau memberikan izin kepadanya. Maka Fathimah berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteri-isterimu telah mengutusku kepadamu untuk meminta keadilan mengenai puteri Abu Quhafah (‘Aisyah).” …Dan hadits yang panjang ini telah diketengahkan.
Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam kitab al-Adabul Mufrad (no. 1060), ia berkata, Adam memberitahu kami, ia berkata, Syu’bah memberitahu kami dari Abu Ishaq, dia berkata, ‘Aku pernah mendengar Muslim bin Nadzir berkata, Ada seseorang yang bertanya kepada Hudzaifah seraya berkata, “Apakah aku harus minta izin kepada ibuku?” Dia menjawab, “Jika engkau tidak minta izin kepadanya, maka engkau akan melihat suatu hal yang tidak engkau sukai.” Atsar ini hasan.
Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam kitab al-Adab al-Mufrad (no. 1059), ia berkata: Muhammad bin Yusuf memberitahu kami, dia berkata, Sufyan memberitahu kami dari al-A’masy dari Ibrahim dari Alqamah, dia berkata, Ada seseorang datang kepada ‘Abdullah seraya bertanya, “Apakah aku harus minta izin kepada ibuku?” Dia menjawab, “Tidak pada setiap hal dari diri ibumu, engkau ingin melihatnya.” Atsar ini shahih.

Ahad, 27 Mac 2016

Persoalan Umum Assalamualaikum Ustaz...adakah dosa syirik khofi itu sama seperti dosa syirik jali?sekiranya sama, confirmlah tidak diampunkan Allah...sebab dalam AlQuran Allah dah bgtau yang dosa syirik tidak akan diampunkan...dan adakah terkeluar dari Islam sekiranya seseorang itu melakukan syirik khofi atau jali?

Persoalan Umum



Assalamualaikum Ustaz...adakah dosa syirik khofi itu sama seperti dosa syirik jali?sekiranya sama, confirmlah tidak diampunkan Allah...sebab dalam AlQuran Allah dah bgtau yang dosa syirik tidak akan diampunkan...dan adakah terkeluar dari Islam sekiranya seseorang itu melakukan syirik khofi atau jali?mohon penjelasan daripada Ustaz....syukron


Pencerahan



berbeza

syirik kecil itu TIDAK BERMAKNA BINASA AKIDAH

Contoh

Seorang suami takut
pada isterinya yang GARANG


itu
BERDOSA ATAU SYIRIK KECIL

SEKADAR HARAM
TIDAK MEMBINASAKAN AKIDAH

Syirik BESAR @ NYATA

Contoh

Kucing tu pandai menjilat anaknya yang baru lahir itu kerana SEMULA JADI, BUKAN Allah yang MENGAJAR kucing tu.


Itu contoh yang
BINASA AKIDAH


WAJIB MENGUCAP DUA KALIMAH SYAHADAT

Wallohua'lam

Ada yang kata HATI TAK MAMPU MENGINGAT ALLAH. Ada yang kata HATI BOLEH MENGINGAT ALLAH. Mana satu yang betul?

Persoalan Umum

Ada yang kata HATI TAK MAMPU MENGINGAT ALLAH. Ada yang kata HATI BOLEH MENGINGAT ALLAH.
Mana satu yang betul?

PENCERAHAN



HATI MENGINGAT ALLAH?

Nak bagi JELAS kena faham beza 3 hukum. Yang jadi CELARU tu sebab TAK MAHIR 3 HUKUM

1) Hati TIDAK MAMPU mengingat Allah betul pada jalan hukum akal

Kenapa pada jalan hukum akal?

Kerana PADA AKAL

semua yang kita lihat
semua yang kita fikir
semua yang kita nampak
semua yang kita ingat itu

ADALAH MAKHLUK.


2) Hati MAMPU MENGINGAT ALLAH pun BETUL tapi pada jalan SYARAK

PADA SYARAK
Allah yg suruh INGAT DIA
Jika TAK BOLEH INGAT ALLAH mustahil Allah suruh INGAT ALLAH

Buktinya perintah Allah supaya mengingat Allah ialah


لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Ertinya

............

Dan Allah perintahkan supaya kamu beringat-ingat terhadap kekuasaan diriNya. Dan kepada Allah jualah tempat kembali.
(ali Imran :28)

Itulah BUKTI Allah suruh INGAT akan DIA

Antara hukum akal dan hukum syarak mana yang kebih KUAT?


Kita sudah CERAHKAN oada Soalan 71, YG WAJIB KITA IKUT ADALAH YG PALING KUAT IAITU HUKUM SYARAK BUKANNYA HUKUM AKAL BUKANNYA HUKUM ADAT.


Oleh sebab itu yg menjadi PEGANGAN KITA ADALAH

HATI MANUSIA BOLEH @ MAMPU MENGINGAT ALLAH


JANGAN KITA KATA "
HATI TIDAK BOLEH MENGINGAT ALLAH" kerana perkataan itu BERCANGGAH dgn Al Quran dan boleh BINASA AKIDAH

Wallohua'lam

Ahad, 20 Mac 2016

EMPAT TINGKATAN MANUSIA Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

EMPAT TINGKATAN MANUSIA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu mengatakan:

"Terdapat empat jenis manusia:

Pertama, manusia yang tak berlidah dan tak berhati. Mereka adalah manusia biasa, bodoh, dan hina. Mereka ini tak pernah ingat kepada Allah. Tak ada kebaikan dalam diri mereka. Mereka ini bagai sekam yang tak berbenih, dimana Allah tak mengasihi mereka, membimbing hati mereka kepada keimanan pada-Nya.

Kerana itu, waspadalah jangan menjadi seperti mereka. Ini adalah manusia-manusia sengsara dan dimurkai oleh Allah. Mereka adalah penghuni neraka. Mari berlindung kepada Allah dari mereka.

Hiasilah dirimu dengan makrifat. Jadilah guru kebenaran, pembimbing ke jalan agama, menjadi pemimpin dan penyeru agama. Ingatlah, kau harus mengajak mereka taat kepada Allah dan memperingatkan mereka akan dosa.

Kedua, manusia berlidah, tapi tak berhati. Mereka berkata bijak, tapi tak berbuat bijak. Mereka menyeru orang kepada Allah SWT, tapi mereka sendiri menjauh dari-Nya. Mereka jijik terhadap noda orang lain, tapi mereka sendiri tenggelam dalam lautan noda.

Kerana itu, menjauhlah dari mereka agar kau tak terseret oleh manisnya lidah mereka, yang kelak api dosanya membakarmu, lalu kebusukan hatinya akan membinasakanmu.

Ketiga, manusia berhati tapi tak berlidah. Mereka adalah Mukmin yang telah diberkahi, diberi pengetahuan tentang noda-noda dirinya, dikurniai hati yang mencerahkan, dan menyedari mudaratnya bergaul dengan manusia, kekejaman dan kekotoran lidah, dan meyakini bahawa keselamatan manusia ada pada sikap diam. Sebagaimana sabda Nabi, "Barangsiapa selalu diam, maka ia memperoleh keselamatan." (HR Ahmad dan At-Tirnidzi).

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya pengabdian kepada Allah terdiri dari sepuluh bahagian, dan yang sembilan bahagian dari itu adalah sikap diam."(HR Ibnu Abi Dunya).

Hunad Ibn As-Sari dalam kitab Az-Zuhud meriwayatkan hadis dari Abu Dzar Al-Ghifari, Rasulullah SAW bersabda, "Belumkah aku beritahukan pada kalian ehwal ibadah paling ringan dan mudah bagi badan? (ia adalah) diam dan berakhlak baik."

Mereka adalah para wali Allah, yang dalam rahsia-Nya tersembunyi, dilindungi, diberkahi dan dirahmati-Nya.

Kerana itu, kau harus mencari, mendekati dan berguru kepada orang-orang mulia ini. Layanilah dan cintailah mereka.

Keempat, manusia yang berlidah dan berhati. Mereka adalah orang-orang yang diundang ke dunia ghaib, yang dibalut pakaian kemuliaan, hal seperti ini yang disebut dalam Hadis, "Barangsiapa yang mengetahui dan bertindak sesuai pengetahuannya dan memberikannya kepada orang lain, maka dia akan diundang ke dunia ghaib dan menjadi mulia." (HR An-Nasa'i).

Mereka ini adalah orang 'alim yang memiliki pengetahuan tentang Allah dan tanda-Nya. Hatinya menjadi penyimpan pengetahuan yang sempurna tentang-Nya, dan Dia menganugerahkan kepadanya rahsia-rahsia yang disembunyikan-Nya dari yang lain. Dia memilihnya, mendekatinya, membimbingnya, memperluas hatinya agar dapat menampung rahsia dan pengetahuan hingga menjadikanya pekerja di jalan-Nya, penyeru hamba-hamba-Nya kepada kebajikan, pengingat akan siksaan perbuatan-perbuatan keji dan menjadi hujjatullah di tengah mereka.

Mereka menjadi pemandu, pembimbing, perantara, seorang siddiq dan saksi Al-Haqq, wakil para nabi, dan pilihan Allah.

Maka, orang semacam ini berada pada puncak tertinggi tingkatan manusia. Tak ada maqam di atas ini, kecuali maqam para Nabi. Adalah kewajipanmu untuk mentaati mereka, dan jangan sekali-kali memusuhinya. Sungguh keselamatan terdapat pada ucapan dan kebersamaan dengan mereka.

-- Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adb as-Suluk wa at-Tawasul ila Manazil al-Muluk


Selasa, 8 Mac 2016

Soalan : Seorang lelaki rajin solat dengan berjemaah tetap dia adalah seorang pengamal dadah ganja tegar bagaimana amalannya ustaz?


Soalan : Seorang lelaki rajin solat dengan berjemaah tetap dia adalah seorang pengamal dadah ganja tegar bagaimana amalannya ustaz?
Jawapan :
Orang yang mengerjakan solat, tetapi kenapa solat yang kerjakannya tidak dapat mencegah daripada perbuatan keji dan mungkar? Sedangkan di dalam al-Quran Allah SAW. menjelaskan bahawa solat itu dapat mencegah seseorang daripada melakukan perbuatan keji dan mungkar.
Seperti mana yang dinyatakan oleh Ibnu A’syur, di dalam kitab Maqasid al-Syariah, bahawa setiap kefarduan yang diwajibkan ke atas setiap mukalaf, manfaatnya kembali kepada pelaksananya. Dalam persoalan solat, Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: “Bacalah serta ikutlah (Wahai Muhammad) akan apa yang diwahyukan kepadamu daripada al-Quran, dan dirikanlah solat (dengan tekun); sesungguhnya solat itu mencegah daripada perbuatan yang keji dan mungkar; dan sesungguhnya mengingati Allah adalah lebih besar (faedahnya dan kesannya); dan (ingatlah) Allah mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Ankabut: 45).
Maksudnya solat dapat mencegah manusia daripada melakukan perkara yang keji dan mungkar. Perkara keji dalam ayat ini apa-apa perbuatan yang boleh mendatangkan kemurkaan Allah SWT. Ini bermakna solat dapat mengubah orang daripada keras hati menjadi lembut hati, daripada bengis menjadi penyayang, daripada malas menjadi rajin, daripada berdusta menjadi jujur , tabiat suka hisab ganja atau rokok kepada meninggalkan perbuatan tersebut dan sebagainya sifat-sifat terpuji yang akan terbentuk dengan solat.
Jika seseorang itu rajin solat dalam masa yang sama tidak berubah daripada sifat negatif kepada lebih positif, dia masih menghisap ganja tegar atau masih menjadi penghisab rokok tegar ini bermakna bukan salah solatnya (cukup rukun dan syatarnya) tetapi yang salah ialah sikap orang yang melakukan solat tersebut.
Jika manusia mengubah hati dan jiwanya, mengubah fikiran dan amalannya dan berazam untuk solat dengan khusyuk dan dia benar-benar menghayati solat yang dikerjakan, bermula dengan wuduk yang sempurna, kemudian bertakbir dengan sempurna, segala gerakan dalam solat seperti berdiri, rukuk, sujud serta menghayati bacaan di dalamnya. Maka ketika inilah solatnya akan menjadi khusyuk dan sekali gus akan merubah tabiat dan akhlak buruk seseorang itu. Maka solat yang berfungsi ini akan menjauhkan dirinya daripada perbuatan keji dan mungkar. Maka perbuatan menghisap ganjar atau rokok akan ditinggalkannya tanpa di paksa.

Wallahua'lam..

Rabu, 2 Mac 2016

BOLEHKAH WANITA MENGHANTAR JENAZAH SUAMI KE KUBUR?

BOLEHKAH WANITA MENGHANTAR JENAZAH SUAMINYA KE KUBUR?

🌿Nota: Rakaman ini dibuat di kelas Dhuha Muslimat bersama Habib Ali Zaenal Abidin Bin Abu Bakar Al-Hamid di Masjid Darul Ehsan, Tmn Tun Abdul Razak, Ampang. Habib membahaskan tafsir ayat surah Al-Baqarah ayat 234-237. Ayat 234 ada kaitan dengan soalan yang ditanyakan, dan disebabkan banyakk berlaku kesilapan dlm hal ini akhir zaman ini.

■Jawapan:
TIDAK BOLEH, !!
khususnya bagi isteri yg suaminya yg meninggal, kerana iddahnya telah bermula, dan isteri tidak blh keluar meninggalkan rumah suami kecuali darurat.

↔Darurat ini bukan mengikut persepsi kita, tapi mengikut apa yg ditetapkan oleh syarak. Antara sebab yg dibenarkan utk meninggalkan rumah suami adalah jika keselamatannya terancam. Sebab2 seperti ingin menziarahi kubur, atau menghadiri majlis ilmu tidaklah termasuk sebab yg darurat.

↪Ibadah mesti mengikut cara yg diatur oleh Allah, bukannya mengikut hawa nafsu. Jadi, kalau ingin suami yg meninggal mendpt redha Allah Ta'ala, isteri tidak boleh keluar drpd rumah suaminya selama 4 bulan 10 hari. Yg beri suami dan yg tak izinkan keluar ialah Allah SWT, jadi kita kena patuhi arahan Allah dan bukan dgr apa masyarakat kata.

■Ambil iktibar drpd kisah Ummu Salamah yg pd asalnya ingin menunjukkan cara ratapan luar biasa ketika suaminya meninggal. Tetapi setelah dilarang oleh Nabi SAW, dia akur dan menurut apa yg diajar Rasulullah ﷺ, dan akhirnya diganjar Allah dgn dia akhirnya diperisterikan oleh lelaki terbaik, iaitu baginda RasuluLlah ﷺ sendiri. Iktibarnya – bilamana mendahulukan Allah, pasti ada ganjaran tak kira sama ada akan diberikan ketika di dunia ataupun disimpan utk akhirat.

■Isteri tidak perlu merasa bersalah dgn anggapan masyarakat yg mungkin mengatakan –“Isterinya tak hantar suaminya ke kuburlah.” Dan isteri juga tak perlu rasa bersalah dan membuat helah seperti isteri ikut tapi duduk dlm kereta saja, atau duduk jauh sikit drpd tmpt dikebumikan. Perasaan bersalah itu perlu diambil kira berdasarkan hukum Allah, dan bukan hukum budaya masyarakat. Jgn takut apa org cakap.

■Pada zaman RasuluLlah ﷺ sudah ada golongan wanita yg nak ikut ke kubur, lalu Nabi ﷺ bertanya kpd mereka, “Kamu nak pergi kubur, adakah kamu pikul jenazah itu? Jawab mereka, “Tidak.” Baginda RasuluLlah ﷺ bertanya lagi, “Adakah kamu akan masuk ke dlm kubur utk menguburkan jenazah?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu Rasulullah ﷺ berkata, “Kamu balik kamu dpt ganjaran, lebih baik drpd kamu ikut dan kamu dapat dosa.”

↔Ini bukan menunjukkan yg agama ini tiada perasaan kpd kaum wanita. Hari ini org akan mengatakan seorg isteri tak penuhi hak suami jika isteri tak hantar jenazah ke kubur. Lama-kelamaan org akan kata tak penuhi hak suami jika tak semua ahli keluarga hadir di kubur. Generasi akan datang pula akan kata tak penuhi hak suami jika tak masuk dlm kubur. Perubahan demi perubahan akan berlaku jika ianya dicipta mengikut akal fikiran manusia atau budaya tempatan yg sumbernya tak tetap. Tapi jika ikut hukum Allah, ia sama saja tak kira di mana berada – Malaysia, Indonesia atau Yaman dll.

■Jika ada yg kata, “Eh awak tak penuhi hak suami awaklah.
Jawab padanya, “Eh, ALlah yg suruh saya tak ikut.” Oleh itu, pastikan apa yg kita buat itu adalah sesuai mengikut apa yg ALlah Ta'ala suruh.

■Jika ikut cakap org kita dpt dosa, tapi ikut cakap Nabi ﷺ, yg tak pernah bercakap kecuali ianya wahyu drpd ALlah Ta'ala, kita akan dpt pahala. Maka, rugi jika seseorg itu ikut cakap org !
Di akhirat nanti bukan kwn itu yg akan membela kita di hadapan ALlah, bahkan dia akan menjauh drpd kita.

■Jika isteri ingin melihat suami buat kali terakhir atau ingin solatkan, bawa jenazah pulang ke rumah seblm dikebumikan. Siapa kata jenazah tak boleh dibawa pulang ke rumah jika telah dimandi (dan disolatkan) di masjid?

■Jika ingin solatkan, baca Quran atau apa saja – buat di rumah agar isteri tak perlu keluar. Kalau boleh mandikan di rumah lebih baik, tapi kalau tak boleh, bawa ke masjid, dan kemudian bawa balik ke rumah. Nak buat tahlil di masjid boleh, tapi isteri buat di rumah saja.

■Isteri tak boleh keluar menunggu suami dimandikan di masjid atau seumpamanya, kerana iddah bermula setelah suami meninggal.

■Perempuan, kalau nak pergi ke kubur, pergi pada hari selain drpd hari pengkembumian. Kecuali, jika satu Kg. itu tiada lelaki, semuanya perempuan. Maka, dlm hal ini – perempuan yg bawa jenazah, yg gali kubur, yg kebumikan, yg uruskan semuanya.

■Perempuan bukan dilarang pergi ke kubur, tapi risau berlaku perkara yg tidak sesuai dgn syarak jika ikut bersama lelaki yg menguruskan jenazah.
Kita pun lihat sendiri byk berlaku, perempuan ahli keluarga duduk di hadapan kubur, dan sekelilingnya semuanya lelaki. Batasan antara lelaki dan perempuan tak lagi diperhatikan. Tambahan pula kalau perempuannya tidak menjaga cara berpakaian yg sopan dan menurut syarak.

■Biarkan org lelaki siap menguruskan. Esok pagi2, baru anak dan ahli keluarga pergi utk bacakan Yasin ke… dan akan dpt baca dlm keadaan tenang dan tak bercampur dgn lelaki.

■Ambil iktibar drpd kisah anak perempuan Nabi Syuaib, yg ketika ingin mengambil air drpd perigi. Walaupun memerlukan, mereka tidak beratur bersama lelaki, tetapi mereka tunggu jauh drpd perigi sehingga lelaki selesai, baru mereka akan ambil air. Sama juga kalau nak ziarah kubur, tunggu org lelaki selesai dulu, pergi keesokan harinya.

■Terdpt byk perbahasan ulama dlm kes isteri yg kematian suami dan perlu keluar bekerja, kerana memang sukar mendapatkan cuti selama 4 bulan 10 hari. Dlm keadaan darurat, seseorg dibenarkan melakukan sesuatu yg haram sekalipun. Dlm hal ini, kalau isteri bekerja, perlu dilihat adakah pekerjaan itu keperluan darurat atau tidak. Kalau dgn dia tidak bekerja, tapi keperluan asasnya dpt dipenuhi, maka itu bukan darurat yg membolehkan dia utk keluar bekerja. Tapi, kalau dgn dia tak bekerja, dia tak blh makan, atau anak2nya tiada yg menanggung, atau keluarga suaminya tidak mampu menanggungnya, walhasil, dia ada sebab yg menyebabkan dia tidak boleh berhenti kerja, tapi sebab dan daruratnya itu perlu diambil kira oleh syarak dan bukan oleh diri sendiri. Jadi, dlm hal ini, dia boleh keluar bekerja tetapi tetap tidak blh meninggalkan tuntutan lain seperti berhias, dan melakukan hanya yg diperlukan sahaja dan keluar dari rumah pergi kerja, dan kemudian pulang ke rumah, dan tidak pula singgah di tmpt2 yg tak berkaitan. Kalau nak pergi kedai, cuma utk keperluan beli makanan dan minuman sahaja.

Wallahu'alam bissawab.
Semoga bermanfaat.

Isnin, 29 Februari 2016

Syubhah Membinasakan Akidah


Syubhah Membinasakan Akidah

Dalam tempoh kehidupan ini, kita tidak dapat lari daripada persoalan halal dan haram kerana segalanya tertakluk kepada penilaian Allah SWT terhadap segala amalan dan perbuatan yang kita lakukan. Sebagai panduan, setiap perkara dari segi hukum halal dan haramnya telah diperjelaskan oleh Allah SWT di dalam al-Quran disamping hadis-hadis Rasulullah SAW menghuraikan lagi persoalan tersebut. Hukum halal dan haram yang mewarnai kehidupan manusia di dunia ini adalah suatu persoalan yang berkaitan dengan kepercayaan dan keimanan kita kepada Allah SWT ianya melibatkan suruhan serta tegahan, galakkan dan amaran.
Allah SWT tidak meninggalkan persoalan asas dan pokok yang melibatkan halal dan haram yang dibicarakan di dalam al-Quran mengenai urusan akidah, ibadah, syariah dan akhlak yang mulia tanpa ada jawapan serta panduan untuk melaksanakannya. Walaubagaimana pun di antara segala perkara yang jelas halal dan haram tersebut, ada perkara-perkara yangsyubhah iaitu perkara yang samar-samar hukumnya di antara yang halal atau haram sebagai ujian untuk orang yang beriman. Justeru, orang mukmin yang benar dan bersifat warak akan meninggalkan perkara-perkarasyubhah ini sebagai lambang kesempurnaan iman kerana dikhuatiri tanpa disedari ianya boleh terjatuh kepada perkara yang haram dan dimurkai Allah SWT.
Terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Nukman bin Basyir r.a katanya: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, (sambil Nukman memegang kedua belah telinganya): “Sesungguhnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itu pun jelas. Manakala di antara kedua-duanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh orang ramai. Oleh itu, sesiapa menjaga dirinya daripada perkara syubhat, maka dia telah bebas (dari kecaman) untuk agamanya dan kehormatannya dan sesiapa yang terjerumus ke dalam syubhat, bererti dia telah terjerumus ke dalam perkara haram.”
Memang tidak dapat dinafikan, tidak semua perkara yang telah Allah SWT dan Rasulullah SAW nyatakan dalam al-Quran dan hadis, jelas dari segi hukumnya sama ada halal ataupun haram. Namun begitu ianya tidak bermakna apabila Allah SWT dan Rasul-Nya tidak mengatakan mengenainya, lantas perkara itu boleh dianggap halal!
Rasulullah SAW telah menjelaskan di dalam hadis di atas bahawa antara halal dan haram, terdapat perkara syubhah. Syubhah merupakan sesuatu perkara atau keadaan yang tidak pasti akan hukumnya. Syubhah juga boleh juga ditakrifkan sebagai perasaan was-was akan sesuatu perkara. Walaupun syubhah bukanlah halal dan tidak juga haram, tetapi ianya tidak bermakna perkara syubhah itu boleh dilakukan sesuka hati.
Pengertian daripada hadis di atas juga jelas menyatakan, syubhah bukanlah perkara yang boleh dipandang ringan ataupun dibuat main-main. Ini adalah kerana Rasulullah SAW menegaskan sesiapa yang menjauhkan perkara syubhat, maka dia telah menyelamatkan agama dan akidahnya serta memelihara kehormatannya. Akan tetapi jika sesiapa mengamalkan amalan syubhah, bermakna ia mengamalkan perkara yang haram dengan membelakang arahan dan perintah Allah SWT malah tidak berhati-hati dalam urusan tersebut. Bukankah itu satu penekanan dan penegasan yang berat?
Di dalam sebuah riwayat yang lain Nabi SAW bersabda:“Barangsiapa yang menjauhi syubhah, telah selamatlah agamanya dan kehormatannya, barangsiapa yang menyertai syubhah, ia seolah telah jatuh dalam yang haram” ( Riwayat Muslim, no 1599, 3/1219)
Ingatan Rasulullah SAW dalam hadis ini membuatkan kita mesti berwaspada dalam setiap tindakan dan perkara yang bakal dilakukan dalam kehidupan seharian. Lebih-lebih lagi apabila segala aktiviti kita melibatkan urusan sesama manusia khususnya golongan yang tidak beriman. Malah mereka langsung tidak mengetahui apa itu halal dan haram yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Seharusnyalah apabila kita meragui sesuatu perkara, hendaklah kita menjauhkan diri daripada melakukan perkara tersebut kerana dikhuatiri akan terjerumus kepada perkara yang haram. Jika kita berhati-hati dan mengambil berat mengenai urusan agama dan perkara yang berkaitan dengan akidah, sudah pasti kita akan dapat menjauhi diri daripada terjebak dengan perkara yang diragui atau syubhah sekaligus menjauhkan diri kita daripada terlibat dengan perkara yang haram dan kemurkaan Allah SWT. Justeru, elakkan diri dariapda perkara-perkara yang syubhat agar kita dapat menjaga diri dan agama serta ahli keluarga daripada terjebak ke dalamnya. Contoh perkara-perkara syubahat adalah seperti berikut :
1. Makanan dan minuman daripada luar negara (walaupun daripada negara Islam) yang tidak ada pegesahan tanda halal oleh negara tersebut atau daripada JAKIM. Di khuatiri makanan tersebut dicemari oleh unsur-unsur haram walaupun sedikit.
2. Makan dan minum di hotel, restoren, cafeteria atau kopitiam yang tidak ada kelulusan JAKIM, kelulusan halal daripada luar negara boleh dipertikaikan sebab tidak ada siapa yang boleh mengesahkan dan pantau kehalalannya.
3. Makanan dan minuman yang dikeluarkan oleh syarikat bukan muslim yang tidak ada kelulusan halal oleh JAKIM atau Jabatan Agama negeri-negeri.
4. Menerima hadiah atau hamper oleh kakitangan kerajaan (yang menguruskan tender atau pembekalan barang-barang) daripada syarikat-syarikat pemborong yang ada kepentingan perniagaan. Di khuatiri ada unsur-unsur rasuah.
5. Apa sahaja samaada pekerjaan, makanan, minuman, perkhidmatan yang mana di situ ada keraguan dan boleh menimbulkan fitnah atau kesangsian ianya boleh dikategorikan sebagai perkara syubahah.
6. Melabur di dalam pelaburan internet yang tidak jelas skimnya dan menyerupai skim cepat kaya. Tidak ada perjanjian dan muamalah yang jelas mengikut sistem Islam.
7. Membeli, menjual, membuat dan menghisab rokok. Sesetengah ulama mengatakan ia haram (dengan huraian yang terkini) manakala yang lain mengatakan makruh. Jabatan Fatwa Perak sebulat suara mengatakan rokok itu haram di sokong oleh Jabatan Agama Islam di Selangor. Walaupun majlis fatwa negeri-negeri tidak 100% mengatakan ia haram, bukankah perbuatan ini syubhat dan menurut hadis di atas dan boleh terjerumus ke dalam perkara yang haram. Ini kerana Rasulullah SAW telah bersabda bahawa mengamalkan perkara syubhat itu merosakkan kehomatan diri sendiri. Marilah kita cuba berhenti beramai-ramai. Memang tidak dapat dinafikan untuk berhenti itu sukar. Tetapi ingat Allah ada berfirman di dalam al-Quran surah al-Talaaq ayat 3 yang bermaksud:“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, nescaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
8. Membeli lembu, kambing atau ayam daripada tuan binatang ternak yang tidak menjaga binatang belaan mereka. Binatang tersebut dilepaskan dengan bebas. Kita khuatir binatang tersebut telah memakan tanaman orang lain dan tuannya membiarkannya saja. Oleh itu binatang seperti ini termasuk di dalam perkara syubahat. Belilah binatang-binatang ternak yang jelas makanannya daripada sumber yang halal.
Marilah sama-sama kita jauhkan diri kita daripada perkara-perkara yang haram samaada makanan, minuman, perbuatan dan pertuturan. Kita juga perlu jauhkan diri kita daripada perkara-perkara syubahat yang tidak jelas halal dan haram semata-mata untuk menjaga agama dan akidah agar tidak tergelincir kepada perkara yang dimurkai oleh Allah SWT.
Oleh itu, sesiapa yang menjaga dirinya daripada melakukan perkara syubhat, bererti dia telah bebas (dari kecaman) untuk akidah dan kehormatannya. Manakala sesiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, bererti dia telah terdedah untuk terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar kawasan larangan, maka kemungkinan besar binatangnya akan memasuki kawasan tersebut. Sabda Rasulullah SAW:
“Ingatlah! Sesungguhnya setiap penguasa (kerajaan), memiliki daerah terlarang. Ingatlah! Sesungguhnya daerah yang terlarang milik Allah adalah apa saja yang diharamkan-Nya. Ingatlah! Sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan jikalau ia rosak, maka rosaklah seluruh tubuhnya, tidak lain dan tidak bukan itulah yang dikatakan hati.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Wallahu’alam

Jumaat, 26 Februari 2016

Kisah Anak Raja Belajar Mengenal Allah.

Mengenal Allah..

KESUFIAN RAJA MUZAFFAR SHAH

Suatu hari Raja Muzaffar yang masih kanak-kanak bertanya kepada Bondanya tentang ALLAH.

“Bonda… dimana ALLAH dan bolehkah Anakanda melihatNya?”…

“Oh… ALLAH itu di Arasy wahai Anakanda dan Anakanda tidak dapat melihatNya kerana ALLAH berada nun jauh diatas 7 petala langit. Sedangkan langit kedua pun manusia tidak nampak bagaimana hal keadaanNya lantas bagaimana mungkin Anakanda akan dapat melihat ALLAH yang berada di Arasy yang terletak lebih atas dan jauh daripada 7 petala langit?”

“Oh begitu… bagaimana dengan dalilnya Bonda?”

Dalilnya begini… “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah ALLAH Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan… dari Surah Yunus ayat ke 3.” Maka giranglah hati Raja Muzaffar kerana telah mendapat jawapan daripada persoalan yang selama ini sentiasa semak difikirannya. Masa pun berlalu… hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, maka telah remajalah Raja Muzaffar.

Suatu hari Raja Muzaffar diperintahkan Ayahandanya supaya belajar ilmu-ilmu agama dari Syeikh Abdullah selaku Mufti di Negeri Ayahandanya itu. Maka tidak sabar-sabarnya lagi Raja Muzaffar mahu berguru dengan Syeikh Abdullah sementelah pelajaran agama adalah yang paling diminatinya.

Suatu hari sambil duduk-duduk santai dengan Syeikh Abdullah tiba-tiba Raja Muzaffar ditanyai oleh Syeikh Abdullah dengan dua persoalan yang tidak asing baginya.

“Wahai Anakanda Putera Raja… dimana ALLAH dan bolehkah Anakanda Putera Raja melihatNya?”

Sambil tersenyum Raja Muzaffar menjawab sebagaimana yang telah diajarkan Bondanya dahulu… “ALLAH itu di Arasy wahai Syeikh Guru dan Beta tidak boleh melihatNya kerana ALLAH berada nun jauh diatas 7 petala langit.”

Tersenyum kecil Syeikh Abdullah mendengar jawapan muridnya itu dan sejenak selepas menghela nafasnya Syeikh Abdullah lalu bersuara…. “Begini Anakanda Putera Raja… ALLAH itu bukannya makhluk seperti kita lantaran itu ALLAH tidak seperti kita. Apa sahaja hukum yang terjadi pada makhluk tidak berlaku seperti itu atas ALLAH. Oleh itu ALLAH tidak bertempat kerana bertempat itu hukum bagi makhluk.”

“Lantas dimana ALLAH itu wahai Syeikh Guru?”

“ALLAH itu tidak bertempat kerana Dia bersifat qiammuhu binafsihi yang bermaksud ALLAH tidak berhajat pada sesuatu zat lain untuk ditempati. Jika kita mengatakan ALLAH berhajat pada sesuatu zat lain untuk ditempati maka ketika itu kita telah menyerupakan ALLAH dengan keadaan makhluk. Ketahuilah, ALLAH tidak serupa dengan makhluk berdasarkan kepada dalil dari Surah Asy-Syura ayat ke 11 yang bermaksud “Dia tidak menyerupai segala sesuatu.” ALLAH tidak berdiam di Arasy kerana Arasy itu adalah makhluk. Bagaimana mungkin makhluk dapat menanggung Zat ALLAH sedang bukit dihadapan Nabi Musa pun hancur kerana tidak dapat menanggung pentajalian ALLAH.”

Raja Muzaffar mengangguk-anggukkan kepalanya tanda faham.

Kemudian Syeikh Abdullah menambah… “Berkenaan tentang Anakanda Putera Raja tidak boleh melihat ALLAH itu adalah betul namun bukanlah kerana ALLAH itu jauh maka Anakanda Putera Raja tidak boleh melihatNya.”

“Jika bukan begitu lantas bagaimana Syeikh Guru?” Tanya Raja Muzaffar beria-ia ingin tahu.

“Sebenarnya kita tidak dapat melihat ALLAH bukanlah kerana asbab jarak tetapi kerana keterbatasan kemampuan penglihatan mata manusia yang tidak mampu melihat ZatNya. Ini bersesuai dengan firman ALLAH yang bermaksud “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui… dari Surah Al-An’am ayat 103.”
Terdiam Raja Muzaffar mendengar hujah Gurunya itu. Barulah beliau sedar bahawa apa yang menjadi pegangannya selama hari ini adalah salah. Pegangan yang mengatakan bahawa ALLAH itu diArasy dan ALLAH tidak boleh dilihat kerana asbab jarak adalah satu kesilapan.

Huraian daripada Gurunya melalui ilmu Kalam membuatkan Raja Muzaffar begitu kagum dengan kekuasaan akal yang dapat menghuraikan segala-galanya tentang Tuhan. Bermula dari hari tu Raja Muzaffar berpegang dengan hujah gurunya bahawa ALLAH itu tidak bertempat dan manusia tidak boleh melihat ALLAH kerana keterbatasan kemampuan penglihatan mata manusia. Akhirnya dengan berkat ketekunan dan kesungguhan, Raja Muzaffar telah berjaya menguasai ilmu-ilmu ketuhanan menurut peraturan ilmu kalam sebagaimana yang diajarkan oleh Syeikh Abdullah hingga mahir.

Masa terus berjalan dan kini Raja Muzaffar telah dewasa. Oleh kerana begitu minatnya yang mendalam tentang ilmu-ilmu ketuhanan maka beliau meminta izin daripada ayahandanya untuk menperdalamkan lagi ilmu pengetahuannya dengan belajar dari guru-guru yang berada diluar istana sementelah Syeikh Abdullah telah meninggal dunia.

Ayahandanya memberi izin lalu tanpa berlengah Raja Muzaffar menemui sahabat-sahabat sealiran Almarhum Syeikh Gurunya untuk melanjutkan pelajaran. Raja Muzaffar mempunyai sikap yang pelik. Saban hari apabila beliau melalui pekan-pekan kecil untuk sampai ke rumah guru-gurunya, beliau akan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya dengan soalan yang pernah ditanya kepada bondanya iaitu dimana ALLAH dan bolehkah manusia melihatNya?

Bagi sesiapa yang menjawab soalannya itu sebagaimana yang pernah dijawab oleh bondanya maka beliau akan membetulkan kefahaman orang itu dengan hujah Almarhum Gurunya Syeikh Abdullah. Jika orang itu tidak mahu tunduk dengan hujahnya maka orang itu akan dipukulnya sebelum diusir dari negerinya itu.

Begitulah sikap Raja Muzaffar setiap hari sehingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang tua yang sedang bertungkus-lumus menyediakan air minuman untuk diberi minum kepada orang yang lalu-lalang disebuah pekan tanpa mengambil sebarang upah.

Melihat kelakuan pelik orang tua itu lantas Raja Muzaffar mendekatinya. “Hei orang Tua… mengapa kamu tidak mengambil upah atas usahamu itu?” Tanya Raja Muzaffar tegas.

Orang Tua yang sedari tadi begitu khusyuk mengagih-agihkan minumannya itu terkejut dengan pertanyaan Raja Muzaffar lalu meminta Raja Muzaffar memperkenalkan dirinya.

“Siapakah Tuan ini?” Tanya si Tua.

“Beta adalah Putera Raja negeri ini.” Jawab Raja Muzaffar tegas.

“Oh kalau begitu Tuan ini tentu Raja Muzaffar yang terkenal dengan ketinggian ilmu ketuhanan itu. Tapi sayang, Tuan hanya tahu ilmu tentang ALLAH tetapi Tuan sendiri belum mengenal ALLAH. Jika Tuan telah mengenal ALLAH sudah pasti tuan tidak akan bertanya kepada saya soalan Tuan tadi.”

Terkebil-kebil mata Raja Muzaffar mendengar kata-kata si Tua itu. Hatinya terpesona dengan ungkapan ‘mengenal ALLAH’ yang diucapkan orang tua itu.

Lantas beliau bertanya kepada orang tua itu. “Kemudian apa bezanya antara ‘tahu’ dengan ‘kenal’?”

Dengan tenang si Tua itu menjawab… “Ibarat seseorang yang datang kepada Tuan lantas menceritakan kepada Tuan tentang ciri-ciri buah nangka tanpa menunjukkan zat buah nangka, maka ini mertabat ‘tahu’ kerana ianya hanya sekadar maklumat dan orang yang berada pada mertabat ini mungkin akan menyangka bahawa buah cempedak itu adalah nangka kerana ciri-cirinya seakan sama. Berbanding seseorang yang datang kepada Tuan lantas menghulurkan sebiji buah nangka, maka ini mertabat ‘kenal’ kerana zatnya terus dapat ditangkap dengan penglihatan mata dan orang yang berada pada mertabat ini pasti dapat mengenal mana cempedak dan mana nangka dengan tepat.”

Raja Muzaffar mendengar dengan teliti huraian si Tua itu. Diam-diam, hatinya membenarkan apa yang diperkatakan si Tua itu. Kemudian terlintas dihatinya untuk bertanyakan soalan yang lazim ditanyanya kepada orang ramai.

“Kalau begitu wahai orang Tua silalah jawab persoalan Beta ini… dimana ALLAH dan bolehkah manusia melihatNya?”

“ALLAH berada dimana-mana sahaja dan manusia boleh melihatNya.” Jawab si Tua dengan tenang.

Tercengang Raja Muzaffar mendengar jawapan orang tua itu. Seketika kemudian terus saja orang Tua itu dipukulnya sehingga jatuh tersungkur. Melihat orang Tua itu tidak cuba mengelak pukulannya bahkan langsung tidak menunjukkan reaksi takut maka Raja Muzaffar pun lantas bertanya… “Kenapa kamu tidak mengelak pukulan beta wahai orang Tua?”

“Bukankah tadi sudah hamba bilang… Tuan ini hanya orang yang tahu tentang ALLAH tetapi bukannya orang yang benar-benar mengenal ALLAH.”

Terdiam Raja Muzaffar mendengar kata-kata si Tua itu. Kemudian beliau menenangkan dirinya lantas bersegera duduk diatas tanah dihadapan orang Tua itu.

“Baiklah orang Tua… Silalah huraikan jawapan kamu tadi sebab Beta berpegang bahawa ALLAH itu tidak bertempat dan manusia tidak boleh melihat ALLAH.”

“ALLAH itu tidak bertempat adalah menurut pandangan hukum akal sahaja sedang pada hakikatnya tidak begitu.” Ujar orang Tua itu sambil mengesat bucu bibirnya yang berdarah.

Kemudian beliau menyambung… “Bukankah ALLAH itu wujudNya Esa?”

“Benar.” Jawab Raja Muzaffar.

“Jika ALLAH itu wujudNya Esa maka sudah barang tentu tidak ada wujud sesuatu bersertaNya.”

“Benar.” Jawab Raja Muzaffar.

“Lantas bagaimanakah kedudukan wujud alam ini jika ALLAH itu diyakini wujud tanpa ada selain zat yang wujud bersertaNya dengan pandangan mata hati?”

Raja Muzaffar memejamkan matanya rapat-rapat lantas dikerahkan pandangan mata hatinya untuk memahami persoalan yang ditanyai orang Tua itu. Tiba-tiba akalnya dapat menangkap dan memahami hakikat alam ini jika ianya merujuk kepada ruang lingkup keesaan wujud ALLAH. Lantas beliau membuat satu kesimpulan… “Jika dipandang dari sudut Esanya wujud ALLAH maka alam ini tidak lain melainkan diriNya sendiri… Tiba-tiba sahaja perkataan itu terpacul keluar dari bibirnya. Terkebil-kebil matanya apabila mendengar ucapannya sendiri.

Maka lidahnya kelu dan akalnya lumpuh. Terkejut… tergamam… terkedu… “Jadi kalau begitu ketika Tuan memandang alam ini, siapa yang Tuan pandang pada hakikatnya?”

Pantas soalan itu diajukan kepada Raja Muzaffar. “Pada hakikatnya Beta memandang ALLAH…”

“Nah kalau begitu bukankah ALLAH ada berfirman yang bermaksud “Dimana sahaja kamu menghadap, disitulah wajah ALLAH” dari Surah Al-Baqarah ayat ke 115 dan dalam Surah Al-Hadiid ayat ke 3 yang bermaksud “Dialah yang awal, yang akhir, yang zahir dan yang batin.”
Kemudian orang Tua itu bertanya lagi… “Dan sekarang dapat atau tidak Tuan melihat ALLAH ketika ini”

“Ya.. Beta menyaksikan dengan ainul basyirah.”

Perlahan-lahan berjujuran air mata dari bucu mata Raja Muzaffar. Beliau menahan sebak kerana sekarang beliau sudah faham kenapa orang tua itu tidak mengambil upah atas usahanya dan tidak mengelak ketika dipukul. Semuanya kerana yang dipandangnya adalah pentajallian ALLAH. Dalam hati
perlahan-lahan beliau berkata… “Memang benar sesungguhnya pada sudut ini, ALLAH berada dimana-mana sahaja dan manusia boleh melihat ALLAH.”

“Makanya wahai Putera Raja.. inilah yang dinamai sebagai ilmu hakikat.”

Semenjak hari itu, Raja Muzaffar terus mendampingi orang tua itu untuk mempelajari lebih dalam selok-belok ilmu hakikat hingga diangkat beliau oleh gurunya menduduki kedudukan Syeikh ilmu hakikat. Demi memahami ilmu-ilmu hakikat yang halus-halus Raja Muzaffar telah menjadi seorang ahli ibadah yang alim-mualim. Beliau tidak lagi berpegang dengan fahaman Almarhum Gurunya iaitu Syeikh Abdullah kerana baginya jalan yang boleh membuatkan seseorang itu dapat mengenal ALLAH dengan haqqul yaqin ialah dengan ilmu hakikat. Beliau telah mengenepikan duduk didalam peraturan hukum akal sama sekali dan mulai duduk didalam peraturan musyahadah. Bagi beliau, ilmu kalam yang dituntutnya selama ini adalah semata-mata salah.

Setelah kemangkatan Ayahandanya maka Raja Muzaffar ditabalkan menjadi Sultan dinegerinya dan sekarang beliau menyandang gelaran Sultan Muzaffar Shah pada usia 50 tahun.

Beliau memerintah negerinya dengan adil dan saksama namun sikap ganjilnya yang dahulu masih diteruskannya. Dimana sahaja beliau pergi beliau tetap akan bertanyakan soalannya yang lazim itu.

Jika orang yang ditanya tidak dapat menjawab maka akan diajarkan jawabannya menurut ilmu hakikat dan jika orang itu membangkang akan dihukum bunuh.

Akhirnya kelaziman Sultan Muzaffar Shah ini membuatkan seluruh rakyat jelatanya menganut fahaman hakikat. Justeru itu rakyat jelata dinegerinya hidup aman dan makmur.

Suatu petang Sultan Muzaffar Shah yang terkenal sebagai Mursyid ilmu hakikat itu berjalan-jalan disebuah padang rumput yang luas dengan ditemani para pembesar istana.

Pandangannya tertarik pada gelagat seorang pemuda pengembala kambing dalam lingkungan usia 30an yang sedang berusaha menghalau seekor serigala yang cuba memakan kambing gembalaannya.

Baginda mendatangi pemuda gembala itu. Kelihatan pemuda itu hanya memakai pakaian yang diperbuat daripada guni dan tidak mempunyai kasut sebagai alas kaki. Rambutnya kering berdebu, bibirnya kering dan badannya kurus.

“Wahai pemuda… kenapa kamu menghalau serigala itu dari memakan kambing itu, tidakkah kamu menyaksikan hakikat serigala itu? Maka biarkan sahaja ALLAH bertindak menurut kemahuanNya.”

Mendengar kata-kata Sultan Muzaffar Shah itu sekonyong-konyong pemuda gembala itu lantas menggenggam pasir lalu dilemparkannya pasir itu ke muka Sultan Muzaffar Shah. Kemudian pemuda gembala itu membongkok lagi untuk kali kedua mengambil segenggam pasir lalu dilemparkan sekali lagi ke muka Sultan Muzaffar Shah.

Sultan Muzaffar Shah hanya tercegat sahaja mungkin terkejut dengan tindakkan pemuda gembala itu. Pemuda gembala itu terus mahu mengambil segenggam pasir lagi dan melihat itu seorang pembesar istana yang berada disitu terus memukul pemuda gembala itu hingga beliau jatuh pengsan.

Apabila sedar dari pengsan, pemuda gembala itu mendapati tangan dan lehernya telah dipasung dengan pasungan kayu didalam sebuah penjara. Tidak lama kemudian datang dua orang pengawal istana dengan kasar merenggut rantai besi yang terikat dibadannya dan dibawa ke suatu tempat yang amat asing baginya. Tidak lama berjalan akhirnya mereka sampai dihadapan singgahsana Sultan Muzaffar Shah.

“Mengapa kamu melempari muka Beta dengan pasir?” Tenang sahaja pertanyaan Sultan Muzaffar Shah.

“Kerana Tuanku mengatakan bahawa serigala itu adalah ALLAH yakni Tuhan saya.

“Bukankah hakikat serigala itu sememangnya begitu?” Tanya Sultan Muzaffar Shah hairan.

“Nampaknya dakwaan tuanku ini menunjukkan seorang yang mengenal ALLAH adalah kebohongan semata-mata.”

“Kenapa kamu berkata begitu?”

“Sebab orang yang sudah sempurna mengenal ALLAH pasti merindui untuk bertemu menemui ALLAH.”

Setelah 30 tahun baru hari ini hati Sultan Muzaffar Shah terpesona lagi apabila mendengar ungkapan ‘bertemu menemui ALLAH’ yang diucapkan oleh pemuda gembala itu.

Dahulu hatinya pernah terpesona dengan ungkapan ‘mengenal ALLAH’. Sejurus itu juga Sultan Muzaffar Shah memerintahkan agar pasung kayu yang dikenakan pada pemuda gembala itu ditanggalkan.

“Lantas apa utamanya ‘bertemu’ berbanding ‘kenal’?” Tanya Sultan Muzaffar Shah.

“Adakah Tuanku mengenali sifat-sifat Rasulullah?” Tanya pemuda gembala itu tiba-tiba…

“Ya… Beta kenal akan sifat-sifat Rasulullah.”

“Lantas apa keinginan Tuanku terhadap Rasulullah?”

“Semestinyalah Beta mahu dan rindu untuk menemuinya kerana baginda adalah kekasih ALLAH!”

“Nah begitulah… orang yang sempurna pengenalannya terhadap sesuatu pasti terbit rasa ingin bertemu dengan sesuatu yang telah dikenalinya itu dan bukannya hanya sekadar berputar-putar didaerah ‘mengenal’ semata-mata.”

Tiba-tiba sahaja Sultan Muzaffar Shah berteriak kuat dengan menyebut perkataan ‘Allahu Akbaaar…!.!.!’ sekuat-kuat hatinya lalu baginda jatuh pengsan tidak sedar diri. Tidak lama kemudian setelah wajahnya disapukan dengan air sejuk maka baginda kembali sedar.

Sultan Muzaffar Shah terus menangis teresak-esak hingga jubahnya dibasahi dengan air matanya. Baginda memuhassabah dirinya.. “Memang… memang selama ini beta mengenali ALLAH melalui ilmu hakikat tetapi tidak pernah hadir walau sekelumit rasa untuk bertemu denganNya.

Rupa-rupanya ilmu hakikat yang beta pegangi selama ini juga salah sepertimana ilmu bonda dan ilmu Syeikh Abdullah”… bisik hatinya.

Kemudian terlintas difikiran Sultan Muzaffar Shah untuk menanyakan soalan lazimnya kepada pemuda gembala itu.

“Kalau begitu wahai orang muda, silalah jawab persoalan Beta ini… dimana ALLAH?”

Dengan tenang pemuda gembala itu menjawab… “ALLAH berada dimana Dia berada sekarang.”

“Kalau begitu, dimana ALLAH sekarang?

“Sekarang ALLAH berada dimana Dia berada dahulu.”

“Dimana ALLAH berada dahulu dan sekarang?”

“Dahulu dan sekarang Dia berada ditempat yang hanya Dia sahaja yang ketahui.”

“Dimana tempat itu?”

“Didalam pengetahuan ilmu ALLAH.”

Sultan Muzaffar Shah terdiam sebentar sambil keningnya berkerut merenung jawapan yang diberi pemuda gembala itu. Kemudian baginda meneruskan pertanyaannya lagi.

“Bolehkah manusia melihat ALLAH?”

“Kunhi ZatNya tidak boleh dicapai dengan pandangan mata kepala dan pandangan hati.”

“Sila perjelaskan lagi wahai anak muda.” Pinta Sultan Muzaffar Shah.

“Begini Tuanku… adapun jawapan yang diberikan oleh Bonda Tuanku itu diatas dasar soalan lazim yang Tuanku berikan itu adalah sebenarnya betul menurut tahapan akal Tuanku yang ketika itu dinilai masih kanak-kanak.

Adapun jawapan yang diberikan oleh Syeikh Abdullah itujuga betul jika dinilai dari sudut hukum akal… Dan jawapan yang diberikan oleh Syeikh Tua itu juga betul jika dinilai dari sudut pengamalan musyahadah terhadap ilmu hakikat. Begitu jugalah dengan jawapan yang saya berikan juga betul jika dinilai dari sudut ilmu ma’rifat.

Tiada yang salah cuma ilmu itu bertahap-tahap dan tuanku telah pun melalui tahapan-tahapan itu. Dari tahapan jahil (ilmu bonda) ke tahapan awam (ilmu kalam) kemudian ke tahapan khusus (ilmu hakikat) dan akhir sekali ke tahap khawasul khawas (ilmu ma’rifat).”

Kemudian pemuda gembala itu terus menyambung kata-katanya… “Jika ilmu hakikat itu jalan fana kerana menilik kepada Zat ALLAH maka ilmu ma’rifat pula jalan baqa kerana menilik terus kepada Kunhi Zat ALLAH. Maka jawapan bagi persoalan tuanku itu secara yang dapat saya simpulkan ialah Tiada yang tahu dimana ALLAH melainkan ALLAH dan tiada sesiapa yang dapat melihat ALLAH melainkan diriNya sendiri.”

Sultan Muzaffar Shah mengangguk-anggukkan kepalanya tanda faham… “Jadi bagaimana hendak sampai ke tahap mengenal ALLAH dengan sempurna sehingga terbit rasa ingin untuk menemuiNya?”

“Jangan mengenal ALLAH dengan akal sebaliknya mengenal ALLAH dengan ALLAH.”

“Kemudian, apakah cara-caranya untuk dapat bertemu dengan ALLAH?”

“Sebagaimana firman ALLAH yang bermaksud… “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amalan soleh dan janganlah dia mempersekutukan Tuhannya dalam beribadat kepadanya”… dari Surah Al-Kahfi ayat ke 110.
Mendengar penjelasan daripada pemuda gembala itu hati Sultan Muzaffar Shah menjadi tenang dan akhirnya baginda diterima menjadi murid si pemuda gembala itu. Kerana kesungguhan yang luarbiasa dalam mengerti ilmu ma’rifat maka baginda mahsyur terkenal sebagai seorang Sultan yang arifbillah lagi zuhud serta warak.

Kemudian rakyatnya dibiarkan bebas untuk berpegang pada mana-mana fahaman pun asalkan ajarannya masih didalam ruang lingkup yang mengikuti pegangan Ahlussunnah Wal Jamaah.

Dan sekarang pada usia 70 tahun barulah Sultan Muzaffar Shah sedar dan faham bahawa untuk memahami tentang ALLAH maka seseorang itu harus melalui tahapan-tahapan yang tertentu sebelum seseorang itu layak dinobatkan sebagai arifbillah. Baginya samada ilmu kalam, ilmu hakikat atau ilmu ma’rifat maka kesemuanya adalah sama penting untuk dipelajari, difahami, dimengerti bagi mewujudkan kesempurnaan untuk mencapai kedudukan insan kamil yang ma’rifatullah.

Kini Sultan Muzaffar Shah sudah memahami bagaimana rasanya rindu kepada ALLAH dan bagaimana rasanya benar-benar tidak sabar untuk bertemu ALLAH. Sejak semalam mulutnya tidak henti-henti asyik mengucapkan kalimah Ismu Zat Allah..Allah..Allah dan kadang-kadang terlihat deruan air mata jernih mengalir perlahan dipipinya sewaktu dipembaringan.

Perlahan-lahan pemuda gembala menghampiri Sultan Muzaffar Shah yang sejak 20 tahun lalu tinggal bersama dengannya dirumah usangnya lantas meletakkan kepala muridnya itu diribaan silanya dengan linangan air mata. Kini nafasnya mulai tersekat-sekat dan melihat itu, pemuda gembala merapatkan bibirnya ke telinga Sultan Muzaffar Shah lantas mentalqinkan baginda dengan kalimah tauhidan seraya diikuti baginda dengan senyuman. Sejurus kemudian Sultan Muzaffar Shah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Suasana menjadi hening… pemuda gembala menunduk sahaja dan sebentar kemudian dia berkata. “Alangkah beruntungnya dia.. sekarang Tuanku benar-benar telah menemui ALLAH dan dapat mengenalNya dengan sebenar-benar kenal. “Ya… ALLAH masih belum layakkah untuk aku bertemu denganMu, aku mencemburui Sultan Muzaffar Shah ini maka jemputlah aku menghadapMu…”

Sebentar kemudian pemuda gembala itu pun turut rebah dan menghembuskan nafasnya yang terakhir…

Tiba-tiba hujan pun turun seolah-oleh menangisi permergian dua insan yang mulia akhlaknya itu.


Khamis, 19 Jun 2014

Benarkah istilah bapa tangung dosa anak dan isteri?

Kita biasa dengar, seorang lelaki bujang kena tanggung dosa sendiri apabila sudah baligh manakala dosa gadis bujang ditanggung oleh bapanya. manakala lelaki yang berkahwin kena tanggung dosa sendiri, dosa isteri, dosa anak perempuan yang belum berkahwin dan dosa anak lelaki yang belum baligh. Cuma persoalannya, dari manakah datangnya konsep2 tanggung dosa orang lain ni?

Sebenarnya konsep tanggung dosa orang lain ini ada dalam ajaran agama Kristian, di mana mereka percaya bayi yang baru lahir telah pun menanggung dan mewarisi dosa asal atau Original Sin yang dilakukan oleh Nabi Adam a.s., oleh sebab itu setiap bayi yang baru lahir perludibaptis untuk menyucikan mereka dari dosa itu.  

Akan tetapi di dalam Islam, sebenarnya tiada istilah seorang muslim menanggung dosa orang lain.
Kita sering kali salah faham bahawa seorang suami akan menanggung dosa2 isterinya manakala seorang bapa akan menanggung dosa2 anak perempuan yang belum berkahwin dan dosa anak lelaki yang belum baligh.
Yang sebenarnya segala dosa yang dilakukan oleh isteri dan anak-anaknya akan ditanggung oleh mereka sendiri dan tidak dipertanggungjawabkan kepada suami atau orang lain. Suami atau ayah hanya menanggung dosa kecuaiannya sahaja kerana tidak mendidik isteri dan anak-anaknya ke jalan yang benar iaitu Islam.

Ini bermakna kalau isteri atau anak perempuan tidak menutup aurat, merekalah yang akan menanggung dosa itu sendiri. Jika seorang suami atau bapa tahu akan perkara itu akan tetapi membiarkannya sahaja, maka dia berdosa atas kesalahan tidak menegur dan membiarkan sahaja isteri dan anaknya melakukan perkara yang dilarang di sisi agama, tapi bukan dia menanggung dosa isteri dan anak2nya. Kalau suami atau bapa yang menanggung semua dosa isteri dan anaknya, isteri dan anaknya takkan ada dosalah dan bebaslah mereka membuat dosa kerana dosanya ditanggung orang lain.

Akan tetapi kalau seorang suami atau bapa sudah pun menjalankan tanggungjawab mereka dengan menegur, menasihati dan membimbing isteri dan anak2 agar tidak melakukan sebarang perkara yang dilarang seperti membuka aurat dengan tidak memakai tudung dan sebagainya tapi mereka masih degil dan tetap tidak mahu pakai tudung, maka terlepaslah suami/bapa tadi daripada dosa kecuaian sebaliknya isteri/anak tadi bukan sahaja berdosa kerana melanggar perintah Allah s.w.t, malah berdosa kerana engkar terhadap suruhan suami/bapa mereka.

Ini kerana andai kata seorang isteri yang berlaku curang terhadap suami, atau anak perempuan yang berzina dengan teman lelakinya di luar pengetahuan suami atau bapa, mana mungkin dosa2 mereka ditanggung juga oleh si suami dan bapa? Merekalah yang berdosa kerana telah mengkhianati, menderhaka, tidak patuh dan taat malah engkar terhadap kepercayaan suami atau bapanya yang telah mendidik dan menjalankan tugasnya dengan betul. Macam kes guru wanita yang rakam video lucah dengan warga Pakistan ni di luar pengetahuan suaminya yang sedang sakit, takkan dosanya atas perbuatan durjananya terpaksa ditanggung oleh suaminya?

Firman Allah yang bermaksud :


“Katakanlah: "(Sesudah Aku mentauhidkan Allah dan berserah diri kepadaNya) Patutkah Aku mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia lah Tuhan bagi tiap-tiap sesuatu? dan tiadalah (kejahatan) Yang diusahakan oleh tiap-tiap seorang melainkan orang itulah sahaja Yang menanggung dosanya; dan seseorang Yang boleh memikul tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa usahanya sahaja); kemudian kepada Tuhan kamulah tempat kamu kembali, lalu ia menerangkan kepada kamu akan apa Yang kamu berselisihan padanya.” (Al-An’am : 164)

Nabi Nuh dan Nabi Luth a.s juga mempunyai isteri dan anak yang engkar dan derhaka, adakah para Nabi ini menanggung dosa2 mereka walhal para Nabi ini telah berusaha untuk menyeru mereka ke jalan kebenaran tetapi mereka tetap engkar? Firman Allah:

"Allah mengemukakan satu misal perbandingan (yang menyatakan tidak ada manfaatnya) bagi orang-orang kafir (berhubung rapat dengan orang-orang mukmin selagi mereka tidak beriman dengan sebenar-benarnya), iaitu: perihal isteri Nabi Nuh dan isteri Nabi Lut; mereka berdua berada di bawah jagaan dua orang hamba yang soleh dari hamba-hamba Kami (yang sewajibnya mereka berdua taati); dalam pada itu mereka berlaku khianat kepada suami masing-masing; maka kedua-dua suami mereka (yang berpangkat Nabi itu) tidak dapat memberikan sebarang pertolongan kepada mereka dari (azab) Allah, dan (sebaliknya) dikatakan kepada mereka berdua (pada hari pembalasan): "Masuklah kamu berdua ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang masuk (ke situ)" (At-Tahriim : 10)

So bila kita nampak seorang perempuan yang tak pakai tudung atau buat maksiat, tak boleh kita terus hukum suami atau bapanya berdosa dan cakap kesian suami/bapa perempuan tu kena tanggung dosa mereka, kerana: 

Pertama: Kita bukan Tuhan untuk tentukan dosa pahala orang;
Kedua: Kita bukan tahu sama ada suami atau bapa perempuan itu sudah puas menegur dan menasihati mereka tapi mereka tetap degil dan engkar.

Khamis, 12 Jun 2014

KOLEKSI DOA DALAM AL-QURAN (TERJEMAHAN DALAM BAHASA MELAYU)

Doa menurut ayat al-quran

Assalamu’alaikum warahmatullah
semoga pembaca dalam sihat sejahtera serta dalam ketenangan menguruskan kehidupan.
Sesungguhnya, dalam pada kita sibuk dengan kerja harian, tidak lupa untuk saya mengingatkan diri saya untuk berdoa bagi memperoleh keikhlasan niat dan memohon keredhaan Allah dalam kerja harian.
SEMoga bermanfaat!
Doa Mohon Kesejahteraan Dunia Akhirat
Al Baqarah : 201 : Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan diakhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.
Al A’raf :156 : Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan didunia ini dan diakhirat, sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau.
Doa Mohon Ketabahan Hati/Iman Terhadap Diri Sendiri dan Orang Tidak Beriman
Al Baqarah : 250 : Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kukuhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.
Ali Imran : 147 : Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap kamu yang kafir.
Doa Mohon Keringanan Beban dan Ampunan
Al Baqarah : 286 : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya, Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami menanggungnya. Beri kami, ampuni kami dan rahmatilah kami, Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
Doa Mohon Terhindar dari Kesesatan
Ali Imran : 8 : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan limpahkanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, kerana sesungguhnya Engkaulah pemberi (anugerah).
Doa Mohon Ampun & Rahmat, dll.
Ali Imran : 16 : Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari seksa neraka.
Al A’raf : 155 : Ya Tuhanku, ampunilah saya dan saudara saya dan masukkanlah kami kedalam rahmat Engkau, sebab Engkau adalah yang paling Maha Penyayang. Engkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, kerana Engkau adalah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.
Al Mukminun : 109 : Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat yang paling baik.
Al Mukminun : 118 : Ya Tuhanku berilah ampunan dan rahmat, kerana Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik.
Al A’raf : 23 : Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami an meberi rahmat kepada kami, pastilah kami menjadi orang yang merugi.
Al A’raf : 143 : Maha suci Engkau, aku bertaubat dan aku orang yang pertama beriman.
Hud : 47 : Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari permohonan yang aku tiada ketahui (hakikatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, nescaya aku akan menjadi orang yang merugi.
Ibrahim : 41: Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya perhitungan (hari kiamat).
At Tahrim : 8 : Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Nuh : 28 : Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapaku, dan orang yang masuk kerumahku dengan beriman serta semua orang beriman lelaki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu melainkan kebinasaan.
Al Baqarah : 32 : Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Doa Mohon Keturunan, Anak/Isteri/Suami Yang Sihat/Soleh, Bahagia dan Jodoh
Ali Imron :38 : Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar kan doa.
Al A’raf : 189 : Sungguh, jikalau Engkau memberi kami anak yang soleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.
Al Anbiya : 89 : Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik.
Al Furqan : 74 : Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang taqwa.
Ash Shafaat : 100 : Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang tergolong soleh.
Doa Mohon Dimasukkan Golongan Orang Beriman
Ali Imran : 53 : Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul, karena itu masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).
Al Maidah : 83 : Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan Nabi Muhammad SAW).
Doa Mohon Bebas Seksa Api Neraka/Kehinaan, Mohon Ampun dan Husnul Khatimah
Ali Imran : 191-194 : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan (alam) ini sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan kedalam neraka, sungguh telah Engkau hinakan dia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, kami telah mendengar penyeru yang mengajak : Berimanlah kalian kepada Tuhanmu. Maka kami telah beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan wafatkanlah kami bersam orang-orang yang abror (banyak berbakti). Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau jajnikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul Engkau dan janganlah Engkau hinakan kami dihari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.
Al Furqan : 65 : Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.
Doa Mohon Perlindungan dari Orang Zalim dan Mohon Pemimpin Yang Adil
An Nisa : 75 : Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang dholim penduduknya ini, dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.
Yunus : 85-86 : Kepada Allahlah kami bertawakal, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang kafir.
Al Mumtahanah : 4-5 : Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang kafir dan ampunilah kami ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Al Qasas : 21 : Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang zalim itu.
Doa Mohon Tidak Termasuk Orang Zalim
Al A’raf : 47 : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang-orang yang zalim.
Al Mukminun : 93-94: Ya tuhanku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka, Ya Tuhanku maka janganlah Engkau jadikan aku berada diantara orang-orang yang zalim.
Doa Minta Husnul Khatimah
Al A’raf : 126 : Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (Islam).
Yusuf : 101 : Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang soleh.
Doa Mohon Kelapangan Dada
Taha : 25-28 : Ya Tuhanku, lapangkanlah urusanku dan hilangkanlah kekakuan lidahku agar mereka mengerti perkataanku.
Taha : 33-35 : Agar kami dapat bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau, sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui (keadaan kami).
Doa Mohon Tambah Ilmu
Taha : 114 : Ya Tuhan kami, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.
Asy Syu’ara : 83 : Ya Tuhan kami, berilah aku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang soleh.
Doa Dihindar dari Menjadi Golongan Jahil
Al Baqarah ayat 2: Nabi Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah daripada menjadi salah seorang dari golongan Yang jahil (yang melakukan sesuatu Yang tidak patut)”. (2:67)
Doa Mohon Disembuhkan Dari Penyakit
Al Anbiya : 83 : (Ya Tuhanku), aku ini tengah ditimpa malapetaka (penyakit) dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang diantara semua penyayang.
Doa Penyesalan
Al Anbiya : 87 : Bahawa tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.
Doa Mahu Naik Kendaraan
Hud : 41 : Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Penyayang.
Az Zukhruf : 13-14 : Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.
Doa Minta Dipertemukan Dengan Yang Dinanti
Yusuf : 83 : Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku, sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Doa Mohon Keamanan Negara Dan Dijauhkan Dari Syirik
Ibrahim : 35 : Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala.
Al Baqarah : 126 : Ya tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Doa Mohon Rezeki
Ibrahim : 37 : Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan keluargaku dilembah yang tidak ada tanaman apapun didekat rumah Engkau yang dimuliakan. Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan solat, maka jadikanlah hati-hati manusia tertarik kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
Al Qasas : 24 : Ya Tuhanku, sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku.
Doa Mohon Ditetapkan Dalam Ibadah
Ibrahim : 40 : Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang selalu mendirikan solat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Doa Mohon Rahmat Bagi Orang Tua
Al Isra’ : 24 : Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka telah mendidik aku waktu kecil.
Doa Mohon Tempat Yang Baik
Al Isra’ : 80 : Ya Tuhanku, masukkanlah aku pada tempat masuk yang benar (baik) dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik dab berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuatan yang menolong.
Al Mukminun : 29 : Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.
Doa Mohon Kemenangan
Al Anbiya’ : 112 : (Muhammad) berkata: “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil [976]. Dan Tuhan kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan”.
Al A’raf : 89 : Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.
Asy Syuara : 117-118 : Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku.
Az Zumar : 46 : Katakanlah: “Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya.
Doa Mohon Perlindungan Dari Godaan Syaitan
Al Mukminun : 97-98 : Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”
Doa Mohon Nama Baik Setelah Meninggal dan Pewarisnya
Asy Syuara : 83, 84, 85, 87, 88 : (Ibrahim berdo’a): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang soleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (iaitu) di hari harta dan anak-anak lelaki tidak berguna.
Doa Syukur
An Naml : 19 : Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh.
Al Ahqaf : 15 : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
Doa Minta Pertolongan – Doa Nabi Nuh dan Lut
Al Mukminun : 26 : Nuh berdo’a: “Ya Tuhanku, tolonglah aku, sebab mereka mendustakan aku.”
Al Ankabut : 30 : Lut berdo’a: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerosakan itu”.
Mendoakan Orang Mukmin
Al Mukminun : 7-9 : (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘adni yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang soleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”.
Al Hasyir : 10 : Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
Doa Mohon Dibersihkan Dari Orang-Orang Kafir
Nuh : 27 : Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, nescaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.
Doa Mohon Diterima Amal Baik
Al Baqarah : 127 : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Doa Minta Diterima Segala Doa
Maryam : 48 : dan aku (Ibrahim) akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.
Doa Minta Petunjuk
Al Qasas : 22 : Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia (Musa) berdo’a (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”.
Al Kahfi : 10 : Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).
Al Kahfi : 24 : Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.
Doa Ketika Bertemu Musuh dalam Peperangan
Al Baqarah : 250 : Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kukuhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.
Doa Nabi Musa Ketika Melihat Kelalaian Manusia
Al A’raf ayat 155-156: Engkau jualah Pelindung kami; oleh itu ampunkanlah Kami dan berilah rahmat kepada kami, kerana Engkau jualah sebaik-baik pemberi ampun. “Dan Tetapkanlah untuk Kami kebaikan Dalam dunia ini dan juga di akhirat, Sesungguhnya Kami kembali (bertaubat) kepadamu”
Doa Memohon ampun dan pengasihan Allah untuk diri sendiri dan saudara (Doa Nabi Musa a.s. Bersama Nabi Harun)
Al A’raf ayat 151: Nabi Musa berdoa Dengan berkata: “Wahai Tuhanku, ampunkanlah bagiku dan bagi saudaraku, dan masukkanlah Kami ke Dalam rahmatMu, kerana Engkaulah sahaja Yang Maha Mengasihani dari Segala Yang lain Mengasihani”. (7:151)
Doa atas Kesabaran dan Kematian dalam Islam
Al A’raf ayat 126: “Wahai Tuhan kami, Limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan matikanlah Kami Dalam keadaan Islam (berserah bulat-bulat kepadaMu)”. (7:126)
Doa Nabi Syuaib, Ditentukan Keadilan dan Kebenaran Sebaiknya
Al A’raf ayat 89: Wahai Tuhan kami, hukumkanlah antara Kami dan kaum Kami Dengan kebenaran (keadilan), kerana Engkau jualah sebaik-baik hakim”. (7: 89)
Doa Pembuka Majlis dan Pujian
Al A’raf ayat 43: Segala puji tertentu bagi Allah Yang telah memberi hidayah petunjuk untuk (mendapat nikmat-nikmat) ini, padahal Kami tidak sekali-kali akan memperoleh petunjuk kalau Allah tidak memimpin Kami (dengan taufiqNya)
Doa Hadapi Stress
Ali ‘Imran ayat 173: “Cukuplah untuk (menolong) kami, dan ia sebaik-baik pengurus (yang terserah kepadanya Segala urusan kami)”. (3: 173) – Hasbunallahu wa ni’mal wakil.
Menurut Bukhari, Ibn al-Munzir, al-Hakim dan al-Baihaqi, daripada Ibn Abbas berkata bahawa doa di atas merupakan kalimah yang terakhir diucapkan oleh Nabi Ibrahin a.s. sebelum dicampakkan ke dalam api. Ia juga diucapkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. ketika golongan kafir menakut-nakutkan Nabi tentang tentera bersekutu yang akan menyerang Nabi s.a.w. (Tafsir al-Fakhrurrazi, tafsir ayat 173, surah Ali ‘Imran).