Khamis, 11 Julai 2013

Penetapan waktu Imsak

KETETAPAN IMSAK SEBELUM SUBUH
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang
Puji-pujian bagi Allah Subhanahu wata’ala, selawat dan salam keatas junjungan kita Nabi Muhammad saw serta para sahabatnya.
Entah bermula dari tahun berapa, umat Islam di negara kita telah mengenali erti imsak sebelum masuknya waktu subuh selama lebih kurang 10 minit. Tetapi ketetapan imsak dengan erti seperti ini tidak pula diketahui di negara-negara Islam yang lain sama ada di Timur Tengah atau lainnya. Tidak ada sesiapapun di antara kita yang cuba bertanya tentang asal usul imsak ini, apatah lagi untuk mempersoalkannya. Inilah satu sikap tidak baik yang ada pada masyarakat kita iaitu menurut saja apa yang diperkenalkan tanpa usul periksa.
Yang menghairankan ialah institusi-institusi agama di negara kita juga seolah-olah mengesahkannya, justeru ia disebarkan melalui media massa, risalah-risalah, poster-poster, iklan-iklan dan sebagainya dengan begitu meluas sekali. Semuanya menyatakan“waktu berbuka puasa dan imsak atau imsakiah”.
Imsak dalam istilah (makna sebenar) bermaksud, menahan diri daripada makan, minum, jimak dan lain-lain perkara yang membatalkan puasa. Inilah juga imsak yang difahami oleh masyarakat umum daripada waktu imsak yang disiarkan itu.
Tetapi ada juga setengah-setengah kalangan yang terus makan walaupun selepas waktu imsak itu. Tentu pihak lain memandangnya dengan pandangan yang serong dan mungkin tidak sah puasanya dan orang yang melakukan perbuatan itu sendiripun berada dalam keadaan serba salah.
Dari itu, Kita berasa  bertanggungjawab membincangkan isu ini secara ilmiah berpandukan kepada Al-Quran dan Al-Sunnah di samping kitab-kitab ulamak yang muktabar dengan harapan umat Islam amnya dan institusi-institusi agama di negara ini akan menilai semula ketetapan imsak sebagaimana yang diamalkan selama ini.
Pertama, Al-Quran dengan jelas mengatakan firman Allah:
“Makan dan minumlah kamu sehingga nyata benang putih (fajar sadiq- permulaan waktu subuh) daripada benang hitam (penghujung waktu malam) iaitu fajar.” (Al-Baqarah: 187)
Ayat ini dengan jelas menyatakan bahawa tidak ada sebarang imsak sebelum masuknya waktu subuh malah Allah menganjurkan supaya kita makan dan minum “hingga” atau “sampai” masuk waktu subuh. Perintah disini mengikut ulamak usul bukan memberi makna wajib walaubagaimanapun paling kurang ia memberi makna harus.
Kedua, hadis sahih jelas menunjukkannya di mana Nabi s.a.w. bersabda,
“Janganlah menahan kamu dari makan dan minum oleh azannya Bilal, tetapi terus makan dan minumlah kamu sehingga Ibnu Ummi Maktum melaungkan azannya (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Para ulamak sepakat mengatakan bahawa Bilal melaungkan azan sebelum masuknya waktu subuh dengan tujuan mengejutkan orang yang tidur supaya bangun bersahur dan Ibnu Ummi Maktum melaungkan azan apabila masuknya waktu subuh.
Di sini tidak disebutkan tentang imsak atau menahan diri daripada makan minum dan sebagainya sebelum masuknya waktu subuh malah ia menganjurkan supaya makan sampai akhir waktu iaitu masuknya waktu subuh.
Ketiga, dalam hadis sahih yang lain Nabi saw bersabda yang mafhumnya
“Umat ini akan sentiasa baik selagi mereka menyegerakan berbuka puasa dan melewatkan bersahur” (Riwayat Imam Ahmad).
Hadis ini juga menerangkan kedua-dua ayat Al-Quran dan Hadis yang tersebut di atas yang bermaksud: Makan dan minum dan sebagainya hingga masuk waktu subuh. Selagi umat ini melakukan demikian mereka berada dalam kebaikan sebaliknya bila mereka meninggalkan amalan-amalan seperti ini mereka tidak lagi berada dalam kebaikan.
Keempat, kita telah meneliti sekurang-kurangnya 30 buah kitab muktabar dalam Mazhab Syafie antaranya Al-Umm, Majmuk Syarah Muhazzab, Al-Iqna’ Al-Mahalli, Hasyiah Al-Bajuri, As-Syarqawi , Bahrul-Mazi, Kasyful Litham dan lain-lain lagi selain daripada kitab-kitab muktabar dalam mazhab-mazhab yang lain tetapi tidak juga kita temui adanya ketetapan imsak sebelum masuknya waktu subuh sebagaimana yang diamalkan oleh masyarakat Islam di Malaysia.
Hairan! Kalau begitu dari manakah puncanya ketetapan imsak ini, dan siapakah orang yang mula-mula memperkenalkannya?Mungkin orang yang menyokong ketetapan imsak ini berhujjah dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bermaksud,
“Kami bersahur bersama Nabi s.a.w. kemudian kami bangun pergi sembahyang, perawi bertanya:” Berapakah jarak diantara bersahur kamu dengan sembahyang? Zaid menjawab: lebih kurang lima puluh ayat” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Ini bermakna (kata mereka) bersahur itu sudah selesai sebelum masuk waktu subuh selama lebih kurang 50 ayat (jika dianggarkan tempohnya lebih kurang 10 minit.) Inilah punca imsak,” kata mereka.
Tetapi pemahaman yang seperti ini tidak benar kerana;
1.Tidak ada seorangpun perawi hadis yang menghuraikan pengertian begitu.
2.Hadis ini ada kemungkinan memberi erti yang lain selain daripada kemungkinan tadi. Ia mungkin memberi erti “tempoh diantara selesai bersahur dengan sembahyang subuh itu adalah lebih kurang 50 ayat. Ini bermakna setelah selesai bersahur azan dilaungkan selepas itu sesiapa yang hendak mengambil wudhu’ bolehlah mengambil wudhu’ kemudian barulah sembahyang subuh. Tempoh di antara azan, wudhu’, sembahyang sunat subuh dan sembahyang subuh itu sendiri adalah lebih kurang 50 ayat.
Sumber: http://www.darulkautsar.com/pemurniansyariat/imsak.htm
(Dipetik dari Siri Risalah Suluhan terbitan Darul Quran Was-Sunnah dengan sedikit pindaan)

Selasa, 2 Julai 2013

Berpuasa Tetapi Meninggalkan Solat

Barangsiapa berpuasa tapi meninggalkan shalat, berarti ia meninggalkan rukun terpenting darirukun-rukun Islam setelah tauhid. Puasanya sama sekali tidak bermanfaat baginya, selama ia meninggalkan shalat. Sebab shalat adalah tiang agama, di atasnyalah agama tegak. Dan orang yang meninggalkan shalat hukumnya adalah kafir. Orang kafir tidak diterima amalnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir. " (HR. Ahmad dan Para penulis kitab Sunan dari hadits Buraidah radhiallahu 'anhu )  At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan shahih, Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menshahihkannya.
Jabir radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
(Batas) antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat."
 (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Tentang keputusan-Nya terhadap orang-orang kafir, Allah  berfirman :
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. "(Al-Furqaan: 23).
Maksudnya, berbagai amal kebajikan yang mereka lakukan dengan tidak karena Allah, niscaya Kami hapus pahalanya, bahkan Kami menjadikannya sebagai debu yang beterbangan.
Demikian pula halnya dengan meninggalkan shalat berjamaah atau mengakhirkan shalat dari waktunya. Perbuatan tersebut merupakan maksiat dan dikenai ancaman yang keras. Allah Ta'ala berfirman:
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. "
 (Al-Maa'un: 4-5).
Maksudnya, mereka lalai dari shalat sehingga waktunya berlalu. Kalau Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengizinkan shalat di rumah kepada orang buta yang tidak mendapatkan orang yang menuntunnya ke masjid, bagaimana pula halnya dengan orang yang pandangannya tajam dan sehat yang tidak memiliki udzur.?
Berpuasa tetapi dengan meninggalkan shalat atau tidak berjamaah merupakan pertanda yang jelas bahwa ia tidak berpuasa karena mentaati perintah Tuhannya.Jika tidak demikian, kenapa ia meninggalkan kewajiban yang utama (shalat)? Padahal kewajiban-kewajiban itu merupakan satu rangkaian  utuh yang tidak terpisah-pisah, bagian yang satu menguatkan bagian yang lain.
Catatan Penting:
  1. Setiap muslim wajib berpuasa karena iman dan mengharap pahala Allah, tidak karena riya' (agar dilihat orang), sum'ah (agar didengar orang), ikut-ikutan orang, toleransi kepada keluarga atau masyarakat tempat ia tinggal. Jadi, yang memotivasi dan mendorongnya berpuasa hendaklah karena imannya bahwa Allah mewajibkan puasa tersebut atasnya, serta karena mengharapkan pahala di sisi Allah dengan puasanya.
    Demikian pula halnya dengan Qiyam Ramadhan (shaiat malam/tarawih), ia wajib menjalankannya karena iman dan mengharap pahala Allah, tidak karena sebab lain. Karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
    "Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, barangsiapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu danbarangsiapa melakukan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahalaAllah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Muttafaq 'Alaih). 
  2. Secara tidak sengaja, kadang-kadang orang yang berpuasa terluka, mimisan (keluar darah dari hidung), muntah, kemasukan air atau bersin di luar kehendaknya. Hal-hal tersebut tidakmembatalkan puasa. Tetapi orang yang sengaja muntah maka puasanya batal, karenaRasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
    "Barangsiapa muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha' atasnya, Ctetapi) barangsiapa sengaja muntah maka ia wajib mengqadha' puasanya. "
     (HR.Imam Lima kecuali An-Nasa'i) (Al Arna'uth dalam Jaami'ul Ushuul, 6/29 berkata : "Hadits ini shahih.")
     
  3. Orang yang berpuasa boleh meniatkan puasanya dalam keadaan junub (hadats besar), kemudian mandi setelah terbitnya fajar. Demikian pula halnya dengan wanita haid, atau nifas, bila sudi sebelum fajar maka ia wajib berpuasa. Dan tidak mengapa ia mengakhirkan mandi hingga setelah terbit fajar, tetapi ia tidak boleh mengakhirkan mandinya hingga terbit matahari. Sebab ia wajib mandi dan shalat Shubuh sebelum terbitnya matahari, karena waktu Shubuh berakhir dengan terbitnya matahari.
    Demikian pula halnya dengan orang junub, ia tidak boleh mengakhirkan mandi hingga terbitnya matahari. Ia wajib mandi dan shalat Shubuh sebelum terbit matahari. Bagi laki-laki wajib segera mandi, sehingga ia bisa mendapatkan shalat jamaah.
     
  4. Di antara hal-hal yang tidak membatalkan puasa adalah: pemeriksaan darah,  (Misalnya dengan mengeluarkan sample (contoh) darah dari salah satu anggota tubuh) suntik yang tidak dimaksudkan untuk memasukkan makanan. Tetapi jika memungkinkan- melakukan hal-haltersebut pada malam hari adalah lebih baik dan selamat, sebab Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda :
    "Tinggalkan apa yang membuatmu ragu, kerjakan apa yang tidak membuatmu ragu. " (HR. An- Nasa'i dan At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih)Dan beliau juga bersabda :
    "Barangsiapa menjaga (dirinya) dari berbagai syubhat maka sungguh dia telah berusaha menyucikan agama dan kehormatannya." ( Muttafaq 'Alaih)Adapun suntikan untuk memasukkan zat makanan maka tidak boleh dilakukan, sebab hal itutermasuk kategori makan dan minum. (Lihat kitab Risaalatush Shiyaam, oleh Syaikh AbdulAzis bin Baz, hlm. 21-22)
     
  5. Orang yang puasa boleh bersiwak pada pagi atau sore hari. Perbuatan itu sunnah,sebagaimana halnya bagi mereka yang tidak dalam keadaaan puasa.

Isnin, 1 Julai 2013

Doa Akhir Syaaban dan Doa Awal Ramadhan

بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Umat Islam bakal meninggalkan bulan Syaaban dan akan menjelang Bulan Ramadhan al-Mubarak pula. Maka eloklah membaca ‘Doa Meninggalkan Hari Terakhir Bulan Syaaban’ dan ‘Doa Menyambut Bulan Ramadhan’ berikut bagi memantapkan keimanan kita;
“Ya Allah! Sesungguhnya bulan ini adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an dan dijadikan petunjuk bagi manusia, penjelasan dari petunjuk dan perselisihan. Bulan Ramadhan telah datang, maka selamatkan kami di dalamnya, salurkan kedamaiannya pada kami, jadikan ia keselamatan bagi kami dalam kemudahan dan keselamatan dari-Mu. Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan mensyukuri yang banyak, terimalah amalku yang sedikit ini.

Ya Allah! Daku memohon kepada-Mu, jadikan bagiku jalan pada semua kebaikan, dan penghalang dari semua yang tidak Dikau cintai, wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi. Wahai Yang Memaafkan kesalahanku dan keburukan yang kusembunyikan. Wahai Yang Tidak menyiksaku kerana perbuatan maksiatku, maafkan daku, maafkan daku, maafkan daku wahai Yang Maha Mulia.

Tuhanku! Dikau sedarkan daku, tapi daku belum juga menyedarinya. Dikau halau daku dari larangan-Mu, tapi daku belum juga terhalau, lalu apalagi alasanku, maafkan daku wahai Yang Maha Mulia, maafkan daku, maafkan daku!!!

Ya Allah! Daku memohon kepada-Mu kedamaian saat kematian menjemputku, dan maafkan daku ketika amalku dihisab. Besar sudah dosa hamba-Mu ini, maka ampuni daku dengan ampunan yang baik dari sisi-Mu wahai Yang Maha Menjaga dan Maha Mengampuni, maafkan daku, maafkan daku.

Ya Allah! Daku adalah hamba-Mu putera hamba-Mu, yang lemah dan perlu pada rahmat-Mu. Sementara Dikau Yang Menurunkan kekayaan dan keberkahan kepada semua hamba-Mu, Dikau Maha Perkasa dan Maha Kuasa, Dikau menghitung semua amal mereka, Dikau yang membagikan rezeki mereka. Dikau ciptakan mereka berbeza-beza dalam bahasa dan kulit dari generasi ke generasi berikutnya. Hamba-Mu tak akan mampu mengetahui semua ilmu-Mu, hamba-Mu tak akan mampu menolak takdir-Mu. Kami semua perlu pada rahmat-Mu, maka jangan palingkan wajah-Mu dariku, jadikan daku tergolong pada hamba-Mu yang soleh dalam amal dan keinginan, dalam ketetapan dan takdir-Mu.

Ya Allah! Hidupkan daku dalam kehidupan yang paling baik, dan matikan daku dalam kematian yang terbaik mengikuti para kekasih-Mu dan menjauhi musuh-musuh-Mu, takut dan patuh pada-Mu, memenuhi dan menerima perintah-Mu, membenarkan kitab-Mu dan mengikuti sunnah Rasul-Mu.

Ya Allah! Semua yang ada dalam hatiku: keraguan, penentangan, keberputus-asaan, kesenangan yang berlebihan, kesombongan, keangkuhan ketika mendapat nikmat, prasangka buruk, riya’ atau suka pujian, permusuhan, kemunafikan atau kekufuran, kefasikan atau kemaksiatan, atau kebanggaan, atau sesuatu yang lain yang tidak Dikau redhai.

Kerana itu, daku memohon kepada-Mu, gantikan semua itu dengan keimanan pada janji-Mu, mematuhi perintah-Mu, redha pada ketentuan-Mu, kehidupan zuhud di dunia, harapan pada yang ada di sisi-Mu, kedamaian dan taubat yang sebenarnya; daku memohon semua itu kepada-Mu Ya Rabbal ‘alamin.

Tuhanku! Dikau dikianati dan dicurangi kerana kelembutan-Mu, Dikau ditaati kerana kemuliaan dan kedermawanan-Mu, seolah-olah Dikau tidak pernah dicurangi olehku dan oleh seluruh penghuni bumi. Maka jadilah Dikau bagi kami Yang Maha Pemurah dengan segala karunia-Mu, Yang Maha Perihatin dengan segala kebaikan-Mu. Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi!

Semoga selawat sentiasa tercurahkan kepada Muhammad SAW dan keluarganya, selawat yang abadi yang tak terhitung jumlahnya dan tak terukur nilainya oleh selain-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi!”
.
(Petikan dari kitab Mafatihul Jinan, bab 2, pasal 2)

 .
.

Doa Menyambut Ramadhan 2

.
Salah satu cara terbaik untuk menyambut masuknya bulan suci Ramadhan al-Mubarak adalah dengan berdoa. Satu lagi riwayat para sahabat, Rasulullah SAW telah membaca Doa Menyambut Ramadhan berikut :
.
“Ya Allah, telah tiba bulan Ramadhan. Wahai Tuhan pemilik bulan Ramadhan, Dikau telah menurunkan Al-Qur’an di dalamnya dan telah menjadikannya sebagai penjelasan atas petunjuk dan perbezaan antara yang hak dan yang batil. Wahai Tuhan kami, berkatilah kami di dalamnya dan bantulah kami dalam melaksanakan puasa dan menunaikan solat di dalamnya. Terimalah amal-amal kami di bulan ini.

Ya Allah, segala puji bagiMu yang telah membimbing kami untuk memujiMu supaya kami mengerti bersyukur atas segala kebaikanMu dan supaya Dikau membalas kami dengan balasan yang Dikau berikan pada mereka yang berbuat kebajikan.

Segala puji bagi Allah yang menganugerahi kami dengan agamaNya, mengistimewakan kami dengan millahNya dan menunjukkan kami jalan-jalan kebaikanNya, dengan pujian yang Dia terima dari kita dan membuatNya redha kepada kita.

Segala puji bagi Allah yang menjadikan di antara jalan-jalan (kebaikanNya) adalah bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan Islam, bulan kesucian, bulan pembersihan, bulan menegakkan solat malam, bulan yang di dalamnya Al Qur’an diturunkan sebagai penyuluh dan penjelasan petunjuk dan pembeza bagi manusia. (QS Al Baqarah: 185).

Dia menjelaskan keutamaan bulan ini melebihi semua bulan dengan menjadikannya berlimpah dengan kesucian dan bertabur dengan fadhilah. Dia mengharamkan di bulan ini yang dihalalkan di bulan lain sebagai pengagungan untuknya. Dia larang di bulan ini makan dan minum sebagai penghormatan untuknya. Dia jadikan di bulan ini waktu-waktu tertentu (saat sahur dan buka) yang tidak boleh didahulukan dan tidak boleh diakhirkan.
Lalu, Dia muliakan satu malam di antara malam-malam bulan ini melebihi malam-malam seribu bulan. Dia namakan malam itu dengan malam Lailatul Qadar. Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, menebar kedamaian (bagi mereka) (QS al-Qadr:4-5) terus-menerus dan menaburkan keberkahan sampai terbit fajar kepada siapa saja dikehendaki dari para hamba Allah sesuai dengan ketentuan dan ketetapanNya.
Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya dan ilhamkan kepada kami untuk mengenal kebesarannya (Ramadhan), mengagungkan kesuciannya, menjaga apa yang dilarangnya. Bantulah kami untuk menjalankan puasanya dengan menahan anggota badan dari dehaka kepadaMu dan menggunakannya untuk segala apa yang Dikau redhai.

Telinga-telinga kami tidak sampai mengarah pada sia-sia, mata-mata kami tidak terpusat pada kealpaan, tangan-tangan kami tidak kami hulurkan pada larangan, kaki-kaki kami tidak kami langkahkan pada keburukan, perut-perut kami tidak kami isi kecuali dengan yang Dikau halalkan, lidah-lidah kami tidak berbicara kecuali yang Dikau contohkan. Kami tidak melakukan kecuali yang mendekatkan pahalaMu dan kami tidak mengerjakan kecuali yang dapat menghindarkan kami dari siksaMu.

Maka bersihkanlah semua (amal-amal) itu dari sifat riak dan dari membangga diri. Di bulan ini kami tak akan menyekutukanMu dengan siapapun dan tidak akan mencari kerinduan selain kepadaMu.

Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya. Bantulah kami di bulan Ramadhan untuk menjaga waktu-waktu solat yang lima dengan hukum-hukumnya yang telah Dikau tentukan, fardhu-fardhunya yang Dikau fardhukan, tugas-tugasnya yang Dikau tugaskan, dan waktunya yang Dikau tetapkan.

Di dalam solat kami naikkan kami ke tingkatan orang yang memelihara tahap-tahapnya, menjaga rukun-rukunnya, melakukannya pada waktu yang sesuai dengan apa yang disunahkan hambaMu, RasulMu SAW, dalam ruku’nya, sujudnya, dan semua geraknya, dengan kesucian yang paling tinggi dan paling sempurna, dengan kekhusyuakn yang paling nyata.

Dalam bulan ini, bantulah kami untuk menyambungkan persaudaraan dengan kebajikan dan kekeluargaan, memperhatikan jiran kami dengan bantuan dan pemberian, membebaskan harta kami dari tuntutan, membersihkannya dengan mengeluarkan zakat, mendekatkan lagi orang yang menjauhi kami, memperlakukan dengan adil orang yang menyakiti kami, berdamai dengan orang yang memusuhi kami, kecuali dalam permusuhan yang semata-mata keranaMu dan untukMu, kerana dialah musuh yang tidak kami senangi dan golongan yang tidak kami sukai.

Dalam bulan ini, bantulah kami untuk mendekatkatiMu dengan amal-amal suci yang membersihkan dosa-dosa kami dan menjaga kami dari mengulangi kecelaan, sehingga para malaikatMu tidak lebih banyak memasuki pintu-pintu ketaatan dan macam-macam peribadatan daripada yang kami persembahkan untukMu.

Ya Allah, daku bermohon kepadaMu demi hak bulan ini, demi hak siapa saja yang menyembahMu, sejak permulaannya sampai waktu kematiannya, para malaikat yang Dikau dekatkan, para nabi yang Dikau kirim, para hamba soleh yang Dikau istimewakan, sampaikanlah selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya. Di bulan ini, jadikanlah kami orang yang layak menerima anugerah yang Dikau janjikan kepada para kekasihMu, yang Dikau pastikan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh beribadah kepadaMu. Tempatkan kami dalam kelompok orang yang berhak mendapat tempat paling mulia dengan rakhmatMu.

Ya Allah, sampaikanlah selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya, jauhkanlah kami dari ketergelinciran dalam bertauhid kepadMu, kekurangan dalam memujiMu, keraguan terhadap agamaMu, keburukan dari jalanMu, kelalaian akan kesucianMu, ketertipuan oleh musuhMu, setan yang terkutuk!

Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya. Jika pada malam-malam bulan ini ada hamba yang tengkuknya dibebaskan dengan ampunanMu atau dianugerahi maafMu, tempatkan kami pada kelompok dan orang yang terbaik di bulan ini.

Ya Allah, hilangkan dosa-dosa kami bersamaan dengan hilangnya bulan sabit Ramadhan, lepaskan beban-beban kami bersamaan dengan berlalunya hari-harinya, sehingga ketika bulan ini meninggalkan kami, Dikau telah membersihkan kami deri kesalahan, Dikau sudah melepaskan kami dari keburukan.

Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya, jika kami di bulan ini menyimpang, luruskanlah; jika kami tergelincir, tegakkanlah; jika syaitan musuh kami mencengkeram, selamatkanlah kami.

Ya Allah, penuhi bulan ini dengan pengabdian kami kepadaMu, hiasi waktu-waktunya dengan ketaatan kami kepadaMu, bantulah kami pada waktu siangnya dengan puasa dan malamnya dengan solat khusyuk, tunduk dan merendah kepadaMu. Sehingga siangnya tidak menyaksikan kami dalam kelalaian, malamnya tidak melihat kami dalam kealpaan. Ya Allah, jadikan kami seperti ini juga di bulan-bulan lain, sepanjang Dikau hidupkan kami.

Jadikan kami di antara hamba-hambaMu yang soleh yang menwarisi Firdaus dan kekal di dalamnya (QS Al Mukminun:11), yang memberikan apa yang mereka berikan dalam keadaan gemetaran (mengetahui) bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan, mereka termasuk orang-orang yang berlumba-lumba mendapat kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehinya.
Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya pada setiap waktu dan saat, pada segala keadaan, sebanyak selawat yang Dikau berikan kepadanya dan gandakan selawat itu dengan kelipatan yang hanya Dikau yang dapat menghitungnya. Sungguh Dikau melakukan apa yang Dikau kehendaki.”
.
*) Syaikh Rakhiuddin, Iqbal al-A’mal, Muassasah al-A’la Li al-Mathbu’at, Beirut, 1996, hal. 322.
.
.

والله أعلم بالصواب

Wallahu A’lam Bish Shawab
 (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

Selasa, 25 Jun 2013

Afiqme Mohamad: Adakah benar seorang ayah akan dihumban ke neraka ...

Afiqme Mohamad: Adakah benar seorang ayah akan dihumban ke neraka ...: Ramai orang yang berkongsikan di Facebook bahawa jika seorang anak perempuan tidak menutup aurat atau memakai tudungnya, maka ibu bapanya te...

Jumaat, 21 Jun 2013

ADAKAH KITA MENYEMBAH KAABAH?

"Kenapa orang Islam sembah bangunan kain hitam tu?"
"Oh.... itu Kaabah atau nama lainnya Baitullah"
"Baitullah tu apa?" ...
"Secara terjemahan mudah maknanya Rumah Allah"
"Allah ada dalam tu?"
"Tak....."
"Jadi, kenapa sembah bangunan tu kalau Allah tak ada dalam tu?"
"Yang saya sembah bukannya bangunan tu.."
"Kamu sembah apa?"
"Saya sembah Allah swt"
"Jadi, kenapa sembah bangunan tu?"
"Saya MENGHADAP sahaja ke arah Kaabah tetapi saya tak sembah Kaabah.."
"Bukankah kamu sujud ke arah Kaabah, maknanya kamu sembah Kaabah la.."
"Kamu pernah tgk perlawanan bola dalam TV?"
"Pernah...... selalu.."
"Kamu tengok tv ke tengok perlawanan bola?"
"Tengok perlawanan bola la.."
"Di mana?"
"Dalam tv la.."
"Cuba buka tv tu, tengok di dalamnya ada stadium dan perlawanan bola ke tak.."
"Memanglah tak ada.. tapi itukan gambarnya ada.."
"Bukalah dalam tv, tengok ada ke tak gambar perlawanan bola dalam tu.."
"So..?"
"Maknanya kamu tengok tv, bukan perlawanan bola.. betul tak?"
"Tak.. aku tengok perlawanan bola la melaui tv tu.."
"Peliknya.."
"Sebab apa pulak pelik?"
"Ye la, kau cakap tengok perlawanan bola, sedangkan aku tengok dalam tv tu tak ada apa-apa.. yg ada hanya wayar je berselirat.."
"Memanglah dalam tv tu ada banyak wayar, tapi tv tu menayangkan gambar-gambar perlawanan bola dalamnya.."
"Hurm.. jadi tak peliklah ni..?"
"Ya.. tak pelik.."
"Jadi tak pelik jugalah aku sujud ke arah Kaabah untuk menyembah Allah swt. walau pun dalam Kaabah tak ada Allah.."
Ini pula kata2 sahabat nabi berdebat dan mmberi perumpamaan. org kafir mengatakan dimana kah Allah? sedangkan kami (org2 kafir) nampak dan boleh menyentuh tuhan kami. sahabat pun bg perumpamaan.. "saudara tahukah dimana nye letak NYAWA saudara?.
Anda boleh copy dan share untuk perkongsian
Insyaallah
P/S: (" Kaabah merupakan kiblat bagi manusia di bumi ini. Ia juga melambangkan kesatuan manusia dan perpaduan ummah. Hakikat sebenarnya, orang Islam tidak menyembah kaabah, sedangkan kaabah sendiri adalah makhluk Allah S.W.T Orang Islam adalah menyembah Allah S.W.T yang Maha Esa. Orang Islam diperintahkan untuk menghadapkan dirinya kepada kaabah bagi menunjukkan perpaduan dan kekuatan.
Jom kita bayangkan orang yang solat di atas kapal terbang, adakah dia perlu berbongkok untuk mengadap kaabah yang berada di bawah? Tidak, bahkan dia wajib untuk berdiri tegak dan perlu mengadap kaabah pada permulaan solat sahaja. Jika kapal terbang itu berpusing ke arah bertentangan Kaabah, orang yang bersolat itu tidak perlu lagi berpusing ke arah kaabah. Solatnya sudah sah walaupun tidak mengadap kaabah. Wallahu'Alam.")

CCTV Camera Footage of Penang UMNO Building Incident

CCTV Camera Footage of Penang UMNO Building Incident

Cara Nabi SAW Membaca Al-Quran

Di dalam tulisan bertajuk Kelebihan Membaca dan Menghayati Al-Qurantelah disenaraikan beberapa hadith Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam mengenai anjuran, galakan dan kelebihan berkaitan Al-Quran.  Semoga dengannya kita semakin bersemangat untuk mendampingkan diri kita dengan Al-Quran, in shaa’ ALLAH.
Berikut ini pula diterangkan mengenai cara Rasulullah sallAllahu `alaihi wa sallam membaca Al-Quran.  Tujuannya adalah supaya kita sama-sama meniru dan mengikuti cara yang terbaik ini, in shaa’ ALLAH.  Hadith-hadith adalah dipetik dari Syama’il Muhammadiyyah susunan al-Imam at-Turmudzi dan Riyadhus Solihin susunan al-Imam an-Nawawi – rahimahumallah.

1)  Membaca dengan jelas, perkataan demi perkataan.

Ya`la bin Mamlak radhiAllahu `anhu bertanya kepada Ummu Salamah radhiAllahu `anha mengenai cara Rasulullah sallAllahu `alaihi wa sallam membaca Al-Quran.  Lalu Ummu Salamah menjelaskan bahawa Rasulullah membaca Al-Quran dengan jelas, perkataan demi perkataan.
(Diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Turmudzi dan Nasa’i)

2)  Memanjangkan bacaan sesuai dengan hukum tajwid

Qatadah radhiAllahu `anhu berkata, aku bertanya kepada Anas bin Malik radhiAllahu `anhu:
“Bagaimanakah cara Rasulullah sallAllahu `alaihi wa sallam membaca Al-Quran?”
Anas menjawab:  “Baginda memanjangkan bacaan (sesuai dengan hukum tajwid).”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Daud, at-Turmudzi, Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad)

3)  Memotong bacaan pada setiap ayat.

Ummu Salamah radhiAllahu `anha berkata:
“Adalah Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam memotong bacaan Baginda (pada setiap ayat). 
Baginda membaca ‘  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  ‘ lalu berhenti. 
Kemudian Baginda membaca ‘  الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ  ‘ lalu berhenti. 
Kemudian Baginda membaca ‘  مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ  ‘.”
(Diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah)

4)  Kadang-kala dengan suara yang perlahan, kadang-kala dengan suara yang kuat.

`Abdullah bin Abi Qais radhiAllahu `anhu berkata:
Aku bertanya kepada `A’ishah radhiAllahu `anha mengenai bacaan Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam:  “Adakah Baginda membaca secara perlahan atau pun kuat?”
Beliau menjawab:  “Baginda pernah membaca dengan kedua-dua cara.  Kadang-kala Baginda membaca dengan perlahan.  Dan kadang-kala Baginda membaca dengan kuat.”
Aku membalas:  “Seluruh pujian kepada ALLAH yang memberikan kemudahan dan kesenangan dalam perkara ini.”
(Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, at-Turmudzi, Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad)

5)  Membaca dengan suara yang indah

`Abdullah bin Mughaffal radhiAllahu `anhu berkata:
Aku melihat Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam duduk di atas tunggangannya pada Hari Pembebasan Makkah sambil membaca:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا.  لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
(Sesungguhnya Kami telah membuka bagi perjuanganmu (wahai Muhammad) satu jalan kemenangan yang jelas nyata.  Kemenangan yang dengan sebabnya Allah mengampunkan salah dan silapmu yang telah lalu dan yang terkemudian…)
`Abdullah bin Mugahffal berkata:  “Baginda membaca ayat ini dengan suara yang indah.”
Mu`awiyyah bin Qurrah (seorang daripada yang merekodkan hadith ini) berkata:  “Seandainya orang tidak berkumpul di sekelilingku, pasti akan kubaca seperti itu” atau “sama indah bacaannya dengan Rasulullah.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Turmudzi, Nasa’i dan Ahmad.)
Dari al-Bara’ bin `Azib radhiAllahu `anhu berkata:
“Aku mendengar Rasulullah sallAllahu `alihi wa sallam membaca pada waktu `Isya’ surah وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ.  Aku belum pernah mendengar seorang pun yang suaranya lebih merdu dari suara Baginda.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

6)  Kadang-kala mendengar orang lain membaca Al-Quran

Dari Ibnu Mas`ud radhiAllahu `anhu berkata:
Bahawa Nabi sallAllahu `alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Bacakanlah Al-Quran untukku.”
Aku berkata:  “Wahai Rasulullah, saya membacakan Al-Quran untuk tuan?  Padahal kepada tuan lah Al-Quran diturunkan.”
Baginda bersabda:  “Sesungguhnya aku ingin mendengar Al-Quran dibaca oleh orang lain.”
Maka aku pun membacakan untuk Baginda surah an-Nisa’ sehingga sampai ayat:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
(Maka bagaimanakah (keadaan orang-orang kafir pada Hari Akhirat kelak), apabila KAMI datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (iaitu Rasul mereka sendiri menjadi saksi terhadap perbuatan mereka), dan KAMI juga datangkan engkau (wahai Muhammad) sebagai saksi terhadap umatmu ini?).
Kemudian Baginda bersabda:  “Cukuplah sampai di sini.”
Saya menoleh kepada Baginda, tiba-tiba kedua matanya mencucurkan air mata.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
*Ayat tersebut adalah ayat ke-41, surah an-Nisa’.
Semoga bermanfaat.  Mudah-mudahan hidayah dan taufiq ALLAH tercurah ke atas kita semua, amin…

Beberapa Pendapat Ulama Muktabar Tentang Sambutan Nisfu Sya`ban

Rasulullah sallAllahu `’alaihi wasallam bersabda:
“ALLAH melihat kepada hamba-hambaNYA pada malam nisfu Sya`ban, maka DIA mengampuni semua hamba-hambaNYA kecuali yang musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuh (orang benci membenci).”
(Hadith Riwayat Ibn Hibban, al-Bazzar dan lain-lain).  Al-Albani mensahihkan hadith ini dalam Silsilah al-Ahadith al-Sahihah. (jilid 3, .m.s. 135, cetakan: Maktabah al-Ma`arf, Riyadh)
Hadith di atas merupakan hadith yang sahih dari Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam berkenaan fadhilat nisfu Sya’ban.  Terdapat banyak lagi dikatakan hadith-hadith yang membentangkan tentang fadhilat dan kaifiat sempena Nisfu Sya`ban.  Namun, hadith-hadith tersebut telah dikategorikan sebagai dhaif (lemah) dan maudhu` (palsu).
Adapun berkenaan beberapa amalan masyarakat umum dalam menyambut nisfu Sya`ban, berikut disenaraikan beberapa pandangan `ulama muktabar tentangnya:

(1)  Dr. Yusuf al-Qaradawi:

“Tidak pernah diriwayatkan daripada Nabi sallAllahu `alaihi wasallam dan para sahabat bahawa mereka berhimpun di masjid pada untuk menghidupkan malam nisfu Sya`ban, membaca do`a tertentu dan solat tertentu seperti yang kita lihat pada sebahagian negeri orang Islam. Bahkan di sebahagian negeri, orang ramai berhimpun pada malam tersebut selepas maghrib di masjid. Mereka membaca surah Yasin dan solat dua raka`at dengan niat panjang umur, dua rakaat yang lain pula dengan niat tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca do`a yang tidak pernah dipetik dari golongan salaf (para sahabah, tabi`in dan tabi’ tabi`in). Ianya satu do`a yang panjang, yang menyanggahi nusus (al-Quran dan Sunnah) juga bercanggahan dan bertentang maknanya…perhimpunan (malam nisfu Syaaban) seperti yang kita lihat dan dengar yang berlaku di sebahagian negeri orang Islam adalah bid`ah dan diada-adakan. Sepatutnya kita melakukan ibadat sekadar yang dinyatakan dalam nas. Segala kebaikan itu ialah mengikut salaf, segala keburukan itu ialah bid`ah golongan selepas mereka, dan setiap yang diadakan-adakan itu bid`ah, dan setiap yang bid`ah itu sesat dan setiap yang sesat itu dalam neraka.”
(Dr. Yusuf al-Qaradawi, jilid 1, m.s. 382-383, cetakan: Dar Uli al-Nuha, Beirut)

(2)  Dr. Yusuf al-Qaradawi:

“(Tentang malam Nisfu Sya’ban, tidak terdapat hadis-hadis yang sampai ke martabat sahih yang menyebut tentangnya, kecuali ia berada di martabat hasan di sisi sebahagian ulama, dan terdapat juga sebahagian ulama yang menolaknya dan mengatakan bahawa tidak terdapat sebarang hadis sahih tentang malam Nisfu Sya’ban, sekiranya kita berpegang bahawa hadis tersebut berada di martabat hasan, maka apa yang disebut di dalam hadis tersebut ialah Nabi saw hanya berdoa dan beristighfar pada malam ini, tidak disebut sebarang doa yang khusus sempena malam ini, dan doa yang dibaca oleh sebahagian manusia di sesetengah negara, dicetak dan diedarkannya adalah doa yang tidak ada asal sumbernya (daripada hadis sahih) dan ia adalah salah).
(Terdapat juga di sesetengah negara yang mereka berkumpul selepas solat Maghrib di masjid-masjid dan membaca surah Yaasin, kemudian solat dua rakaat dengan niat supaya dipanjangkan umur, dan dua rakaat lagi supaya tidak bergantung dengan manusia, kemudian membaca doa yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan salaf, dan ia adalah doa yang bercanggah dengan nas-nas yang sahih, juga bersalahan dari segi maknanya).”
(Al-Qaradhawi, Fatawa al-Muasarah (Kuwait: Dar al-Qalam, cet.5, 1990), 2/379-383)

(3)  Al-Hafiz al-Iraqi:

“Hadis tentang solat pada malam Nisfu Sya`ban adalah maudhu`, direka cipta dan disandarkan kepada Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.”

(4)  Al-Imam al-Nawawi di dalam kitabnya al-Majmu’:

“Solat yang dikenali sebagai solat al-Raghaib iaitu solat sebanyak dua belas rakaat antara Maghrib dan `Isya’ pada malam Jumaat pertama bulan rejab dan solat sunat pada malam Nisfu Sya`ban sebanyak seratus rakaat adalah dua jenis sembahyang yang bid`ah (ditokok tambah dalam agama).”
(Rujuk: Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baaz, al-Tahzir min al-Bida’, cetakan ke-3, Uni.Islam Madinah, hal. 14).

(5)  Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baaz:

“Dan di antara perkara-perkara ibadah yang direka cipta oleh manusia ialah merayakan malam Nisfu Sya’ban dan berpuasa sunat khusus pada siangnya, dan tidaklah ada sebarang dalil yang mengharuskan perkara ini. Riwayat yang menyatakan tentang kelebihan amalan ini adalah dhaif dan tidak boleh berhujah dengannya. Ada pun riwayat yang menyebut tentang kelebihan solat yang khas, semuanya adalah maudhu’ seperti mana yang telah dijelaskan oleh kebanyakan ahli ilmu).”
(Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baaz, al-Tahzir min al-Bida’, hal. 11).

(6)  Al-Imam as-Suyuti:

“(Dan pada malam Nisfu Sya’ban itu padanya kelebihan, dan menghidupkannya dengan ibadah adalah digalakkan, tetapi hendaklah dilakukan secara bersendirian bukan dalam bentuk berjemaah).”
(Rujuk: al-Suyuti, al-amru bi al-ittiba’ wa al-nahyu an al-ibtida’ (Beirut: Dar al-kutub al-Ilmiyah, cet. 1, 1998), hal 61)

Kesimpulan

  • Beribadatlah mengikut apa yang telah disyariatkan melalui nas sahih yang diperolehi dari al-Quran dan as-Sunnah.  Jangan sekadar mengamalkan sesuatu ibadah kerana ikut-ikutan, tanpa sandaran yang kukuh dari al-Quran dan as-Sunnah.
  • Perbanyakkanlah ibadah pada malam Nisfu Sya`ban dengan mengambil fadhilat dari hadith yang telah disebut di atas.  Dirikanlah solat sunnat, baca al-Quran dan lain-lain amalan baik bagi mendekatkan diri kepada ALLAH.  Tiada amalan ibadah tertentu dan khas yang bersumberkan nas yang sahih sempena Nisfu Sya`ban.  Hal ini telah disebut oleh beberapa ulama seperti di atas.
  • Jauhkan dari perbuatan syirik dan sifat permusuhan.  Kerana dua sifat yang buruk ini membuatkan diri seseorang tidak mendapat keampunan ALLAH pada malam Nisfu Sya`ban.
  • Berhati-hatilah dengan ancaman Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam dalam hal berdusta ke atas Baginda SAW.  Berdusta ke atasnya bermaksud menyandarkan sesuatu amalan dan perkara kepada Baginda sallAllahu `alaihi wasallam, walhal Nabi SallAllahu `alaihi wasallam tidak pernah berkata, perbuat atau bersetuju amalan sebegitu.  Sabda Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam yang bermaksud:
Sesungguhnya berdusta ke atasku (menggunakan namaku) bukanlah seperti berdusta ke atas orang lain (menggunakan nama orang lain). Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka siaplah tempat duduknya dalam neraka”  (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan selain mereka)
Semoga ALLAH Yang Maha Pengampun mengampuni dosa-dosa kita, amin.
WAllahu Ta`ala A`lam.

Isnin, 17 Jun 2013

Cara Mengapankan Jenazah

  1. Mayat diletakkan di atas kain yang sudah diap di susun.
  2. Letakkan kapas pada rongga-rongga pada badan mayat seperti telinga, tempat luka jika ada, anggota-anggota sujud seterusnya sampai ke kaki.
  3. Tangan diqiamkan atau diluruskan.
  4. Pakaikan kain, baju, telekong dan seterusnya 2 lapisan kain yang menutupi seluruh badan. (mulakan dari kiri ke kanan dan kanan ke kiri).
  5. Percikkan air mawar atau minyak atar di atas kapan.
  6. Akhirnya diikatkan dengan tali ikatan yang disediakan (hujung kepala, dada, pinggang, lutut dan hujung kaki).
Perbezaan Kapan Lelaki, Perempuan Dan Kanak-kanak
  1. Lelaki – 3 lapis.
  2. Perempuan – 5 lapis.
  3. Kanak-kanak – 3 lapis.
(makruh sekiranya kita menggunakan kain kafan yang mahal kerana ini adalah amalan yang membazir). Sabda Rasulullah saw :

“Jangan kamu permahalkan tentang kafan kamu, kerana sesungguhnya ia segera reput atau rosak”. (Riwayat Abu Daud)

Jenazah Di Dalam Ihram Haji Atau Umrah

Hendaklah dikafankan dengan pakaian ihram selepas dimandikan tidak boleh diletakkan minyak wangi atau wangian kepadanya.
  1. Bagi mayat lelaki – hendaklah dibuka kepalanya.
  2. Bagi mayat perempuan – hendaklah dibuka mukanya.

Teknik Kafan Mayat

Keperluan Kafan
  1. Kain puteh - 24 ela.
  2. Kapas - 2/3 gulung.
  3. Air Mawar - 1 botol.
  4. Minyak atar - 1 botol.
  5. Cendana - 1 peket.
  6. Kapur barus - 1 peket.
  7. Gunting, jarum, talam besar, benang.
Cara menyediakan Kain Kafan
  1. Bagi mayat lelaki sunat 3 helai kain kafan yang dapat menutupi semuanya. Di riwayatkan oleh jamaah dari Aisyah berkata : “Nabi saw dikafankan dengan tiga helai kain puteh halus yang baru, tanpa kemeja dan serban”.
  2. Bagi mayat perempuan 5 lapis, 2 helai kain kafan panjang mayat, 1 helai kain, 1 helai baju dan telekong.
  3. Bagi mendapatkan ukuran, ukur panjang mayat dari kepala hingga kaki kemudian di lebihkan sepanjang lilitan lutut apabila dibengkokkan kaki, ini memadai panjang kain untuk mengikat di pangkal (hujung) kepala kaki.
  4. Disediakan 5 kali untuk mengikat jenazah, hujung kepala, bahagian dada, pinggang, lutut dan hujung kaki.
  5. Potong kapas secukupnya. Sewaktu memotong kain kafan sunat membaca doa.

Cara Mengatur Kain Kafan
  1. Bentangkan tikar atau apa sahaja.
  2. Bentang 2 kain pembalut yang siap dipotong dengan satu persatu.
  3. Bentang kain telekong, baju dan kain sarung.
  4. Letakkan kapas dan cawat dibahagian dubur dan qubulnya.
  5. Taburkan cendana, kapur barus dan minyak wangi setiap lapisan kain yang sudah dibentangkan di bawah sekali diaturkan 5 tali pengikat jenazah yang siap dipotong.

Perkara Yang Perlu Dilakukan Sebelum & Selepas Memandikan Jenazah

Pendahuluan 

Mengurus jenazah orang Islam, merupakan fardhu kifayah, yakni apabila sudah dikerjakan oleh sebahagian dari orang Islam yang lain, maka yang lainnya tidak berdosa, akan tetapi apabila tidak seorang pun yang mengerjakan kewajipan tersebut, maka semua orang Islam dalam satu kampung atau kawasan tersebut akan berdosa.
Orang Yang Berhak Menguruskan Jenazah 

Orang yang berhak dan lebih afdal untuk menguruskan jenazah ialah dari kalangan keluarganya atau warisnya yang terdekat misalnya ; anaknya sendiri kalau simati bapanya. Kalau warisnya tidak ada kemampuan atau pengalaman, bolehlah diminta Imam atau Bilal di kawasan tersebut untuk menguruskannya.
Perkara Yang Perlu Diuruskan Oleh Warisnya 

Waris yang tertua hendaklah berpakat/berbincang berhubung dengan kematian. Di antara perkara yang perlu diuruskan oleh warisnya ialah :
  1. Urusan di Balai Polis bagi melaporkan kematian. Nota : Sekiranya jenazah itu meninggal di Hospital cukup dengan surat kebenaran atau pengesahan dari doktor.
  2. Membeli keperluan untuk urusan memandi dan mengkafankan mayat. 
  3. Menentukan bilal untuk memandikan mayat. 
  4. Urusan menggali kubur. 
  5. Menentukan Imam untuk sembahyang mayat.
  6. Menguruskan kenderaan untuk jenazah. 
  7. Ucapan takziah.
Syarat Mandi (ke atas mayat)
  1. Beragama Islam.
  2. Ada bersifat manusia.
  3. Ada tubuh manusia walaupun sebahagian daripadanya (ada mayat).
  4. Bukan mati syahid yang menegakkan kesucian Islam.
Syarat Ke atas Orang Hendak Memandikan Mayat
  1. Beragama Islam.
  2. Bukan musuh.
  3. Orang dewasa.
  4. Merdeka.
  5. Mempunyai kemahiran dan ilmu yang cukup. 
  6. Sabar.
  7. Tabah dan berani.
  8. Beramanah.
Rasulullah saw bersabda :

“Barang siapa yang memandikan mayat dan ia menyembunyikan ke atas apa yang dilihatnya, diampunkan oleh Allah swt empat puluh kali”.

Peralatan Dan Persiapan Mandi
  1. Tempat mandi/bilik mandi/tabir.
  2. Kain basahan dan tuala mandi.
  3. Air sabun – 1 baldi.
  4. Air cendana dan air kapur barus – 1 ceret.
  5. Sarung tangan.
  6. Kain sugi – 5 & 6 helai.
  7. Kain sugi – 7 & 9 gulung.
  8. Air daun bidara – 1 baldi.
  9. Kemeyan/setanggi sekiranya diperlukan.
  10. Pencebok atau gayung secukupnya.
  11. Tanah untuk tayammum.
Cara Memandikan Jenazah

Pada asasnya, mandi mayat sama dengan mandi wajib yang lain. Iaitu mengandungi 2 rukun. Pertamanya niat mandi dan keduanya meratakan air keseluruhan badan termasuklah bulu-bulu rambut dan umbi rambut. Cara-caranya ialah :
  1. Mayat diletakkan di tempat yang di khaskan.
  2. Dimandikan dalam sehelai kain yang boleh menyerapkan air serta menutup aurat.“Sesungguhnya Nabi saw telah dimandikan di dalam gamisnya (baju labuh)”. Maksud hadis.
  3. Bersihkan najis-najis pada tubuh dan kemaluannya. Kemudian diurut serta menekan perutnya supaya mengeluarkan najis atau kotoran yang ada dan membersihkannya. Niat beristinjak : “Sahaja aku beristinjak ke atas mayat ini kerana Allah taala”.
  4. Wudukkan mayat sepertimana orang hidup. Niat wuduk : “Sahaja aku mengambil wuduk yang sunat bagi mayat ini kerana Allah taala”.
  5. Mulakan mandi dengan air bersih. Disertai niat memandikan jenazah (hukum niat adalah sunat) (mandi adalah wajib). Lafaz niat : “Sahaja aku mandikan ke atas jenazah ini kerana Allah taala”.
  6. Setiap anggota mulakan disebelah kanan dahulu, dari Ummu Athiyah mengatakan ketika kami memandikan puteri Rasulullah saw, Zainab. Rasulullah bersabda mafhumnya : “Mulakan dengan memandikan bahagian anggota-anggota yang kanan dan anggota wuduk”. (Riwayat Al-Bukhari).
  7. Setelah dimandikan dengan air sabun, air daun bidara dan air mutlak sebanyak 3 kali, sekiranya tidak cukup memuaskan, maka lebihkan mandian menjadi 5 atau 7 kali. Rasulullah saw bersabda :“Mandikanlah jenazah-jenazah itu secara ganjil tiga, lima, tujuh kali atau lebih jika kamu pandang perlu”.
  8. Akhirnya mandikan dengan air kapur barus dan air cendana.
Beberapa Peringatan
  1. Ketika membasuh di sebelah kanan. “Ampunkanlah dia wahai tuhan dan kepada Engkaulah tempat kembali”.
  2. Ketika membasuh di sebelah kiri. “Ampunkanlah dia wahai Tuhan yang Maha Pemurah dan kepada Engkau tempat kembali”.
  3. Ketika mencurah air kapur barus (diakhir mandi jenazah). “Ampunkanlah dia wahai Tuhan yang Maha Pemurah dan kepada Engkau tempat kembali”.
  4. Sunat orang yang telah selesai memandikan jenazah, mandi sunat dengan niat “Sahaja aku mandi sunat selepas memandikan mayat kerana Allah Taala”.Begitu juga dengan orang yang mengangkatkan jenazah, sunat berwuduk untuk dirinya.
  5. Doa untuk mengelakkan dari badi mayat. “Dengan nama Allah yang tidak memberikan kemudharatan oleh sesuatu di bumi dan di langit. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Permasalahan
  1. Mayat lelaki atau perempuan dalam keadaan janabah (Berhadas besar) tidak dituntut mandi lagi kerana mandi mayat sudah memadai.
  2. Jika di dapati keluar najis atau darah setelah sempurna dimandikan memadai dibersihkan sahaja darah atau najis tersebut. Jika berlarutan keluarnya diikat dan dibalut dengan kapas atau kain.
  3. Jika rambut, kulit atau lainnya yang tanggal dari anggota badannya, wajib diambil dan dibasuh kemudian kapankan bersama-sama jasadnya.
  4. Jika didapati mayat di dalam sungai atau lombong yang sudah berubah atau reput, maka boleh kita selamkan semula mayat itu dalam 1 atau 2 minit dengan niat memandikan mayat (kira-kira meratakan air di seluruh anggotanya, nescaya sahlah mandinya jika tidak ada najis di badannya.
  5. Keguguran mengikut Imam Syafie, bayi cukup bulan ialah berumur dalam kandungan 6 bulan lahzah. Manakala bayi yang tidak cukup bulan ialah berumur 6 bulan lahzah ke bawah.
  6. Keguguran bayi cukup bulan, wajib disempurnakan empat perkara sepertimana jenazah orang dewasa iaitu mandi, kafan, sembahyang dan kebumikan.
  7. Keguguran bayi yang tidak cukup bulan : Jika keguguran itu ada tanda-tanda hidup seperti bersuara atau bergerak wajib disempurnakan sepertimana jenazah orang-orang dewasa (mandi, kafan, sembahyang dan di kebumikan). Jika keguguran itu tidak ada tanda-tanda hidup wajib disempurnakan tiga perkara sahaja iaitu mandi kafan dan kebumikan dengan tidak perlu disembahyangkan. Jika keguguran itu seketol darah dan belum bersifat manusia, sunat dibungkuskandengan kain lalu ditanamkan sahaja.
  8. Mayat kanak-kanak yang lahir, mati sebelum dipotong urinya. Sebelum dimandikan hendaklah dipotong urinya terlebih dahulu, kerana uri itu bukan anggota kanak-kanak tersebut dan bukan dari anggota ibunya. Uri itu najis, jika tidak dipotong, tidak sah sembahyang keatas kanak-kanak tersebut. Potong uri tidak dinamakan menyiksa mayat. Haram dimandikan, disembahyangkan dan ditanam uri bersama kanak-kanak tersebut. Uri perlu dibungkus dan ditanam begitu sahaja.
  9. Mengkebumikan mayat wanita mengandung. Diakui oleh doktor perubatan atau bidan yang anak dalam kandungan itu telah mati, baru boleh dikebumikan. Haram membelah perut ibu untuk mengeluarkan mayat anaknya di dalam kandungan. Sekiranya disahkan oleh doktor perubatan atau bidan, anak dalam kandungan masih hidup hendaklah dibelahkan perut ibunya untuk menyelamatkan anaknya.
Tayammum Dari Aspek Keadaan Mayat

Tayammum ialah menggunakan debu tanah yang suci lagi kering sebagai ganti daripada mandi mayat dan anggota yang tidak dapat kena air.
  1. Mayat yang harus ditayammum : Kerana ketiadaan air, mayat harus ditayammum berdasarkan firman Allah swt yang bermaksud : “Jika kamu tidak mendapat air (untuk mandi atau berwuduk), maka hendaklah kamu bertayamum”. (An-Nisa : 43). Mayat yang terlalu uzur (mati terbakar) kalau dimandikan hancur dagingnya. Mayat lelaki atau perempuan yang meninggal tempat yang terpencil yang susah mendapatkan air mutlak. Rasulullah saw bersabda mafhumnya : “Jika seorang wanita meninggal di lingkungan lelaki hingga tidak ada wanita lain, atau lelaki di lingkungan wanita-wanita di mana tidak ada lelaki lain, maka hendaklah mayat tersebut ditayammumkan lalu dimakamkan kedua mereka itu sama halnya dengan yang tidak mendapatkan air”.Kanak-kanak lelaki yang belum berkhatan. Mayat yang reput atau hancur.
  2. Niat Tayammum “Sahaja aku tayammumkan ke atas jenazah ini kerana Allah taala”.
Jenazah Yang Tidak Perlu dimandikan Atau Ditayammumkan 

Orang yang mati di medan pertempuran kerana menegakkan agama Allah dari musuh yang bukan Islam. Dari Jabir Bin Abdullah berkata mafhumnya :

“Sesungguhnya Nabi saw memerintah untuk menanamkan mereka yang terbunuh di medan perang Uhud dengan darah serta pakaian mereka dan tidak perlu dimandikan dan tidak perlu disembahyangkan”. (Riwayat Al-Bukhari)

Perkara Yang Haram Di Waktu Mandi
  1. Meniarapkan mayat.
  2. Menyentuh kemaluan dengan tidak berlapik.
  3. Melihat aurat antara pusat ke lutut dengan tidak ada sesuatu hajat.
  4. Menceritakan kepada orang lain apa yang dilihat sewaktu memandikan jenazah, seperti hitam mukanya, lebam, berubah baunya dan sebagainya.