Khamis, 18 Julai 2013
Khamis, 11 Julai 2013
Penetapan waktu Imsak
KETETAPAN IMSAK SEBELUM SUBUH
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang
Puji-pujian bagi Allah Subhanahu wata’ala, selawat dan salam keatas junjungan kita Nabi Muhammad saw serta para sahabatnya.
Entah bermula dari tahun berapa, umat Islam di negara kita telah mengenali erti imsak sebelum masuknya waktu subuh selama lebih kurang 10 minit. Tetapi ketetapan imsak dengan erti seperti ini tidak pula diketahui di negara-negara Islam yang lain sama ada di Timur Tengah atau lainnya. Tidak ada sesiapapun di antara kita yang cuba bertanya tentang asal usul imsak ini, apatah lagi untuk mempersoalkannya. Inilah satu sikap tidak baik yang ada pada masyarakat kita iaitu menurut saja apa yang diperkenalkan tanpa usul periksa.
Yang menghairankan ialah institusi-institusi agama di negara kita juga seolah-olah mengesahkannya, justeru ia disebarkan melalui media massa, risalah-risalah, poster-poster, iklan-iklan dan sebagainya dengan begitu meluas sekali. Semuanya menyatakan“waktu berbuka puasa dan imsak atau imsakiah”.
Imsak dalam istilah (makna sebenar) bermaksud, menahan diri daripada makan, minum, jimak dan lain-lain perkara yang membatalkan puasa. Inilah juga imsak yang difahami oleh masyarakat umum daripada waktu imsak yang disiarkan itu.
Tetapi ada juga setengah-setengah kalangan yang terus makan walaupun selepas waktu imsak itu. Tentu pihak lain memandangnya dengan pandangan yang serong dan mungkin tidak sah puasanya dan orang yang melakukan perbuatan itu sendiripun berada dalam keadaan serba salah.
Dari itu, Kita berasa bertanggungjawab membincangkan isu ini secara ilmiah berpandukan kepada Al-Quran dan Al-Sunnah di samping kitab-kitab ulamak yang muktabar dengan harapan umat Islam amnya dan institusi-institusi agama di negara ini akan menilai semula ketetapan imsak sebagaimana yang diamalkan selama ini.
Pertama, Al-Quran dengan jelas mengatakan firman Allah:
“Makan dan minumlah kamu sehingga nyata benang putih (fajar sadiq- permulaan waktu subuh) daripada benang hitam (penghujung waktu malam) iaitu fajar.” (Al-Baqarah: 187)
Ayat ini dengan jelas menyatakan bahawa tidak ada sebarang imsak sebelum masuknya waktu subuh malah Allah menganjurkan supaya kita makan dan minum “hingga” atau “sampai” masuk waktu subuh. Perintah disini mengikut ulamak usul bukan memberi makna wajib walaubagaimanapun paling kurang ia memberi makna harus.
Kedua, hadis sahih jelas menunjukkannya di mana Nabi s.a.w. bersabda,
“Janganlah menahan kamu dari makan dan minum oleh azannya Bilal, tetapi terus makan dan minumlah kamu sehingga Ibnu Ummi Maktum melaungkan azannya (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Para ulamak sepakat mengatakan bahawa Bilal melaungkan azan sebelum masuknya waktu subuh dengan tujuan mengejutkan orang yang tidur supaya bangun bersahur dan Ibnu Ummi Maktum melaungkan azan apabila masuknya waktu subuh.
Di sini tidak disebutkan tentang imsak atau menahan diri daripada makan minum dan sebagainya sebelum masuknya waktu subuh malah ia menganjurkan supaya makan sampai akhir waktu iaitu masuknya waktu subuh.
Ketiga, dalam hadis sahih yang lain Nabi saw bersabda yang mafhumnya
“Umat ini akan sentiasa baik selagi mereka menyegerakan berbuka puasa dan melewatkan bersahur” (Riwayat Imam Ahmad).
Hadis ini juga menerangkan kedua-dua ayat Al-Quran dan Hadis yang tersebut di atas yang bermaksud: Makan dan minum dan sebagainya hingga masuk waktu subuh. Selagi umat ini melakukan demikian mereka berada dalam kebaikan sebaliknya bila mereka meninggalkan amalan-amalan seperti ini mereka tidak lagi berada dalam kebaikan.
Keempat, kita telah meneliti sekurang-kurangnya 30 buah kitab muktabar dalam Mazhab Syafie antaranya Al-Umm, Majmuk Syarah Muhazzab, Al-Iqna’ Al-Mahalli, Hasyiah Al-Bajuri, As-Syarqawi , Bahrul-Mazi, Kasyful Litham dan lain-lain lagi selain daripada kitab-kitab muktabar dalam mazhab-mazhab yang lain tetapi tidak juga kita temui adanya ketetapan imsak sebelum masuknya waktu subuh sebagaimana yang diamalkan oleh masyarakat Islam di Malaysia.
Hairan! Kalau begitu dari manakah puncanya ketetapan imsak ini, dan siapakah orang yang mula-mula memperkenalkannya?Mungkin orang yang menyokong ketetapan imsak ini berhujjah dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bermaksud,
“Kami bersahur bersama Nabi s.a.w. kemudian kami bangun pergi sembahyang, perawi bertanya:” Berapakah jarak diantara bersahur kamu dengan sembahyang? Zaid menjawab: lebih kurang lima puluh ayat” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Ini bermakna (kata mereka) bersahur itu sudah selesai sebelum masuk waktu subuh selama lebih kurang 50 ayat (jika dianggarkan tempohnya lebih kurang 10 minit.) Inilah punca imsak,” kata mereka.
Tetapi pemahaman yang seperti ini tidak benar kerana;
1.Tidak ada seorangpun perawi hadis yang menghuraikan pengertian begitu.
2.Hadis ini ada kemungkinan memberi erti yang lain selain daripada kemungkinan tadi. Ia mungkin memberi erti “tempoh diantara selesai bersahur dengan sembahyang subuh itu adalah lebih kurang 50 ayat. Ini bermakna setelah selesai bersahur azan dilaungkan selepas itu sesiapa yang hendak mengambil wudhu’ bolehlah mengambil wudhu’ kemudian barulah sembahyang subuh. Tempoh di antara azan, wudhu’, sembahyang sunat subuh dan sembahyang subuh itu sendiri adalah lebih kurang 50 ayat.
Sumber: http://www.darulkautsar.com/pemurniansyariat/imsak.htm
(Dipetik dari Siri Risalah Suluhan terbitan Darul Quran Was-Sunnah dengan sedikit pindaan)
Selasa, 2 Julai 2013
Berpuasa Tetapi Meninggalkan Solat
Barangsiapa berpuasa tapi meninggalkan shalat, berarti ia meninggalkan rukun terpenting darirukun-rukun Islam setelah tauhid. Puasanya sama sekali tidak bermanfaat baginya, selama ia meninggalkan shalat. Sebab shalat adalah tiang agama, di atasnyalah agama tegak. Dan orang yang meninggalkan shalat hukumnya adalah kafir. Orang kafir tidak diterima amalnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir. " (HR. Ahmad dan Para penulis kitab Sunan dari hadits Buraidah radhiallahu 'anhu ) At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan shahih, Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menshahihkannya.
Jabir radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
(Batas) antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
(Batas) antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Tentang keputusan-Nya terhadap orang-orang kafir, Allah berfirman :
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. "(Al-Furqaan: 23).
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. "(Al-Furqaan: 23).
Maksudnya, berbagai amal kebajikan yang mereka lakukan dengan tidak karena Allah, niscaya Kami hapus pahalanya, bahkan Kami menjadikannya sebagai debu yang beterbangan.
Demikian pula halnya dengan meninggalkan shalat berjamaah atau mengakhirkan shalat dari waktunya. Perbuatan tersebut merupakan maksiat dan dikenai ancaman yang keras. Allah Ta'ala berfirman:
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. " (Al-Maa'un: 4-5).
Demikian pula halnya dengan meninggalkan shalat berjamaah atau mengakhirkan shalat dari waktunya. Perbuatan tersebut merupakan maksiat dan dikenai ancaman yang keras. Allah Ta'ala berfirman:
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. " (Al-Maa'un: 4-5).
Maksudnya, mereka lalai dari shalat sehingga waktunya berlalu. Kalau Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengizinkan shalat di rumah kepada orang buta yang tidak mendapatkan orang yang menuntunnya ke masjid, bagaimana pula halnya dengan orang yang pandangannya tajam dan sehat yang tidak memiliki udzur.?
Berpuasa tetapi dengan meninggalkan shalat atau tidak berjamaah merupakan pertanda yang jelas bahwa ia tidak berpuasa karena mentaati perintah Tuhannya.Jika tidak demikian, kenapa ia meninggalkan kewajiban yang utama (shalat)? Padahal kewajiban-kewajiban itu merupakan satu rangkaian utuh yang tidak terpisah-pisah, bagian yang satu menguatkan bagian yang lain.
Catatan Penting:
- Setiap muslim wajib berpuasa karena iman dan mengharap pahala Allah, tidak karena riya' (agar dilihat orang), sum'ah (agar didengar orang), ikut-ikutan orang, toleransi kepada keluarga atau masyarakat tempat ia tinggal. Jadi, yang memotivasi dan mendorongnya berpuasa hendaklah karena imannya bahwa Allah mewajibkan puasa tersebut atasnya, serta karena mengharapkan pahala di sisi Allah dengan puasanya.
Demikian pula halnya dengan Qiyam Ramadhan (shaiat malam/tarawih), ia wajib menjalankannya karena iman dan mengharap pahala Allah, tidak karena sebab lain. Karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, barangsiapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu danbarangsiapa melakukan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahalaAllah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Muttafaq 'Alaih). - Secara tidak sengaja, kadang-kadang orang yang berpuasa terluka, mimisan (keluar darah dari hidung), muntah, kemasukan air atau bersin di luar kehendaknya. Hal-hal tersebut tidakmembatalkan puasa. Tetapi orang yang sengaja muntah maka puasanya batal, karenaRasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha' atasnya, Ctetapi) barangsiapa sengaja muntah maka ia wajib mengqadha' puasanya. " (HR.Imam Lima kecuali An-Nasa'i) (Al Arna'uth dalam Jaami'ul Ushuul, 6/29 berkata : "Hadits ini shahih.")
- Orang yang berpuasa boleh meniatkan puasanya dalam keadaan junub (hadats besar), kemudian mandi setelah terbitnya fajar. Demikian pula halnya dengan wanita haid, atau nifas, bila sudi sebelum fajar maka ia wajib berpuasa. Dan tidak mengapa ia mengakhirkan mandi hingga setelah terbit fajar, tetapi ia tidak boleh mengakhirkan mandinya hingga terbit matahari. Sebab ia wajib mandi dan shalat Shubuh sebelum terbitnya matahari, karena waktu Shubuh berakhir dengan terbitnya matahari.
Demikian pula halnya dengan orang junub, ia tidak boleh mengakhirkan mandi hingga terbitnya matahari. Ia wajib mandi dan shalat Shubuh sebelum terbit matahari. Bagi laki-laki wajib segera mandi, sehingga ia bisa mendapatkan shalat jamaah.
- Di antara hal-hal yang tidak membatalkan puasa adalah: pemeriksaan darah, (Misalnya dengan mengeluarkan sample (contoh) darah dari salah satu anggota tubuh) suntik yang tidak dimaksudkan untuk memasukkan makanan. Tetapi jika memungkinkan- melakukan hal-haltersebut pada malam hari adalah lebih baik dan selamat, sebab Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda :
"Tinggalkan apa yang membuatmu ragu, kerjakan apa yang tidak membuatmu ragu. " (HR. An- Nasa'i dan At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih)Dan beliau juga bersabda :
"Barangsiapa menjaga (dirinya) dari berbagai syubhat maka sungguh dia telah berusaha menyucikan agama dan kehormatannya." ( Muttafaq 'Alaih)Adapun suntikan untuk memasukkan zat makanan maka tidak boleh dilakukan, sebab hal itutermasuk kategori makan dan minum. (Lihat kitab Risaalatush Shiyaam, oleh Syaikh AbdulAzis bin Baz, hlm. 21-22)
- Orang yang puasa boleh bersiwak pada pagi atau sore hari. Perbuatan itu sunnah,sebagaimana halnya bagi mereka yang tidak dalam keadaaan puasa.
Isnin, 1 Julai 2013
Doa Akhir Syaaban dan Doa Awal Ramadhan
بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
Umat Islam bakal meninggalkan bulan Syaaban dan akan menjelang Bulan Ramadhan al-Mubarak pula. Maka eloklah membaca ‘Doa Meninggalkan Hari Terakhir Bulan Syaaban’ dan ‘Doa Menyambut Bulan Ramadhan’ berikut bagi memantapkan keimanan kita;
“Ya Allah! Sesungguhnya bulan ini adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an dan dijadikan petunjuk bagi manusia, penjelasan dari petunjuk dan perselisihan. Bulan Ramadhan telah datang, maka selamatkan kami di dalamnya, salurkan kedamaiannya pada kami, jadikan ia keselamatan bagi kami dalam kemudahan dan keselamatan dari-Mu. Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan mensyukuri yang banyak, terimalah amalku yang sedikit ini.
Ya Allah! Daku memohon kepada-Mu, jadikan bagiku jalan pada semua kebaikan, dan penghalang dari semua yang tidak Dikau cintai, wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi. Wahai Yang Memaafkan kesalahanku dan keburukan yang kusembunyikan. Wahai Yang Tidak menyiksaku kerana perbuatan maksiatku, maafkan daku, maafkan daku, maafkan daku wahai Yang Maha Mulia.
Tuhanku! Dikau sedarkan daku, tapi daku belum juga menyedarinya. Dikau halau daku dari larangan-Mu, tapi daku belum juga terhalau, lalu apalagi alasanku, maafkan daku wahai Yang Maha Mulia, maafkan daku, maafkan daku!!!
Ya Allah! Daku memohon kepada-Mu kedamaian saat kematian menjemputku, dan maafkan daku ketika amalku dihisab. Besar sudah dosa hamba-Mu ini, maka ampuni daku dengan ampunan yang baik dari sisi-Mu wahai Yang Maha Menjaga dan Maha Mengampuni, maafkan daku, maafkan daku.
Ya Allah! Daku adalah hamba-Mu putera hamba-Mu, yang lemah dan perlu pada rahmat-Mu. Sementara Dikau Yang Menurunkan kekayaan dan keberkahan kepada semua hamba-Mu, Dikau Maha Perkasa dan Maha Kuasa, Dikau menghitung semua amal mereka, Dikau yang membagikan rezeki mereka. Dikau ciptakan mereka berbeza-beza dalam bahasa dan kulit dari generasi ke generasi berikutnya. Hamba-Mu tak akan mampu mengetahui semua ilmu-Mu, hamba-Mu tak akan mampu menolak takdir-Mu. Kami semua perlu pada rahmat-Mu, maka jangan palingkan wajah-Mu dariku, jadikan daku tergolong pada hamba-Mu yang soleh dalam amal dan keinginan, dalam ketetapan dan takdir-Mu.
Ya Allah! Hidupkan daku dalam kehidupan yang paling baik, dan matikan daku dalam kematian yang terbaik mengikuti para kekasih-Mu dan menjauhi musuh-musuh-Mu, takut dan patuh pada-Mu, memenuhi dan menerima perintah-Mu, membenarkan kitab-Mu dan mengikuti sunnah Rasul-Mu.
Ya Allah! Semua yang ada dalam hatiku: keraguan, penentangan, keberputus-asaan, kesenangan yang berlebihan, kesombongan, keangkuhan ketika mendapat nikmat, prasangka buruk, riya’ atau suka pujian, permusuhan, kemunafikan atau kekufuran, kefasikan atau kemaksiatan, atau kebanggaan, atau sesuatu yang lain yang tidak Dikau redhai.
Kerana itu, daku memohon kepada-Mu, gantikan semua itu dengan keimanan pada janji-Mu, mematuhi perintah-Mu, redha pada ketentuan-Mu, kehidupan zuhud di dunia, harapan pada yang ada di sisi-Mu, kedamaian dan taubat yang sebenarnya; daku memohon semua itu kepada-Mu Ya Rabbal ‘alamin.
Tuhanku! Dikau dikianati dan dicurangi kerana kelembutan-Mu, Dikau ditaati kerana kemuliaan dan kedermawanan-Mu, seolah-olah Dikau tidak pernah dicurangi olehku dan oleh seluruh penghuni bumi. Maka jadilah Dikau bagi kami Yang Maha Pemurah dengan segala karunia-Mu, Yang Maha Perihatin dengan segala kebaikan-Mu. Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi!
Semoga selawat sentiasa tercurahkan kepada Muhammad SAW dan keluarganya, selawat yang abadi yang tak terhitung jumlahnya dan tak terukur nilainya oleh selain-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi!”
.
(Petikan dari kitab Mafatihul Jinan, bab 2, pasal 2)
.
.
Doa Menyambut Ramadhan 2
.
Salah satu cara terbaik untuk menyambut masuknya bulan suci Ramadhan al-Mubarak adalah dengan berdoa. Satu lagi riwayat para sahabat, Rasulullah SAW telah membaca Doa Menyambut Ramadhan berikut :
.
“Ya Allah, telah tiba bulan Ramadhan. Wahai Tuhan pemilik bulan Ramadhan, Dikau telah menurunkan Al-Qur’an di dalamnya dan telah menjadikannya sebagai penjelasan atas petunjuk dan perbezaan antara yang hak dan yang batil. Wahai Tuhan kami, berkatilah kami di dalamnya dan bantulah kami dalam melaksanakan puasa dan menunaikan solat di dalamnya. Terimalah amal-amal kami di bulan ini.
Ya Allah, segala puji bagiMu yang telah membimbing kami untuk memujiMu supaya kami mengerti bersyukur atas segala kebaikanMu dan supaya Dikau membalas kami dengan balasan yang Dikau berikan pada mereka yang berbuat kebajikan.
Segala puji bagi Allah yang menganugerahi kami dengan agamaNya, mengistimewakan kami dengan millahNya dan menunjukkan kami jalan-jalan kebaikanNya, dengan pujian yang Dia terima dari kita dan membuatNya redha kepada kita.
Segala puji bagi Allah yang menjadikan di antara jalan-jalan (kebaikanNya) adalah bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan Islam, bulan kesucian, bulan pembersihan, bulan menegakkan solat malam, bulan yang di dalamnya Al Qur’an diturunkan sebagai penyuluh dan penjelasan petunjuk dan pembeza bagi manusia. (QS Al Baqarah: 185).
Dia menjelaskan keutamaan bulan ini melebihi semua bulan dengan menjadikannya berlimpah dengan kesucian dan bertabur dengan fadhilah. Dia mengharamkan di bulan ini yang dihalalkan di bulan lain sebagai pengagungan untuknya. Dia larang di bulan ini makan dan minum sebagai penghormatan untuknya. Dia jadikan di bulan ini waktu-waktu tertentu (saat sahur dan buka) yang tidak boleh didahulukan dan tidak boleh diakhirkan.
Lalu, Dia muliakan satu malam di antara malam-malam bulan ini melebihi malam-malam seribu bulan. Dia namakan malam itu dengan malam Lailatul Qadar. Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, menebar kedamaian (bagi mereka) (QS al-Qadr:4-5) terus-menerus dan menaburkan keberkahan sampai terbit fajar kepada siapa saja dikehendaki dari para hamba Allah sesuai dengan ketentuan dan ketetapanNya.
Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya dan ilhamkan kepada kami untuk mengenal kebesarannya (Ramadhan), mengagungkan kesuciannya, menjaga apa yang dilarangnya. Bantulah kami untuk menjalankan puasanya dengan menahan anggota badan dari dehaka kepadaMu dan menggunakannya untuk segala apa yang Dikau redhai.
Telinga-telinga kami tidak sampai mengarah pada sia-sia, mata-mata kami tidak terpusat pada kealpaan, tangan-tangan kami tidak kami hulurkan pada larangan, kaki-kaki kami tidak kami langkahkan pada keburukan, perut-perut kami tidak kami isi kecuali dengan yang Dikau halalkan, lidah-lidah kami tidak berbicara kecuali yang Dikau contohkan. Kami tidak melakukan kecuali yang mendekatkan pahalaMu dan kami tidak mengerjakan kecuali yang dapat menghindarkan kami dari siksaMu.
Maka bersihkanlah semua (amal-amal) itu dari sifat riak dan dari membangga diri. Di bulan ini kami tak akan menyekutukanMu dengan siapapun dan tidak akan mencari kerinduan selain kepadaMu.
Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya. Bantulah kami di bulan Ramadhan untuk menjaga waktu-waktu solat yang lima dengan hukum-hukumnya yang telah Dikau tentukan, fardhu-fardhunya yang Dikau fardhukan, tugas-tugasnya yang Dikau tugaskan, dan waktunya yang Dikau tetapkan.
Di dalam solat kami naikkan kami ke tingkatan orang yang memelihara tahap-tahapnya, menjaga rukun-rukunnya, melakukannya pada waktu yang sesuai dengan apa yang disunahkan hambaMu, RasulMu SAW, dalam ruku’nya, sujudnya, dan semua geraknya, dengan kesucian yang paling tinggi dan paling sempurna, dengan kekhusyuakn yang paling nyata.
Dalam bulan ini, bantulah kami untuk menyambungkan persaudaraan dengan kebajikan dan kekeluargaan, memperhatikan jiran kami dengan bantuan dan pemberian, membebaskan harta kami dari tuntutan, membersihkannya dengan mengeluarkan zakat, mendekatkan lagi orang yang menjauhi kami, memperlakukan dengan adil orang yang menyakiti kami, berdamai dengan orang yang memusuhi kami, kecuali dalam permusuhan yang semata-mata keranaMu dan untukMu, kerana dialah musuh yang tidak kami senangi dan golongan yang tidak kami sukai.
Dalam bulan ini, bantulah kami untuk mendekatkatiMu dengan amal-amal suci yang membersihkan dosa-dosa kami dan menjaga kami dari mengulangi kecelaan, sehingga para malaikatMu tidak lebih banyak memasuki pintu-pintu ketaatan dan macam-macam peribadatan daripada yang kami persembahkan untukMu.
Ya Allah, daku bermohon kepadaMu demi hak bulan ini, demi hak siapa saja yang menyembahMu, sejak permulaannya sampai waktu kematiannya, para malaikat yang Dikau dekatkan, para nabi yang Dikau kirim, para hamba soleh yang Dikau istimewakan, sampaikanlah selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya. Di bulan ini, jadikanlah kami orang yang layak menerima anugerah yang Dikau janjikan kepada para kekasihMu, yang Dikau pastikan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh beribadah kepadaMu. Tempatkan kami dalam kelompok orang yang berhak mendapat tempat paling mulia dengan rakhmatMu.
Ya Allah, sampaikanlah selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya, jauhkanlah kami dari ketergelinciran dalam bertauhid kepadMu, kekurangan dalam memujiMu, keraguan terhadap agamaMu, keburukan dari jalanMu, kelalaian akan kesucianMu, ketertipuan oleh musuhMu, setan yang terkutuk!
Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya. Jika pada malam-malam bulan ini ada hamba yang tengkuknya dibebaskan dengan ampunanMu atau dianugerahi maafMu, tempatkan kami pada kelompok dan orang yang terbaik di bulan ini.
Ya Allah, hilangkan dosa-dosa kami bersamaan dengan hilangnya bulan sabit Ramadhan, lepaskan beban-beban kami bersamaan dengan berlalunya hari-harinya, sehingga ketika bulan ini meninggalkan kami, Dikau telah membersihkan kami deri kesalahan, Dikau sudah melepaskan kami dari keburukan.
Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya, jika kami di bulan ini menyimpang, luruskanlah; jika kami tergelincir, tegakkanlah; jika syaitan musuh kami mencengkeram, selamatkanlah kami.
Ya Allah, penuhi bulan ini dengan pengabdian kami kepadaMu, hiasi waktu-waktunya dengan ketaatan kami kepadaMu, bantulah kami pada waktu siangnya dengan puasa dan malamnya dengan solat khusyuk, tunduk dan merendah kepadaMu. Sehingga siangnya tidak menyaksikan kami dalam kelalaian, malamnya tidak melihat kami dalam kealpaan. Ya Allah, jadikan kami seperti ini juga di bulan-bulan lain, sepanjang Dikau hidupkan kami.
Jadikan kami di antara hamba-hambaMu yang soleh yang menwarisi Firdaus dan kekal di dalamnya (QS Al Mukminun:11), yang memberikan apa yang mereka berikan dalam keadaan gemetaran (mengetahui) bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan, mereka termasuk orang-orang yang berlumba-lumba mendapat kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehinya.
Ya Allah, sampaikan selawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya pada setiap waktu dan saat, pada segala keadaan, sebanyak selawat yang Dikau berikan kepadanya dan gandakan selawat itu dengan kelipatan yang hanya Dikau yang dapat menghitungnya. Sungguh Dikau melakukan apa yang Dikau kehendaki.”
.
*) Syaikh Rakhiuddin, Iqbal al-A’mal, Muassasah al-A’la Li al-Mathbu’at, Beirut, 1996, hal. 322.
.
.
والله أعلم بالصواب
Wallahu A’lam Bish Shawab
(Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)
Langgan:
Ulasan (Atom)