Isnin, 30 September 2013

DOA MEMOHON KEBAIKAN DIRI SENDIRI

Segala puji bagi Allah Tuhan Pentadbir Semesta Alam.Selawat dan salam ke atas nabi dan Rasul,keluarganya dan sahabat handainya.
Allahumma Ya Allah,jadikanlah kami semua serta anak cucu kami menjadi manusia-manusia yang selalu ingat kepadaMu,selalu bersyukur dan berterima kasih atas segala rahmat dan nikmat yang Engkau curahkan kepada kami.
Ya Allah,jangan sesekali kami menjadi orang yang lupa dan kufur,tidak pandai berterima kasih dan bersyukur kepadaMu.
Ya Allah,jadikanlah aku seorang yang selalu mengingatiMu,banyak mensyukuri pemberianMu,berbakti kepada perintah-perintahMu,tunduk dan taat kepadaMu.Ya Tuhan,terimalah taubatku ,sucikanlah dosa-dosaku ,kabulkanlah doa-doaku,tetapkanlah pendirianku. Tunjukanlah hatiku ke arah kebenaran dan lisanku ke arah kebaikan.
Ya Allah,bukakanlah hatiku agar dapat merasakan keagunganMu.Jadikanlah dahiku dahi yang selalu nikmat bersujud kepadaMu,jadikanlah kedua mataku mata yang gemar membaca ayat-ayatMu dan mata yang mudah menangis bila mengenangkan dosa di masa lalu serta mata yang mudah menangis  bila melihat kesusahan orang lain.
Ya Allah,kurniakanlah kepadaku hati yang bening ,hati yang tidak lalai kepadaMu,hati yang tidak pernah kesepian kerana selalu ingat kepadaMu,hati yang terpesona pada keagunganMu,yang selalu tenteram kerana yakin akan jaminanMu,hati yang selalu kaya kerana yakin dengan pemberianMu,hati yang selalu merasa aman kerana yakin akan perlindunganMu.
Ya Allah,hanyalah Engkau segala-galanya.Aku hanya sekadar makhlukMu yang tiada erti  bagiMu, tapi Engkau adalah segala-galanya bagiku.
Ya Allah,perbaikilah agamaku yang menjadi sandaran  segala urusanku,perbaikilah duniaku yang menjadi tempat penghidupanku.Perbaikilah akhiratku tempat di mana aku dikembalikan .Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan setiap kebaikan untukku,dan jadikanlah kematian sebagai ketenangan dari segala kejahatan untukku.
“Wahai Tuhanku, aku berlindung dengan Engkau dari kemalasan dan dari umur tua yang amat sangat, dan dari bebanan yang memberatkan aku dan dosa. Ya Allah,akau berlindung dengan Engkau dari azab neraka,fitnah neraka,azab kubur dan kejahatan fitnah kekayaan dan kejahatan fitnah kepapaan..
“ Dan aku berlindung dengan Engkau dari kesesatan hati,kelalaian ,kepapaan,kehinaan, dan kemiskinan. Aku berlindung  dengan Engkau dari kepapaan,dan kekafiran,kefasiqan,pertengkaran ,sifat menunjuk-nunjuk dan riak.Aku berlindung dengan Engkau dari penyakit-penyakit yang memudaratkan diriku.
“ Ya Allah,aku bermohon kepadaMu syurga , dan perkara  yang mendekatkan aku kepadanya ,sama ada  yang berupa perkataan atau amalan. Dan aku berlindung dengan Engkau dari neraka dan perkara yang mendekatkan diriku kepadanya sama ada dengan perkataan atau perbuatan.
Wahai Dzat yang maafNya lebih sering daripada seksaNya.Wahai Dzat yang redhaNya lebih besar dari murkaNya,wahai Dzat yang selalu menganugerahkan ampunan kepada makhlukNya ,wahai Dzat yang menerima taubat hambaNya ,naungilah aku dengan  awan rahmatMu .Jangan biarkan pada hari kiamat dari sejuknya maghfirahMu.
Wahai penabur kurnia,wahai penolak bencana,wahai nur yang menerangi kegelapan,inilah hamba-Mu yang daif  dan lemah,yang hina lagi papa,yang tidak pernah berputus asa dalam mengharap dan meminta kepadaMu..
Tuhanku! Aku tidak layak untuk syurgaMu tetapi tidak pula aku sanggup menanggung seksa  nerakaMu .Dari itu, kurniakanlah ampunan kepadaku,ampunkanlah dosaku. Sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa besar.
“ Wahai Allah,ampunkanlah untukku dan kedua orang tuaku,semua orang Islam lelaki dan wanita, orang mukmin lelaki dan wanita yang hidup dan yang mati..
Rabbana Ya Tuhan,andai suatu saat malaikat maut menjemputku,Ya Allah,mudahkanlah aku dalam menghadapi sakaratul maut dan aku memohon kepadaMu khusnul khatimah dan berlindung kepadaMu Su’ul khatimah.
Ya Allah,jadikanlah lidahku menjadi lidah yang terpelihara ,yang selalu basah menyebut asmaMu,yang dapat menjadi cahaya ilmu,yang dapat menjad lidah ketika pulang ke ribaaMu,yang menjadi lidah yang dapat menyebut LAA ILA HA ILLAALLAHU,MUHAMMAD RASULULLAH.
Ya Tuhanku,terimalah doaku,sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubatku kerana Engkau lah yang menerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Allah,inilah doaku dan Engkaulah mengabulkannya dan inilah kesungguhanku dan Engkaulah tempat tumpuan harapanku. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan mendapat pertolonganMu.

Khamis, 29 Ogos 2013

Halal dan Haram dalam Islam

Asal Tiap-Tiap Sesuatu Adalah Mubah
DASAR pertama yang ditetapkan Islam, ialah: bahwa asal sesuatu yang dicipta Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada satupun yang haram, kecuali karena ada nas yang sah dan tegas dari syari' (yang berwenang membuat hukum itu sendiri, yaitu Allah dan Rasul) yang mengharamkannya. Kalau tidak ada nas yang sah --misalnya karena ada sebagian Hadis lemah-- atau tidak ada nas yang tegas (sharih) yang menunjukkan haram, maka hal tersebut tetap sebagaimana asalnya, yaitu mubah.
Ulama-ulama Islam mendasarkan ketetapannya, bahwa segala sesuatu asalnya mubah, seperti tersebut di atas, dengan dalil ayat-ayat al-Quran yang antara lain:
"Dialah Zat yang menjadikan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya." (al-Baqarah: 29)
"(Allah) telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya daripadaNya." (al-Jatsiyah: 13)
"Belum tahukah kamu, bahwa sesungguhnya Allah telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi; dan Ia telah sempurnakan buat kamu nikmat-nikmatNya yang nampak maupun yang tidak nampak." (Luqman: 20)
Allah tidak akan membuat segala-galanya ini yang diserahkan kepada manusia dan dikurniakannya, kemudian Dia sendiri mengharamkannya. Kalau tidak begitu, buat apa Ia jadikan, Dia serahkan kepada manusia dan Dia kurniakannya?
Beberapa hal yang Allah haramkan itu, justeru karena ada sebab dan hikmat, yang --insya Allah-- akan kita sebutkan nanti.
Dengan demikian arena haram dalam syariat Islam itu sebenarnya sangat sempit sekali; dan arena halal malah justeru sangat luas. Hal ini adalah justeru nas-nas yang sahih dan tegas dalam hal-haram, jumlahnya sangat minim sekali. Sedang sesuatu yang tidak ada keterangan halal-haramnya, adalah kembali kepada hukum asal yaitu halal dan termasuk dalam kategori yang dima'fukan Allah.
Untuk soal ini ada satu Hadis yang menyatakan sebagai berikut:
"Apa saja yang Allah halalkan dalam kitabNya, maka dia adalah halal, dan apa saja yang Ia haramkan, maka dia itu adalah haram; sedang apa yang Ia diamkannya, maka dia itu dibolehkan (ma'fu). Oleh karena itu terimalah dari Allah kemaafannya itu, sebab sesungguhnya Allah tidak bakal lupa sedikitpun." Kemudian Rasulullah membaca ayat: dan Tuhanmu tidak lupa.2 (Riwayat Hakim dan Bazzar)
"Rasulullah s.aw. pernah ditanya tentang hukumnya samin, keju dan keledai hutan, maka jawab beliau: Apa yang disebut halal ialah: sesuatu yang Allah halalkan dalam kitabNya; dan yang disebut haram ialah: sesuatu yang Allah haramkan dalam kitabNya; sedang apa yang Ia diamkan, maka dia itu salah satu yang Allah maafkan buat kamu." (Riwayat Tarmizi dan lbnu Majah)
Rasulullah tidak ingin memberikan jawaban kepada si penanya dengan menerangkan satu persatunya, tetapi beliau mengembalikan kepada suatu kaidah yang kiranya dengan kaidah itu mereka dapat diharamkan Allah, sedang lainnya halal dan baik.
Dan sabda beliau juga,
"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia." (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)
Di sini ingin pula saya jelaskan, bahwa kaidah asal segala sesuatu adalah halal ini tidak hanya terbatas dalam masalah benda, tetapi meliputi masalah perbuatan dan pekerjaan yang tidak termasuk daripada urusan ibadah, yaitu yang biasa kita istilahkan dengan Adat atau Mu'amalat. Pokok dalam masalah ini tidak haram dan tidak terikat, kecuali sesuatu yang memang oleh syari' sendiri telah diharamkan dan dikonkritkannya sesuai dengan firman Allah:
"Dan Allah telah memerinci kepadamu sesuatu yang Ia telah haramkan atas kamu." (al-An'am: 119)
Ayat ini umum, meliputi soal-coal makanan, perbuatan dan lain-lain.
Berbeda sekali dengan urusan ibadah. Dia itu semata-mata urusan agama yang tidak ditetapkan, melainkan dari jalan wahyu. Untuk itulah, maka terdapat dalam suatu Hadis Nabi yang mengatakan:
"Barangsiapa membuat cara baru dalam urusan kami, dengan sesuatu yang tidak ada contohnya, maka dia itu tertolak." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Ini, adalah karena hakikat AGAMA --atau katakanlah IBADAH-- itu tercermin dalam dua hal, yaitu:
  1. Hanya Allah lah yang disembah.
  2. Untuk menyembah Allah, hanya dapat dilakukan menurut apa yang disyariatkannya.
Oleh karena itu, barangsiapa mengada-ada suatu cara ibadah yang timbul dari dirinya sendiri --apapun macamnya-- adalah suatu kesesatan yang harus ditolak. Sebab hanya syari'lah yang berhak menentukan cara ibadah yang dapat dipakai untuk bertaqarrub kepadaNya.
Adapun masalah Adat atau Mu'amalat, sumbernya bukan dari syari', tetapi manusia itu sendiri yang menimbulkan dan mengadakan. Syari' dalam hal ini tugasnya adalah untuk membetulkan, meluruskan, mendidik dan mengakui, kecuali dalam beberapa hal yang memang akan membawa kerusakan dan mudharat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Sesungguhnya sikap manusia, baik yang berbentuk omongan ataupun perbuatan ada dua macam: ibadah untuk kemaslahatan agamanya, dan kedua adat (kebiasaan) yang sangat mereka butuhkan demi kemaslahatan dunia mereka Maka dengan terperincinya pokok-pokok syariat, kita dapat mengakui, bahwa seluruh ibadah yang telah dibenarkannya, hanya dapat ditetapkan dengan ketentuan syara' itu sendiri."
Adapun masalah Adat yaitu yang biasa dipakai ummat manusia demi kemaslahatan dunia mereka sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, semula tidak terlarang. Semuanya boleh, kecuali hal-hal yang oleh Allah dilarangnya Demikian itu adalah karena perintah dan larangan, kedua-duanya disyariatkan Allah. Sedang ibadah adalah termasuk yang mesti diperintah. Oleh karena itu sesuatu, yang tidak diperintah, bagaimana mungkin dihukumi terlarang.
Imam Ahmad dan beberapa ahli fiqih lainnya berpendapat: pokok dalam urusan ibadah adalah tauqif (bersumber pada ketetapan Allah dan Rasul). Oleh karena itu ibadah tersebut tidak boleh dikerjakan, kecuali kalau ternyata telah disyariatkan oleh Allah. Kalau tidak demikian, berarti kita akan termasuk dalam apa yang disebutkan Allah:
"Apakah mereka itu mempunyai sekutu yang mengadakan agama untuk mereka, sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah?" (as-Syura: 21)
Sedang dalam persoalan Adat prinsipnya boleh. Tidak satupun yang terlarang, kecuali yang memang telah diharamkan. Kalau tidak demikian, maka kita akan termasuk dalam apa yang dikatakan Allah:
"Katakanlah! Apakah kamu sudah mengetahui sesuatu yang diturunkan Allah untuk kamu daripada rezeki, kemudian kamu jadikan daripadanya itu haram dan halal? Katakanlah! Apakah Allah telah memberi izin kepadamu, ataukah kamu memang berdusta atas (nama) Allah?" (Yunus: 59)
Ini adalah suatu kaidah yang besar sekali manfaatnya. Dengan dasar itu pula kami berpendapat: bahwa jual-bell, hibah, sewa-menyewa dan lain-lain adat yang selalu dibutuhkan manusia untuk mengatur kehidupan mereka seperti makan, minum dan pakaian. Agama membawakan beberapa etika yang sangat baik sekali, yaitu mana yang sekiranya membawa bahaya, diharamkan; sedang yang mesti, diwajibkannya. Yang tidak layak, dimakruhkan; sedang yang jelas membawa maslahah, disunnatkan.
Dengan dasar itulah maka manusia dapat melakukan jual-beli dan sewa-menyewa sesuka hatinya, selama dia itu tidak diharamkan oleh syara'. Begitu juga mereka bisa makan dan minum sesukanya, selama dia itu tidak diharamkan oleh syara', sekalipun sebagiannya ada yang oleh syara' kadangkadang disunnatkan dan ada kalanya dimakruhkan. Sesuatu yang oleh syara' tidak diberinya pembatasan, mereka dapat menetapkan menurut kemutlakan hukum asal.3
Prinsip di atas, sesuai dengan apa yang disebut dalam Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:
"Kami pernah melakukan 'azl'4, sedang waktu itu al-Quran masih turun; kalau hal tersebut dilarang, niscaya al-Quran akan melarangnya."
Ini menunjukkan, bahwa apa saja yang didiamkan oleh wahyu, bukanlah terlarang. Mereka bebas untuk mengerjakannya, sehingga ada nas yang melarang dan mencegahnya.
Demikianlah salah satu daripada kesempurnaan kecerdasan para sahabat.
Dan dengan ini pula, ditetapkan suatu kaidah: "Soal ibadah tidak boleh dikerjakan kecuali dengan syariat yang ditetapkan Allah; dan suatu hukum adat tidak boleh diharamkan, kecuali dengan ketentuan yang diharamkan oleh Allah."


Petikan : Halal dan Haram dalam Islam
Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

Khamis, 11 Julai 2013

Penetapan waktu Imsak

KETETAPAN IMSAK SEBELUM SUBUH
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang
Puji-pujian bagi Allah Subhanahu wata’ala, selawat dan salam keatas junjungan kita Nabi Muhammad saw serta para sahabatnya.
Entah bermula dari tahun berapa, umat Islam di negara kita telah mengenali erti imsak sebelum masuknya waktu subuh selama lebih kurang 10 minit. Tetapi ketetapan imsak dengan erti seperti ini tidak pula diketahui di negara-negara Islam yang lain sama ada di Timur Tengah atau lainnya. Tidak ada sesiapapun di antara kita yang cuba bertanya tentang asal usul imsak ini, apatah lagi untuk mempersoalkannya. Inilah satu sikap tidak baik yang ada pada masyarakat kita iaitu menurut saja apa yang diperkenalkan tanpa usul periksa.
Yang menghairankan ialah institusi-institusi agama di negara kita juga seolah-olah mengesahkannya, justeru ia disebarkan melalui media massa, risalah-risalah, poster-poster, iklan-iklan dan sebagainya dengan begitu meluas sekali. Semuanya menyatakan“waktu berbuka puasa dan imsak atau imsakiah”.
Imsak dalam istilah (makna sebenar) bermaksud, menahan diri daripada makan, minum, jimak dan lain-lain perkara yang membatalkan puasa. Inilah juga imsak yang difahami oleh masyarakat umum daripada waktu imsak yang disiarkan itu.
Tetapi ada juga setengah-setengah kalangan yang terus makan walaupun selepas waktu imsak itu. Tentu pihak lain memandangnya dengan pandangan yang serong dan mungkin tidak sah puasanya dan orang yang melakukan perbuatan itu sendiripun berada dalam keadaan serba salah.
Dari itu, Kita berasa  bertanggungjawab membincangkan isu ini secara ilmiah berpandukan kepada Al-Quran dan Al-Sunnah di samping kitab-kitab ulamak yang muktabar dengan harapan umat Islam amnya dan institusi-institusi agama di negara ini akan menilai semula ketetapan imsak sebagaimana yang diamalkan selama ini.
Pertama, Al-Quran dengan jelas mengatakan firman Allah:
Makan dan minumlah kamu sehingga nyata benang putih (fajar sadiq- permulaan waktu subuh) daripada benang hitam (penghujung waktu malam) iaitu fajar. (Al-Baqarah: 187)
Ayat ini dengan jelas menyatakan bahawa tidak ada sebarang imsak sebelum masuknya waktu subuh malah Allah menganjurkan supaya kita makan dan minum “hingga” atau “sampai” masuk waktu subuh. Perintah disini mengikut ulamak usul bukan memberi makna wajib walaubagaimanapun paling kurang ia memberi makna harus.
Kedua, hadis sahih jelas menunjukkannya di mana Nabi s.a.w. bersabda,
“Janganlah menahan kamu dari makan dan minum oleh azannya Bilal, tetapi terus makan dan minumlah kamu sehingga Ibnu Ummi Maktum melaungkan azannya (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Para ulamak sepakat mengatakan bahawa Bilal melaungkan azan sebelum masuknya waktu subuh dengan tujuan mengejutkan orang yang tidur supaya bangun bersahur dan Ibnu Ummi Maktum melaungkan azan apabila masuknya waktu subuh.
Di sini tidak disebutkan tentang imsak atau menahan diri daripada makan minum dan sebagainya sebelum masuknya waktu subuh malah ia menganjurkan supaya makan sampai akhir waktu iaitu masuknya waktu subuh.
Ketiga, dalam hadis sahih yang lain Nabi saw bersabda yang mafhumnya
Umat ini akan sentiasa baik selagi mereka menyegerakan berbuka puasa dan melewatkan bersahur (Riwayat Imam Ahmad).
Hadis ini juga menerangkan kedua-dua ayat Al-Quran dan Hadis yang tersebut di atas yang bermaksud: Makan dan minum dan sebagainya hingga masuk waktu subuh. Selagi umat ini melakukan demikian mereka berada dalam kebaikan sebaliknya bila mereka meninggalkan amalan-amalan seperti ini mereka tidak lagi berada dalam kebaikan.
Keempat, kita telah meneliti sekurang-kurangnya 30 buah kitab muktabar dalam Mazhab Syafie antaranya Al-Umm, Majmuk Syarah Muhazzab, Al-Iqna’ Al-Mahalli, Hasyiah Al-Bajuri, As-Syarqawi , Bahrul-Mazi, Kasyful Litham dan lain-lain lagi selain daripada kitab-kitab muktabar dalam mazhab-mazhab yang lain tetapi tidak juga kita temui adanya ketetapan imsak sebelum masuknya waktu subuh sebagaimana yang diamalkan oleh masyarakat Islam di Malaysia.
Hairan! Kalau begitu dari manakah puncanya ketetapan imsak ini, dan siapakah orang yang mula-mula memperkenalkannya?Mungkin orang yang menyokong ketetapan imsak ini berhujjah dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bermaksud,
“Kami bersahur bersama Nabi s.a.w. kemudian kami bangun pergi sembahyang, perawi bertanya:” Berapakah jarak diantara bersahur kamu dengan sembahyang? Zaid menjawab: lebih kurang lima puluh ayat” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Ini bermakna (kata mereka) bersahur itu sudah selesai sebelum masuk waktu subuh selama lebih kurang 50 ayat (jika dianggarkan tempohnya lebih kurang 10 minit.) Inilah punca imsak,” kata mereka.
Tetapi pemahaman yang seperti ini tidak benar kerana;
1.Tidak ada seorangpun perawi hadis yang menghuraikan pengertian begitu.
2.Hadis ini ada kemungkinan memberi erti yang lain selain daripada kemungkinan tadi. Ia mungkin memberi erti “tempoh diantara selesai bersahur dengan sembahyang subuh itu adalah lebih kurang 50 ayat. Ini bermakna setelah selesai bersahur azan dilaungkan selepas itu sesiapa yang hendak mengambil wudhu’ bolehlah mengambil wudhu’ kemudian barulah sembahyang subuh. Tempoh di antara azan, wudhu’, sembahyang sunat subuh dan sembahyang subuh itu sendiri adalah lebih kurang 50 ayat.
Sumber: http://www.darulkautsar.com/pemurniansyariat/imsak.htm
(Dipetik dari Siri Risalah Suluhan terbitan Darul Quran Was-Sunnah dengan sedikit pindaan)

Selasa, 2 Julai 2013

Berpuasa Tetapi Meninggalkan Solat

Barangsiapa berpuasa tapi meninggalkan shalat, berarti ia meninggalkan rukun terpenting darirukun-rukun Islam setelah tauhid. Puasanya sama sekali tidak bermanfaat baginya, selama ia meninggalkan shalat. Sebab shalat adalah tiang agama, di atasnyalah agama tegak. Dan orang yang meninggalkan shalat hukumnya adalah kafir. Orang kafir tidak diterima amalnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir. " (HR. Ahmad dan Para penulis kitab Sunan dari hadits Buraidah radhiallahu 'anhu )  At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan shahih, Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menshahihkannya.
Jabir radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
(Batas) antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat."
 (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Tentang keputusan-Nya terhadap orang-orang kafir, Allah  berfirman :
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan"(Al-Furqaan: 23).
Maksudnya, berbagai amal kebajikan yang mereka lakukan dengan tidak karena Allah, niscaya Kami hapus pahalanya, bahkan Kami menjadikannya sebagai debu yang beterbangan.
Demikian pula halnya dengan meninggalkan shalat berjamaah atau mengakhirkan shalat dari waktunya. Perbuatan tersebut merupakan maksiat dan dikenai ancaman yang keras. Allah Ta'ala berfirman:
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. "
 (Al-Maa'un: 4-5).
Maksudnya, mereka lalai dari shalat sehingga waktunya berlalu. Kalau Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengizinkan shalat di rumah kepada orang buta yang tidak mendapatkan orang yang menuntunnya ke masjid, bagaimana pula halnya dengan orang yang pandangannya tajam dan sehat yang tidak memiliki udzur.?
Berpuasa tetapi dengan meninggalkan shalat atau tidak berjamaah merupakan pertanda yang jelas bahwa ia tidak berpuasa karena mentaati perintah Tuhannya.Jika tidak demikian, kenapa ia meninggalkan kewajiban yang utama (shalat)? Padahal kewajiban-kewajiban itu merupakan satu rangkaian  utuh yang tidak terpisah-pisah, bagian yang satu menguatkan bagian yang lain.
Catatan Penting:
  1. Setiap muslim wajib berpuasa karena iman dan mengharap pahala Allah, tidak karena riya' (agar dilihat orang), sum'ah (agar didengar orang), ikut-ikutan orang, toleransi kepada keluarga atau masyarakat tempat ia tinggal. Jadi, yang memotivasi dan mendorongnya berpuasa hendaklah karena imannya bahwa Allah mewajibkan puasa tersebut atasnya, serta karena mengharapkan pahala di sisi Allah dengan puasanya.
    Demikian pula halnya dengan Qiyam Ramadhan (shaiat malam/tarawih), ia wajib menjalankannya karena iman dan mengharap pahala Allah, tidak karena sebab lain. Karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
    "Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, barangsiapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu danbarangsiapa melakukan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahalaAllah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Muttafaq 'Alaih). 
  2. Secara tidak sengaja, kadang-kadang orang yang berpuasa terluka, mimisan (keluar darah dari hidung), muntah, kemasukan air atau bersin di luar kehendaknya. Hal-hal tersebut tidakmembatalkan puasa. Tetapi orang yang sengaja muntah maka puasanya batal, karenaRasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
    "Barangsiapa muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha' atasnya, Ctetapi) barangsiapa sengaja muntah maka ia wajib mengqadha' puasanya. "
     (HR.Imam Lima kecuali An-Nasa'i) (Al Arna'uth dalam Jaami'ul Ushuul, 6/29 berkata : "Hadits ini shahih.")
     
  3. Orang yang berpuasa boleh meniatkan puasanya dalam keadaan junub (hadats besar), kemudian mandi setelah terbitnya fajar. Demikian pula halnya dengan wanita haid, atau nifas, bila sudi sebelum fajar maka ia wajib berpuasa. Dan tidak mengapa ia mengakhirkan mandi hingga setelah terbit fajar, tetapi ia tidak boleh mengakhirkan mandinya hingga terbit matahari. Sebab ia wajib mandi dan shalat Shubuh sebelum terbitnya matahari, karena waktu Shubuh berakhir dengan terbitnya matahari.
    Demikian pula halnya dengan orang junub, ia tidak boleh mengakhirkan mandi hingga terbitnya matahari. Ia wajib mandi dan shalat Shubuh sebelum terbit matahari. Bagi laki-laki wajib segera mandi, sehingga ia bisa mendapatkan shalat jamaah.
     
  4. Di antara hal-hal yang tidak membatalkan puasa adalah: pemeriksaan darah,  (Misalnya dengan mengeluarkan sample (contoh) darah dari salah satu anggota tubuh) suntik yang tidak dimaksudkan untuk memasukkan makanan. Tetapi jika memungkinkan- melakukan hal-haltersebut pada malam hari adalah lebih baik dan selamat, sebab Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda :
    "Tinggalkan apa yang membuatmu ragu, kerjakan apa yang tidak membuatmu ragu. " (HR. An- Nasa'i dan At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih)Dan beliau juga bersabda :
    "Barangsiapa menjaga (dirinya) dari berbagai syubhat maka sungguh dia telah berusaha menyucikan agama dan kehormatannya." ( Muttafaq 'Alaih)Adapun suntikan untuk memasukkan zat makanan maka tidak boleh dilakukan, sebab hal itutermasuk kategori makan dan minum. (Lihat kitab Risaalatush Shiyaam, oleh Syaikh AbdulAzis bin Baz, hlm. 21-22)
     
  5. Orang yang puasa boleh bersiwak pada pagi atau sore hari. Perbuatan itu sunnah,sebagaimana halnya bagi mereka yang tidak dalam keadaaan puasa.

Isnin, 1 Julai 2013

Doa Akhir Syaaban dan Doa Awal Ramadhan

بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Umat Islam bakal meninggalkan bulan Syaaban dan akan menjelang Bulan Ramadhan al-Mubarak pula. Maka eloklah membaca ‘Doa Meninggalkan Hari Terakhir Bulan Syaaban’ dan ‘Doa Menyambut Bulan Ramadhan’ berikut bagi memantapkan keimanan kita;
“Ya Allah! Sesungguhnya bulan ini adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an dan dijadikan petunjuk bagi manusia, penjelasan dari petunjuk dan perselisihan. Bulan Ramadhan telah datang, maka selamatkan kami di dalamnya, salurkan kedamaiannya pada kami, jadikan ia keselamatan bagi kami dalam kemudahan dan keselamatan dari-Mu. Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan mensyukuri yang banyak, terimalah amalku yang sedikit ini.

Ya Allah! Daku memohon kepada-Mu, jadikan bagiku jalan pada semua kebaikan, dan penghalang dari semua yang tidak Dikau cintai, wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi. Wahai Yang Memaafkan kesalahanku dan keburukan yang kusembunyikan. Wahai Yang Tidak menyiksaku kerana perbuatan maksiatku, maafkan daku, maafkan daku, maafkan daku wahai Yang Maha Mulia.

Tuhanku! Dikau sedarkan daku, tapi daku belum juga menyedarinya. Dikau halau daku dari larangan-Mu, tapi daku belum juga terhalau, lalu apalagi alasanku, maafkan daku wahai Yang Maha Mulia, maafkan daku, maafkan daku!!!

Ya Allah! Daku memohon kepada-Mu kedamaian saat kematian menjemputku, dan maafkan daku ketika amalku dihisab. Besar sudah dosa hamba-Mu ini, maka ampuni daku dengan ampunan yang baik dari sisi-Mu wahai Yang Maha Menjaga dan Maha Mengampuni, maafkan daku, maafkan daku.

Ya Allah! Daku adalah hamba-Mu putera hamba-Mu, yang lemah dan perlu pada rahmat-Mu. Sementara Dikau Yang Menurunkan kekayaan dan keberkahan kepada semua hamba-Mu, Dikau Maha Perkasa dan Maha Kuasa, Dikau menghitung semua amal mereka, Dikau yang membagikan rezeki mereka. Dikau ciptakan mereka berbeza-beza dalam bahasa dan kulit dari generasi ke generasi berikutnya. Hamba-Mu tak akan mampu mengetahui semua ilmu-Mu, hamba-Mu tak akan mampu menolak takdir-Mu. Kami semua perlu pada rahmat-Mu, maka jangan palingkan wajah-Mu dariku, jadikan daku tergolong pada hamba-Mu yang soleh dalam amal dan keinginan, dalam ketetapan dan takdir-Mu.

Ya Allah! Hidupkan daku dalam kehidupan yang paling baik, dan matikan daku dalam kematian yang terbaik mengikuti para kekasih-Mu dan menjauhi musuh-musuh-Mu, takut dan patuh pada-Mu, memenuhi dan menerima perintah-Mu, membenarkan kitab-Mu dan mengikuti sunnah Rasul-Mu.

Ya Allah! Semua yang ada dalam hatiku: keraguan, penentangan, keberputus-asaan, kesenangan yang berlebihan, kesombongan, keangkuhan ketika mendapat nikmat, prasangka buruk, riya’ atau suka pujian, permusuhan, kemunafikan atau kekufuran, kefasikan atau kemaksiatan, atau kebanggaan, atau sesuatu yang lain yang tidak Dikau redhai.

Kerana itu, daku memohon kepada-Mu, gantikan semua itu dengan keimanan pada janji-Mu, mematuhi perintah-Mu, redha pada ketentuan-Mu, kehidupan zuhud di dunia, harapan pada yang ada di sisi-Mu, kedamaian dan taubat yang sebenarnya; daku memohon semua itu kepada-Mu Ya Rabbal ‘alamin.

Tuhanku! Dikau dikianati dan dicurangi kerana kelembutan-Mu, Dikau ditaati kerana kemuliaan dan kedermawanan-Mu, seolah-olah Dikau tidak pernah dicurangi olehku dan oleh seluruh penghuni bumi. Maka jadilah Dikau bagi kami Yang Maha Pemurah dengan segala karunia-Mu, Yang Maha Perihatin dengan segala kebaikan-Mu. Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi!

Semoga selawat sentiasa tercurahkan kepada Muhammad SAW dan keluarganya, selawat yang abadi yang tak terhitung jumlahnya dan tak terukur nilainya oleh selain-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi!”
.
(Petikan dari kitab Mafatihul Jinan, bab 2, pasal 2)

 .
.

Doa Menyambut Ramadhan 2

.
Salah satu cara terbaik untuk menyambut masuknya bulan suci Ramadhan al-Mubarak adalah dengan berdoa. Satu lagi riwayat para sahabat, Rasulullah SAW telah membaca Doa Menyambut Ramadhan berikut :
.
“Ya Allah, telah tiba bulan Ramadhan. Wahai Tuhan pemilik bulan Ramadhan, Dikau telah menurunkan Al-Qur’an di dalamnya dan telah menjadikannya sebagai penjelasan atas petunjuk dan perbezaan antara yang hak dan yang batil. Wahai Tuhan kami, berkatilah kami di dalamnya dan bantulah kami dalam melaksanakan puasa dan menunaikan solat di dalamnya. Terimalah amal-amal kami di bulan ini.

Ya Allah, segala puji bagiMu yang telah membimbing kami untuk memujiMu supaya kami mengerti bersyukur atas segala kebaikanMu dan supaya Dikau membalas kami dengan balasan yang Dikau berikan pada mereka yang berbuat kebajikan.

Segala puji bagi Allah yang menganugerahi kami dengan agamaNya, mengistimewakan kami dengan millahNya dan menunjukkan kami jalan-jalan kebaikanNya, dengan pujian yang Dia terima dari kita dan membuatNya redha kepada kita.

Segala puji bagi Allah yang menjadikan di antara jalan-jalan (kebaikanNya) adalah bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan Islam, bulan kesucian, bulan pembersihan, bulan menegakkan solat malam, bulan yang di dalamnya Al Qur’an diturunkan sebagai penyuluh dan penjelasan petunjuk dan pembeza bagi manusia. (QS Al Baqarah: 185).

Dia menjelaskan keutamaan bulan ini melebihi semua bulan dengan menjadikannya berlimpah dengan kesucian dan bertabur dengan fadhilah. Dia mengharamkan di bulan ini yang dihalalkan di bulan lain sebagai pengagungan untuknya. Dia larang di bulan ini makan dan minum sebagai penghormatan untuknya. Dia jadikan di bulan ini waktu-waktu tertentu (saat sahur dan buka) yang tidak boleh didahulukan dan tidak boleh diakhirkan.
Lalu, Dia muliakan satu malam di antara malam-malam bulan ini melebihi malam-malam seribu bulan. Dia namakan malam itu dengan malam Lailatul Qadar. Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, menebar kedamaian (bagi mereka) (QS al-Qadr:4-5) terus-menerus dan menaburkan keberkahan sampai terbit fajar kepada siapa saja dikehendaki dari para hamba Allah sesuai dengan ketentuan dan ketetapanNya.
Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya dan ilhamkan kepada kami untuk mengenal kebesarannya (Ramadhan), mengagungkan kesuciannya, menjaga apa yang dilarangnya. Bantulah kami untuk menjalankan puasanya dengan menahan anggota badan dari dehaka kepadaMu dan menggunakannya untuk segala apa yang Dikau redhai.

Telinga-telinga kami tidak sampai mengarah pada sia-sia, mata-mata kami tidak terpusat pada kealpaan, tangan-tangan kami tidak kami hulurkan pada larangan, kaki-kaki kami tidak kami langkahkan pada keburukan, perut-perut kami tidak kami isi kecuali dengan yang Dikau halalkan, lidah-lidah kami tidak berbicara kecuali yang Dikau contohkan. Kami tidak melakukan kecuali yang mendekatkan pahalaMu dan kami tidak mengerjakan kecuali yang dapat menghindarkan kami dari siksaMu.

Maka bersihkanlah semua (amal-amal) itu dari sifat riak dan dari membangga diri. Di bulan ini kami tak akan menyekutukanMu dengan siapapun dan tidak akan mencari kerinduan selain kepadaMu.

Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya. Bantulah kami di bulan Ramadhan untuk menjaga waktu-waktu solat yang lima dengan hukum-hukumnya yang telah Dikau tentukan, fardhu-fardhunya yang Dikau fardhukan, tugas-tugasnya yang Dikau tugaskan, dan waktunya yang Dikau tetapkan.

Di dalam solat kami naikkan kami ke tingkatan orang yang memelihara tahap-tahapnya, menjaga rukun-rukunnya, melakukannya pada waktu yang sesuai dengan apa yang disunahkan hambaMu, RasulMu SAW, dalam ruku’nya, sujudnya, dan semua geraknya, dengan kesucian yang paling tinggi dan paling sempurna, dengan kekhusyuakn yang paling nyata.

Dalam bulan ini, bantulah kami untuk menyambungkan persaudaraan dengan kebajikan dan kekeluargaan, memperhatikan jiran kami dengan bantuan dan pemberian, membebaskan harta kami dari tuntutan, membersihkannya dengan mengeluarkan zakat, mendekatkan lagi orang yang menjauhi kami, memperlakukan dengan adil orang yang menyakiti kami, berdamai dengan orang yang memusuhi kami, kecuali dalam permusuhan yang semata-mata keranaMu dan untukMu, kerana dialah musuh yang tidak kami senangi dan golongan yang tidak kami sukai.

Dalam bulan ini, bantulah kami untuk mendekatkatiMu dengan amal-amal suci yang membersihkan dosa-dosa kami dan menjaga kami dari mengulangi kecelaan, sehingga para malaikatMu tidak lebih banyak memasuki pintu-pintu ketaatan dan macam-macam peribadatan daripada yang kami persembahkan untukMu.

Ya Allah, daku bermohon kepadaMu demi hak bulan ini, demi hak siapa saja yang menyembahMu, sejak permulaannya sampai waktu kematiannya, para malaikat yang Dikau dekatkan, para nabi yang Dikau kirim, para hamba soleh yang Dikau istimewakan, sampaikanlah selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya. Di bulan ini, jadikanlah kami orang yang layak menerima anugerah yang Dikau janjikan kepada para kekasihMu, yang Dikau pastikan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh beribadah kepadaMu. Tempatkan kami dalam kelompok orang yang berhak mendapat tempat paling mulia dengan rakhmatMu.

Ya Allah, sampaikanlah selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya, jauhkanlah kami dari ketergelinciran dalam bertauhid kepadMu, kekurangan dalam memujiMu, keraguan terhadap agamaMu, keburukan dari jalanMu, kelalaian akan kesucianMu, ketertipuan oleh musuhMu, setan yang terkutuk!

Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya. Jika pada malam-malam bulan ini ada hamba yang tengkuknya dibebaskan dengan ampunanMu atau dianugerahi maafMu, tempatkan kami pada kelompok dan orang yang terbaik di bulan ini.

Ya Allah, hilangkan dosa-dosa kami bersamaan dengan hilangnya bulan sabit Ramadhan, lepaskan beban-beban kami bersamaan dengan berlalunya hari-harinya, sehingga ketika bulan ini meninggalkan kami, Dikau telah membersihkan kami deri kesalahan, Dikau sudah melepaskan kami dari keburukan.

Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya, jika kami di bulan ini menyimpang, luruskanlah; jika kami tergelincir, tegakkanlah; jika syaitan musuh kami mencengkeram, selamatkanlah kami.

Ya Allah, penuhi bulan ini dengan pengabdian kami kepadaMu, hiasi waktu-waktunya dengan ketaatan kami kepadaMu, bantulah kami pada waktu siangnya dengan puasa dan malamnya dengan solat khusyuk, tunduk dan merendah kepadaMu. Sehingga siangnya tidak menyaksikan kami dalam kelalaian, malamnya tidak melihat kami dalam kealpaan. Ya Allah, jadikan kami seperti ini juga di bulan-bulan lain, sepanjang Dikau hidupkan kami.

Jadikan kami di antara hamba-hambaMu yang soleh yang menwarisi Firdaus dan kekal di dalamnya (QS Al Mukminun:11), yang memberikan apa yang mereka berikan dalam keadaan gemetaran (mengetahui) bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan, mereka termasuk orang-orang yang berlumba-lumba mendapat kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehinya.
Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya pada setiap waktu dan saat, pada segala keadaan, sebanyak selawat yang Dikau berikan kepadanya dan gandakan selawat itu dengan kelipatan yang hanya Dikau yang dapat menghitungnya. Sungguh Dikau melakukan apa yang Dikau kehendaki.”
.
*) Syaikh Rakhiuddin, Iqbal al-A’mal, Muassasah al-A’la Li al-Mathbu’at, Beirut, 1996, hal. 322.
.
.

والله أعلم بالصواب

Wallahu A’lam Bish Shawab
 (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

Selasa, 25 Jun 2013

Afiqme Mohamad: Adakah benar seorang ayah akan dihumban ke neraka ...

Afiqme Mohamad: Adakah benar seorang ayah akan dihumban ke neraka ...: Ramai orang yang berkongsikan di Facebook bahawa jika seorang anak perempuan tidak menutup aurat atau memakai tudungnya, maka ibu bapanya te...

Jumaat, 21 Jun 2013

ADAKAH KITA MENYEMBAH KAABAH?

"Kenapa orang Islam sembah bangunan kain hitam tu?"
"Oh.... itu Kaabah atau nama lainnya Baitullah"
"Baitullah tu apa?" ...
"Secara terjemahan mudah maknanya Rumah Allah"
"Allah ada dalam tu?"
"Tak....."
"Jadi, kenapa sembah bangunan tu kalau Allah tak ada dalam tu?"
"Yang saya sembah bukannya bangunan tu.."
"Kamu sembah apa?"
"Saya sembah Allah swt"
"Jadi, kenapa sembah bangunan tu?"
"Saya MENGHADAP sahaja ke arah Kaabah tetapi saya tak sembah Kaabah.."
"Bukankah kamu sujud ke arah Kaabah, maknanya kamu sembah Kaabah la.."
"Kamu pernah tgk perlawanan bola dalam TV?"
"Pernah...... selalu.."
"Kamu tengok tv ke tengok perlawanan bola?"
"Tengok perlawanan bola la.."
"Di mana?"
"Dalam tv la.."
"Cuba buka tv tu, tengok di dalamnya ada stadium dan perlawanan bola ke tak.."
"Memanglah tak ada.. tapi itukan gambarnya ada.."
"Bukalah dalam tv, tengok ada ke tak gambar perlawanan bola dalam tu.."
"So..?"
"Maknanya kamu tengok tv, bukan perlawanan bola.. betul tak?"
"Tak.. aku tengok perlawanan bola la melaui tv tu.."
"Peliknya.."
"Sebab apa pulak pelik?"
"Ye la, kau cakap tengok perlawanan bola, sedangkan aku tengok dalam tv tu tak ada apa-apa.. yg ada hanya wayar je berselirat.."
"Memanglah dalam tv tu ada banyak wayar, tapi tv tu menayangkan gambar-gambar perlawanan bola dalamnya.."
"Hurm.. jadi tak peliklah ni..?"
"Ya.. tak pelik.."
"Jadi tak pelik jugalah aku sujud ke arah Kaabah untuk menyembah Allah swt. walau pun dalam Kaabah tak ada Allah.."
Ini pula kata2 sahabat nabi berdebat dan mmberi perumpamaan. org kafir mengatakan dimana kah Allah? sedangkan kami (org2 kafir) nampak dan boleh menyentuh tuhan kami. sahabat pun bg perumpamaan.. "saudara tahukah dimana nye letak NYAWA saudara?.
Anda boleh copy dan share untuk perkongsian
Insyaallah
P/S: (" Kaabah merupakan kiblat bagi manusia di bumi ini. Ia juga melambangkan kesatuan manusia dan perpaduan ummah. Hakikat sebenarnya, orang Islam tidak menyembah kaabah, sedangkan kaabah sendiri adalah makhluk Allah S.W.T Orang Islam adalah menyembah Allah S.W.T yang Maha Esa. Orang Islam diperintahkan untuk menghadapkan dirinya kepada kaabah bagi menunjukkan perpaduan dan kekuatan.
Jom kita bayangkan orang yang solat di atas kapal terbang, adakah dia perlu berbongkok untuk mengadap kaabah yang berada di bawah? Tidak, bahkan dia wajib untuk berdiri tegak dan perlu mengadap kaabah pada permulaan solat sahaja. Jika kapal terbang itu berpusing ke arah bertentangan Kaabah, orang yang bersolat itu tidak perlu lagi berpusing ke arah kaabah. Solatnya sudah sah walaupun tidak mengadap kaabah. Wallahu'Alam.")

CCTV Camera Footage of Penang UMNO Building Incident

CCTV Camera Footage of Penang UMNO Building Incident

Cara Nabi SAW Membaca Al-Quran

Di dalam tulisan bertajuk Kelebihan Membaca dan Menghayati Al-Qurantelah disenaraikan beberapa hadith Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam mengenai anjuran, galakan dan kelebihan berkaitan Al-Quran.  Semoga dengannya kita semakin bersemangat untuk mendampingkan diri kita dengan Al-Quran, in shaa’ ALLAH.
Berikut ini pula diterangkan mengenai cara Rasulullah sallAllahu `alaihi wa sallam membaca Al-Quran.  Tujuannya adalah supaya kita sama-sama meniru dan mengikuti cara yang terbaik ini, in shaa’ ALLAH.  Hadith-hadith adalah dipetik dari Syama’il Muhammadiyyah susunan al-Imam at-Turmudzi dan Riyadhus Solihin susunan al-Imam an-Nawawi – rahimahumallah.

1)  Membaca dengan jelas, perkataan demi perkataan.

Ya`la bin Mamlak radhiAllahu `anhu bertanya kepada Ummu Salamah radhiAllahu `anha mengenai cara Rasulullah sallAllahu `alaihi wa sallam membaca Al-Quran.  Lalu Ummu Salamah menjelaskan bahawa Rasulullah membaca Al-Quran dengan jelas, perkataan demi perkataan.
(Diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Turmudzi dan Nasa’i)

2)  Memanjangkan bacaan sesuai dengan hukum tajwid

Qatadah radhiAllahu `anhu berkata, aku bertanya kepada Anas bin Malik radhiAllahu `anhu:
“Bagaimanakah cara Rasulullah sallAllahu `alaihi wa sallam membaca Al-Quran?”
Anas menjawab:  “Baginda memanjangkan bacaan (sesuai dengan hukum tajwid).”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Daud, at-Turmudzi, Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad)

3)  Memotong bacaan pada setiap ayat.

Ummu Salamah radhiAllahu `anha berkata:
“Adalah Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam memotong bacaan Baginda (pada setiap ayat). 
Baginda membaca ‘  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  ‘ lalu berhenti. 
Kemudian Baginda membaca ‘  الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ  ‘ lalu berhenti. 
Kemudian Baginda membaca ‘  مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ  ‘.”
(Diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah)

4)  Kadang-kala dengan suara yang perlahan, kadang-kala dengan suara yang kuat.

`Abdullah bin Abi Qais radhiAllahu `anhu berkata:
Aku bertanya kepada `A’ishah radhiAllahu `anha mengenai bacaan Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam:  “Adakah Baginda membaca secara perlahan atau pun kuat?”
Beliau menjawab:  “Baginda pernah membaca dengan kedua-dua cara.  Kadang-kala Baginda membaca dengan perlahan.  Dan kadang-kala Baginda membaca dengan kuat.”
Aku membalas:  “Seluruh pujian kepada ALLAH yang memberikan kemudahan dan kesenangan dalam perkara ini.”
(Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, at-Turmudzi, Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad)

5)  Membaca dengan suara yang indah

`Abdullah bin Mughaffal radhiAllahu `anhu berkata:
Aku melihat Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam duduk di atas tunggangannya pada Hari Pembebasan Makkah sambil membaca:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا.  لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
(Sesungguhnya Kami telah membuka bagi perjuanganmu (wahai Muhammad) satu jalan kemenangan yang jelas nyata.  Kemenangan yang dengan sebabnya Allah mengampunkan salah dan silapmu yang telah lalu dan yang terkemudian…)
`Abdullah bin Mugahffal berkata:  “Baginda membaca ayat ini dengan suara yang indah.”
Mu`awiyyah bin Qurrah (seorang daripada yang merekodkan hadith ini) berkata:  “Seandainya orang tidak berkumpul di sekelilingku, pasti akan kubaca seperti itu” atau “sama indah bacaannya dengan Rasulullah.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Turmudzi, Nasa’i dan Ahmad.)
Dari al-Bara’ bin `Azib radhiAllahu `anhu berkata:
“Aku mendengar Rasulullah sallAllahu `alihi wa sallam membaca pada waktu `Isya’ surah وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ.  Aku belum pernah mendengar seorang pun yang suaranya lebih merdu dari suara Baginda.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

6)  Kadang-kala mendengar orang lain membaca Al-Quran

Dari Ibnu Mas`ud radhiAllahu `anhu berkata:
Bahawa Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Bacakanlah Al-Quran untukku.”
Aku berkata:  “Wahai Rasulullah, saya membacakan Al-Quran untuk tuan?  Padahal kepada tuan lah Al-Quran diturunkan.”
Baginda bersabda:  “Sesungguhnya aku ingin mendengar Al-Quran dibaca oleh orang lain.”
Maka aku pun membacakan untuk Baginda surah an-Nisa’ sehingga sampai ayat:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
(Maka bagaimanakah (keadaan orang-orang kafir pada Hari Akhirat kelak), apabila KAMI datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (iaitu Rasul mereka sendiri menjadi saksi terhadap perbuatan mereka), dan KAMI juga datangkan engkau (wahai Muhammad) sebagai saksi terhadap umatmu ini?).
Kemudian Baginda bersabda:  “Cukuplah sampai di sini.”
Saya menoleh kepada Baginda, tiba-tiba kedua matanya mencucurkan air mata.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
*Ayat tersebut adalah ayat ke-41, surah an-Nisa’.
Semoga bermanfaat.  Mudah-mudahan hidayah dan taufiq ALLAH tercurah ke atas kita semua, amin…